Kepala Dinas Pendidikan Aceh dan juga Pendiri Yayasan Yayasan Tuah Singkil Raya, Drs. H. Rachmat Fitri HD, MPA. (Foto/Ist)

PM, Singkil – Yayasan Tuah Singkil Raya berencana membangun Dayah Modern Vokasi di Aceh Singkil. Rachmat Fitri, pendiri yayasan yang juga Kepala Dinas Pendidikan Aceh ini mengaku rencana itu terinspirasi dari sejarah Singkil sebagai kawasan strategis perdagangan maupun pusat penyebaran agama Islam di masa silam.

Sebagai langkah awal, pihaknya telah memugar lahan seluas 17 hektar di Desa Ketapang Indah, Kecamatan Singkil Utara. Di lokasi ini pula, ujar Rachmat Fitri, pernah dibangun beberapa sarana pendidikan oleh Pemerintahan Aceh pada 2010 silam. Di dalamnya terdapat sebuah mesjid, ruang kelas belajar, ruang kantor dan rumah guru.

“Pembangunan tersebut dicanangkan akan menjadi lembaga pendidikan internasional, rencana sekolah bertaraf internasional (RSBI) pada masa bupati Makmur Syahputra, yang belakangan ini terbengkalai,” ulas Rachmat, Minggu (11/10/2020).

Lokasi ini terbilang strategis dan kondusif, karena tidak berdekatan dengan pusat keramaian. Selain itu letaknya berdampingan dengan komplek militer Kodim 0109 Aceh Singkil.

Targetnya, kawasan tersebut akan menjadi sekolah berbasis pesantren atau pesantren vokasi. Kata dia, konsep tersebut merupakan wadah pendidikan yang dibutuhkan masyarakat saat ini. “Ada dua hal yang menjadi perhatian masyarakat, yakni tantangan global dan pendidikan karakter, ini yang akan kita padukan,” ujarnya.

Salah satu gagasan besarnya, dayah tersebut akan menjadi pusat pengkajian Ilmu Falak (astronomi) di Provinsi Aceh. Diketahui, Ilmu Falak merupakan cabang ilmu yang mengkaji tentang benda-benda langit sangat terkait erat dengan ibadah umat Islam, yaitu terkait penentuan arah kiblat, waktu-waktu shalat, penentuan kapan dan dimana terjadinya gerhana, serta yang paling utama, yakni penentuan awal puasa dan hari raya.

Pihaknya juga berkomitmen ingin menggaungkan kembali dua ulama besar Aceh yang lahir di tanah Singkil, yakni Syaikh Abdurrauf As-Singkily dan Syaikh Hamzah Al-Fansuri. Kata Rachmat, sejauh ini belum ditemukan keseriusan dalam mengkaji karya hebat dari ulama ini.

“Begitu pula pada negara belum ada perhatian khusus, sementara di luar negeri karya ini sangat dianggap berharga dan patut dipelajari,” tuturnya.

Pendirian dayah vokasi ini, lanjut Rachmat, diyakini bisa mengembalikan kiprah Singkil sebagai sentral pendidikan di Provinsi Aceh. “Itu sebabnya, dalam andil mewujudkan tujuan, harapan dan gagasan, kami mengharapkan dukungan dan partisipasi pemerintah, tokoh agama dan segenap lapisan masyarakat. Hal ini merupakan cita-cita besar dan dibutuhkan kerjasama serta kepedulian bersama,” pungkasnya. (*)

Komentar