Banda Aceh – Refleksi dua tahun Pemerintah Aceh di bawah kepemimpinan Zaini Abdullah-Muzakir manaf (ZIKIR), banyak kalangan menilai telah gagal membawa Aceh menuju kesejahteraan sebagaimana termaktub dalam visi-misi mereka.

Hal ini sebagaimana mengemuka dalam diskusi qou vadis pembangunan Aceh ‘Retorika atau Realita’ yang diselenggarakan Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh, Senin (7/7) di Ring Road Cafe, Banda Aceh sekira pukul 17.00 WIB sampai menjelang buka puasa.

Kritikan tajam dilontarkan oleh Dekan Fakultas Ekonomi Muhammadiyah, Ali Amin yang bertindak sebagai narasumber menyoroti Pemerintah Aceh selama kepemimpinan ZIKIR kemiskinan di Aceh meningkat. Demikian juga pertumbuhan ekonomi di Aceh menurun drastis dibanding kepemimpinan Pemerintah Aceh sebelumnya.

Menurut data yang disampaikan oleh Ali Amin yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) menyebutkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 6,06 persen. Kemudian pada tahun 2012 turun menjadi 4,30 persen, baru pada Juni 2014 naik hanya menjadi 5,21 persen.

“Ini jelas setelah ZIKIR 25 Juni 2012 dilantik, pertumbuhan ekonomi 18,58 persen kemudian turun drastis pada tahun 2013 17,60 persen,” jelasnya.

Sedangkan angka kemiskinan pada tahun 2012, katanya sebanyak 18,58 persen turun dan pada tahun 2013 relatif turun menjadi 17,60 persen. Akan tetapi pada tahun 2014 justru kembali meningkat penduduk miskin di Aceh mencapai 18,05 persen.

Ali Amin menambahkan, peringkat kemiskinan Aceh menduduki pada urutan kelima di Indonesia. Peringkat pertama termiskin Papua, kedua Papua Barat, ketiga Maluku, keempat Nusa Tenggara Timur dan kelima Aceh.

“Jadi selama kepemerintahan ZIKIR, peringkat kemiskinan di Aceh meningkat menjadi peringkat kelima sekarang di Indonesia,” tukasnya.

[PM-001]

Komentar