PM, Tapaktuan—Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Selatan, Yulizar SP MM mengatakan, untuk menyukseskan program tanam padi serentak di seluruh kecamatan pada musim tanam tahun 2015/2016, pihaknya membutuhkan peralatan pengolahan lahan berupa traktor tangan (handtractor) sebanyak 1.500 unit, guna menekan biaya pengolahan lahan sekecil mungkin sehingga tidak membebani petani.

“Luas lahan persawahan produktif di Kabupaten Aceh Selatan mencapai 15.000 hektar. Untuk menyukseskan program tanam padi serentak dibutuhkan 1.500 unit handtraktor standar. Saat ini Dinas Pertanian Aceh Selatan hanya memiliki 333 unit handtraktor baik dalam kondisi siap pakai maupun rusak. Jumlah ini belum maksimal untuk menggarap lahan secara serentak. Kendatipun demikian, kami tetap mengupayakan program ini berjalan sukses,” katanya di Tapaktuan, Rabu (26/8).

Menurut Yulizar, kebutuhan sebanyak 1.500 unit handtractor itu merupakan hal yang mendesak dan sangat penting saat ini dalam rangka menyukseskan program Ketahanan Pangan menuju Indonesia swasembada pangan yang telah dicanangkan oleh Presiden Jokowi beberapa waktu lalu.

“Dengan adanya penambahan fasilitas handtractor mencapai 1.500 unit lagi itu, kami meyakini bahwa sangat membantu petani dalam menekan biaya yang dikeluarkan untuk membajak sawah. Dengan demikian para petani merasa tertarik dan tambah semangat bekerja,” ucapnya.

Dia menjelaskan, kebutuhan biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk pengolahan sawah mencapai Rp 1,8 juta/hektar. Untuk membantu para petani agar program tanam serentak berjalan sukses, Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra SH telah meminta kepada pihaknya agar biaya yang dikeluarkan itu dapat ditekan serendah mungkin minimal menjadi Rp 1 juta/hektar.

“Untuk menggalakkan dan menyukseskan program tanam padi serentak, bapak bupati meminta agar biaya itu dapat ditekan serendah mungkin minimal menjadi Rp 1 juta/hektar untuk sekali olahan.  Kondisi ini tentunya dapat meringankan beban petani sehingga tumbuh spirit tanam padi lima kali dalam dua tahunan sehingga produksi gabah meningkat,” imbuhnya.

Diakuinya, meskipun untuk mengadakan sebanyak 1.500 unit handtraktor itu bukan perkara mudah karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun berbagai upaya terus dilakukan oleh pihaknya baik dengan cara melobi anggaran ke pusat sumber APBN maupun mengupayakan agar kebutuhan anggaran itu dapat diakomodir dalam usulan anggaran APBA/Otsus atau APBK ke depannya.

Namun demikian, sambung Yulizar, untuk sementara waktu ini para petani di Aceh Selatan dapat berbangga hati atau gembira karena sambil menunggu terealisasinya kebutuhan handtraktor sebanyak 1.500 unit itu, saat ini pihaknya telah menerima sebanyak 3 unit handtraktor berkapasitas 4 WD dan 3 unit handtraktor standar bantuan dari Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Aceh.

“Dengan telah adanya tambahan fasilitas alat pengolahan lahan ini, kami mengharapkan semoga program tanam padi serentak dimasa akan datang dapat berlangsung sukses. Sebab satu-satunya jurus jitu untuk menangkal serangan hama di sawah adalah melalui pelaksanaan tanam padi serentak,” tandasnya.

[PM002]

Komentar