PM, Bireuen—Seorang tervonis perkara jarimah maisir (perjudian), Nasril bin Harun (44),  warga Geudong-Geudong, Kota Juang, Bireuen, tumbang setelah menjalani hukuman cambuk dengan rotan tujuh kali di halaman Masjid Sultan Jeumpa, Rabu (26/8/2015) sore.

Selain Nasril Bin Harun, lima tervonis lain yang melanggar Qanun Syariat Islam No.7/2013 itu yaitu Rafiqi bin Nurdin, warga Bireuen Meunasah Dayah, Bachtiar bin Hasan, warga Desa Kuala Jeumpa, Iskandar bin M Jamil, warga Blang Bladeh , dan Usman bin Ahmad, warga Blang Bladeh, serta Junaidi bin M Yusuf, waga Balng Bladeh.

Para terpidana maisir yang dieksekusi cambuk di halaman masjid tersebut divonis terlibat perjudian taruhan bus lintasan Medan-Banda Aceh di kawasan persimpangan Kayee Jato, Bireuen, menjelang malam hari.

Sebelum pelaksaan cambuk tersebut,  Asisiten I Setda Bireuen Drs Murdani yang mewakili Bupati Bireuen mengatakan, hukuman cambuk yang dilaksanakan itu merupakna bentuk hukuman yang diberikan kepada pelanggar Sayriat Islam. “Kepada para terpidan hukuman cambuk saupaya menjadi hal ini sebagai pelajaran yang paling berharga, mudah-mudahan tidak terulang lagi di masa mendatang,” katanya.

Sementara itu, Tgk Faisal Hadi dalam arahan singkatanya mengatakan maisir adalah kegiatan atau perbuatan yang bersifat taruhan yang dilakukan antara dua pihak atau lebih, dimana pihak yang menang mendapat bayaran. “Perbuatan ini merupakan salah satu perbuatan mungkar Islam,” ujarnya.

Tgk Faisal Hadi juga meminta agar penegak hukum dan pihak WH tidak hanya menangkap pelaku pejudian taruhan, sebab masih banyak pelanggaran syariat Islam di Bireuen belum terjamah seperti judi togel di sejumah warung, taruhan bola dan sebagainya.

Sejumlah warga yang menyaksikan hukuman cambuk di Masjid Sultan Jeumpa sempat berujar, pihak Dinas Syariat Islam dan WH Bireuen hanya berani menangkap pejudian kecil. “Sementara judi togel yang sangat terang-terangan di sejumlah warkop di kota Bireuen tidak berani dilakukan razia atau ditangkap untuk dilakukan hukuman cambuk,” celoteh warga.

[PM002]

Komentar