PM, TAPAKTUAN – Saluran irigasi yang baru selesai dibangun akhir tahun 2017 lalu sepanjang sekitar 1,7 Km, di Gampong Lawe Cimanok, Kecamatan Kluet Timur, rusak. Beberapa meter saluran irigasi yang dibagun dengan anggaran APBK 2017 tersebut sudah patah.

Akibatnya, puluhan hektar lahan persawahan milik masyarakat di pedalaman Kecamatan Kluet Timur, mengalami krisis air karena fasilitas infrastruktur saluran irigasi yang telah dibangun Pemkab setempat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) terlantar begitu saja tidak bisa dimanfaatkan untuk mengaliri air ke lahan persawahan.

Keuchik Gampong Lawe Cimanok, Muhammad Haria mengatakan, pembangunan proyek saluran irigasi senilai Rp 1,7 Miliar tersebut sejak dari perencanaan awal amburadul. Sehingga fasilitas infrastruktur yang telah menyedot anggaran daerah cukup besar tersebut tidak bisa dimanfaatkan untuk mengaliri air ke lahan persawahan.

Sebab, kata dia, lokasi pembangunan proyek saluran irigasi sepanjang 1,7 Km tersebut bukan merupakan jalur saluran irigasi yang direkomendasikan masyarakat setempat. Celakanya lagi, konstruksi saluran irigasi yang telah dibangun tersebut justru lebih rendah dari hamparan persawahan milik petani. Sehingga, jikapun saluran irigasi dimaksud difungsikan tetap tidak mampu mengaliri atau menyuplai air secara maksimal ke lahan sawah.

“Sebelumnya telah ada kesepakatan musyawarah masyarakat di Gampong Lawe Cimanok, rencana pembangunan proyek saluran irigasi tersebut telah disiapkan dilokasi lain yang dinilai lebih strategis. Namun saat dilakukan survey oleh petugas dari dinas terkait, kebetulan saya lagi berada di luar daerah. Ketika persoalan itu dipertanyakan kembali, pihak dinas berdalih gambar proyek telah selesai dan pekerjaannya tetap dilakukan dilokasi yang sekarang,” kata Muhammad Haria kepada wartawan di Tapaktuan, Rabu (14/3).

Selain lokasinya dinilai tidak strategis, masyarakat setempat juga menyesalkan proses pekerjaan proyek tersebut tidak dimulai dari pembuatan tapak pondasi lalu ditimbun dengan material tanah supaya letak saluran irigasi lebih tinggi dari hamparan sawah.

“Seharusnya ditimbun dulu agar letaknya lebih tinggi, sehingga masyarakat yang ingin mengaliri air ke lahan sawahnya tinggal membuat pintu air atau saluran-saluran kecil. Karena letaknya lebih rendah, maka selama ini dari sekitar 80 hektar lebih lahan persawahan di Lawe Cimanok, hanya sekitar 2 hektar yang bisa memanfaatkan saluran irigasi tersebut,” sesalnya.

Lanjutnya, pasca bangunan saluran irigasi tersebut patah sepanjang lebih kurang 50 meter akibat dihantam banjir baru-baru ini, kondisinya sekarang dipastikan saluran irigasi itu benar-benar tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh petani.

Untuk mendapatkan suplai air ke lahan sawahnya, masyarakat setempat terpaksa memfungsikan lagi saluran drainase yang mengaliri air ke lahan persawahan secara tradisional.

“Untuk kebutuhan suplai air ke lahan sawah, masyarakat kembali menggunakan cara lama (tradisional) dengan memanfaatkan saluran drainase yang ada. Meskipun tetap bisa membajak sawah dan menanam padi, tapi cara-cara tradisional ini tetap tidak mampu mencukupi kebutuhan suplai air secara maksimal,” ujarnya.

Karena itu, Muhammad Haria mengharapkan kepada Pemkab Aceh Selatan segera memperbaiki kembali saluran irigasi yang telah rusak. Mereka meminta, langkah perbaikan yang akan dilakukan tidak saja pada bagian bangunan yang telah patah sepanjang 50 meter, tapi hendaknya direnovasi kembali bangunan proyek tersebut secara menyeluruh sehingga suplai air dapat mengalir secara lancar ke lahan persawahan masyarakat.

“Kami sangat mengharapkan saluran irigasi tersebut segera diperbaiki kembali, sebab sayang anggaran daerah yang begitu besar untuk membangun proyek tersebut terbuang percuma. Hendaknya program yang telah dilaksanakan tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat bukan justru setelah dibangun terlantar begitu saja,” pintanya.

Camat Kluet Timur, Moeriadi yang dihubungi dari Tapaktuan mengaku belum menerima laporan terkait telah rusak dan tidak berfungsinya saluran irigasi di Gampong Lawe Cimanok tersebut. “Belum saya terima laporannya. Nantilah coba saya cek dulu sama Keuchik Lawe Cimanok,” ujarnya singkat.

Kepala Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Selatan, Surya Rahmadi membenarkan bahwa proyek saluran irigasi di Gampong Lawe Cimanok, Kecamatan Kluet Timur telah rusak akibat dihantam banjir baru-baru ini. Tapi berdasarkan hasil peninjauan mereka, bangunan proyek tersebut yang patah hanya sekitar 20 meter.

“Yang patah itu hanya sekitar 20 meter dan itu murni disebabkan karena dihantam banjir baru-baru ini,” kata dia.

Menurutnya, kerusakan proyek tersebut akan diperbaiki kembali oleh kontraktor pelaksananya dalam waktu dekat. Pihaknya bersama Kadis PUPR telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi dimaksud beberapa waktu lalu.()

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh