Suasana di Warung Jameuen Kupi, kafe dengan suguhan tradisional di Desa Cot Bada, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh. (Foto/Salma)
Suasana di Warung Jameuen Kupi, kafe dengan suguhan tradisional di Desa Cot Bada, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh. (Foto/Salma)

PM, Bireuen – Hembusan angin dan kicauan burung di dalam sangkar menghangatkan suasana sore di Warung Jameuen Kupi di Desa Cot Bada, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh.

Warung Jameuen Kupi merupakan salah satu tempat nongkrong yang menawarkan suasana berbeda. Pelanggan disuguhkan nuansa Aceh beberapa dekade lalu, sehingga membawa suasana ngopi menjadi tenang dengan sentuhan tradisional.

“Kalau orang lain mengejar untuk semakin modern, saya nggak, saya justru suka hal-hal yang ada di zaman dulu,” kata Owner Warung Jameuen Kupi, Khairul Nazli, Minggu (27/12/2020).

Artikel Terkait:

Warung Jameuen Kupi baru dibuka sebulan setengah yang lalu. Khairul mengaku, ia membuka warung itu setelah usaha distro miliknya mengalami penurunan penjualan selama pandemi. Properti warung kopi yang dipakai semuanya barang jadul yang ia beli khusus dan dikoleksi.

Seperti, Motor Astrea 80-an usang yang dipajang persis di gapura, atau sepeda ontel dan TV hitam putih yang juga terpampang di sisi warung.

Sederet menu makanan dan minuman yang tersedia di Warung Jameuen Kupi. (Foto/Salma)
Sederet menu makanan dan minuman yang tersedia di Warung Jameuen Kupi. (Foto/Salma)

Hidangan yang disajikan di Jameuen Kupi juga merupakan hidangan zaman dulu. Seperti Ie Raminet (air limun), jagung dan pisang teukeurabee ngon u, bandret, gorengan, dan Mie Aceh. Buah-buahan segar seperti salak, pisang, nanas, dan rambutan juga tersedia dalam tampah berukuran kecil.

Pengunjung tidak disediakan buku menu. Ini sesuai dengan konsep warung kopi zaman dulu,  datang dan langsung memesan makanan. Meskipun demikian, pelayan di sana akan senang hati menyebutkan sederet nama hidangan yang tersedia.

Selain itu, aturan warung ini juga menyesuaikan dengan masyarakat di kampung. Dari sebuah papan pengumuman yang dipajang di depan pintu masuk terdapat sejumlah aturan. Di antaranya larangan berdua-duaan bagi pasangan non muhrim, lalu pengunjung perempuan hanya dibolehkan berada di warung hingga pukul 18.00 WIB. Selain itu, setiap malam Senin warung akan tutup, sesuai jadwal pengajian di desa itu.

“Jadi di sini konsepnya punya zaman dulu, yang tenang-tenang aja. Jadi orang di kota yang udah banyak kesibukan, ke sini untuk menghilangkan penat,” katanya.

Sementara itu, hidangan yang dijual Warung Jameuen Kupi sangat terjangkau. Untuk Ie Raminet atau air limun dijual seharga Rp 7.000, sedangkan kopi harganya standar layaknya warung-warung di kampung. Sementara untuk makanan seperti gorengan dan buah-buahan dijual Rp 1.000 per satuannya.

Suguhan Lampau untuk Generasi Milenial

Khairul menyebutkan, sebelumnya air limun sudah jarang ditemui. Namun semenjak warungnya mulai dikunjungi berbagai kalangan, mulai anak muda hingga orang tua, bahkan kalangan selebgram, air limun mulai dikenal lagi oleh masyarakat.

“Banyak. Sehari bisa sampai 10 lusin air limun terjual, atau sekurang-kurangnya 5 lusin kalau lagi kondisi hujan. Selain untuk di warung, saya juga jual air limun secara online sebagai reseller,” katanya.

Sepeda ontel, salah satu aksesori di Warung Jameuen Kupi. (Foto/Salma)
Sepeda ontel, salah satu aksesori di Warung Jameuen Kupi. (Foto/Salma)

Air limun yang menjadi minuman generasi lampau, kini dinikmati oleh kalangan milenial. Cita rasa minuman soda tanpa tanggal kadaluwarsa ini tak jauh beda dengan minuman soda yang populer di kalangan anak muda. Tentunya minuman ini tetap aman dengan soda yang ringan.

Salah satu pengunjung Jameuen Kupi, Gebrina Dara Phonna mengaku bahwa ia menikmati minuman soda tradisional itu untuk mengenang masa kecilnya.

“Yang pertama, aku pesen minum itu karena dulu waktu aku kecil aku pernah minum limun itu. Lebih ke mengulang masa kecil. Kalau emang bisa mengulang yang sempat hilang kenapa enggak ya kan? Setidaknya ingat kembali rasa minuman ini,” kata Duta Wisata Favorit Kabupaten Bireuen Tahun 2019 itu.

Selain itu, dengan pengalamannya sebagai duta wisata, Dara juga seakan mempromosikan kembali Bireuen. Terlebih air limun merupakan minuman soda asal Kabupaten itu.

“Biar ke depan aku tau bilang ke orang-orang minuman itu rasanya gimana. Karena aku sempat naikin minuman ini di story waktu itu, terus ada orang dari luar Aceh, mereka nggak tau itu minuman apa, bahkan orang Aceh aja rata-rata gatau itu minuman apa. Jadi suatu hal yang membanggakan bisa sekalian mempromosikan minuman yang khas dari Bireuen,” katanya.

Penulis: Cut Salma


Tulisan lainnya dari Cut Salma