Banjir_Aceh Utara_SRYD
Foto: PM/Suryadi

PM, Banda Aceh – Sepanjang tahun 2020, tak sedikit pemberitaan mengenai bencana alam di Aceh yang menarik perhatian publik. Mulai dari bencana longsor di Aceh Tengah, badai di Aceh Besar dan Banda Aceh hingga banjir bandang di Aceh Timur, Aceh Utara dan Aceh Selatan, serta bencana abrasi di sejumlah wilayah pesisir.

Redaksi Pikiran Merdeka merangkum sederet bencana alam yang bersumber dari pemberitaan dengan keterbacaan paling tinggi sepanjang 2020. Berikut kaleidoskop 2020 tentang bencana alam:

Banjir Bandang dan Longsor Terjang Wilayah Kabupaten Aceh Tengah

Banjir bandang disertai longsor menerjang puluhan rumah di Desa Paya Tumpi, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah. Sejumlah kendaraan juga ikut terseret arus banjir. Kejadian pada Rabu sore, 13 Mei 2020 itu diperkirakan akibat hujan dengan intensitas tinggi yang terus mengguyur wilayah tersebut.

Selain merusak puluhan rumah dan menghanyutkan tiga mobil, bencana itu juga memutus jalur utama Takengon-Bireuen. Jalur utama itu tertutup material lumpur dan ranting kayu sepanjang ratusan meter. Musibah itu juga terjadi di empat kampung di Kecamatan Kebayakan.

21 Rumah di Aceh Selatan Terkena Abrasi Pantai

Sebanyak 21 unit rumah di wilayah Kabupaten Aceh Selatan terdampak abrasi pantai. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Provinsi Aceh, mengatakan abrasi pantai terjadi akibat hujan deras dalam beberapa hari.

“Karena derasnya hujan dalam beberapa terakhir mengakibatkan abrasi pantai,” kata Kepala Pelaksana BPBA Aceh Sunawardi, Rabu, 20 Mei 2020.

Abrasi pantai terjadi di Desa Pasie Sibadeh, Kecamatan Bakongan Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh sejak 19 Mei 2020, pukul 15.20 WIB.

“Tidak ada korban jiwa dan pengungsi dalam bencana itu, namun, 21 unit rumah terdampak abrasi pantai dan korban terdampak sebanyak 26 kepala keluarga (KK) dengan 82 jiwa,” jelas Sunawardi.

Hujan Badai Landa Banda Aceh dan Aceh Besar

Puluhan rumah warga di Banda Aceh dan Aceh Besar juga mengalami kerusakan usai diterjang angin badai disertai hujan yang menyapu kawasan itu, sepanjang Sabtu, 19 September 2020.

Selain di Banda Aceh, di kawasan Aceh Besar, dilaporkan sedikitnya 40 rumah mengalami kerusakan. Peristiwa itu sempat menimbulkan kepanikan warga. Apalagi sejumlah rumah warga tertimpa pohon yang roboh setelah diterjang angin badai tersebut.

Kalaksa BPBD Aceh Besar, Farhan AP kala itu menyebutkan, sedikitnya ada delapan kecamatan yang terdampak. Antara lain Kecamatan Blang Bintang, Kecamatan Kuta Malaka, Ingin Jaya, Darul Imarah, Masjid Raya, Seulimum, Lhoong dan Simpang Tiga.

Gempa 5,3 SR Guncang Banda Aceh

Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Aceh dan sekitarnya dini hari, Sabtu, 14 November 2020 sekira pukul 01.33 WIB.

Gempa Aceh kali ini juga menjadi perbincangan warga Twitter sehingga menjadikan kata kunci “gempa” sebagai salah satu topik yang paling banyak disebutkan pagi itu.

Banyak dari netizen yang menyebarluaskan informasi soal gempa, banyak juga yang menyampaikan doa bagi masyarakat Aceh dan berharap gempa tidak berkelanjutan.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa dini hari itu termasuk gempa dangkal.

“Gempa yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal yang diduga akibat adanya aktivitas Sesar Sumatra tepatnya pada Segmen Seulimum. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip fault),” jelas Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, saat itu.

Pihaknya juga menjelaskan, dari hasil pemodelan yang dilakukan BMKG menyebutkan bahwa gempa ini tidak memicu potensi tsunami.

Guncangan gempa dirasakan oleh masyarakat yang ada di Banda Aceh dan Lhokseumawe. Gempa susulan terpantau terjadi hingga beberapa saat setelah gempa pertama berlangsung.

“Hingga pukul 01.41 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan M=3,1 pukul 01.44.48 WIB dan M=2,1 pukul 01.54.22 WIB,” sebut Daryono.

Banjir Bandang Rendam Ratusan Rumah di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Selatan

Desember lalu, banjir luapan air sungai melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Aceh Utara akibat curah hujan dengan intensitas tinggi, sehingga menyebabkan 18.000 warga harus mengungsi, menurut Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA).

Kalak BPBA, Sunawardi menjelaskan curah hujan dengan intensitas tinggi selama dua hari itu menyebabkan air sungai (krueng) Keureuto dan Krueng Peuto yang melintas sejumlah kecamatan meluap ke pemukiman penduduk.

Banjir juga melanda Kabupaten Aceh Timur. Banjir tersebut merendam 226 desa di 19 Kecamatan. Kondisi air berangsur surut, akan tetapi hingga Rabu, 9 Desember 2020, masih ada 2.066 warga dalam 533 Kepala Keluarga (KK) yang mengungsi.

Selain itu, sebelumnya pada Juli 2020, bencana serupa juga terjadi di Aceh Selatan. Banjir yang merendam Aceh Selatan sedalam satu meter telah meluas hingga ke 17 desa di empat kecamatan. Sedikitnya 3.985 warga terdampak banjir tersebut.

Dari semua warga yang terdampak sekitar 3.859 orang merupakan warga dari 10 desa di kecamatan Kota Bahagia. Banjir yang merendam kawasan ini merupakan yang terparah. Sekitar 871 rumah terendam banjir hingga kedalaman 1,2 meter.

Banjir Karena Perubahan Fungsi Hutan

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh menyebutkan banjir yang terjadi di sejumlah kabupaten di Aceh sejak beberapa bulan terakhir diakibatkan ulah manusia yang telah merusak dan mengubah fungsi hutan.

Dalam keterangan persnya 8 Desember 2020, Direktur Eksekutif Walhi Aceh, M Nur membeberkan peningkatan aktifitas illegal logging, pertambangan, dan pembukaan lahan kebun sawit telah berkontribusi pada lonjakan peristiwa banjir di Aceh.

Di Kabupaten Aceh Besar, misalnya, fungsi hutan berubah karena maraknya pembalakan liar, di Kabupaten Pidie adanya illegal logging, dan pertambangan emas. Sementara di Kabupaten Aceh Utara, Bireuen, Aceh Timur, sampai Aceh Tamiang fungsi hutan juga berubah akibat illegal logging, dan pembukaan kebun sawit.

Tak hanya itu, dia mengungkapkan adanya pembangunan proyek strategis, seperti pembangunan jalan, dan bendungan yang masuk dalam kawasan hutan lindung.

“Untuk itu setiap kabupaten memiliki kelakuan yang berbeda-beda, pada akhirnya adalah mengubah fungsi hutan yang seharusnya melindungi sumber-sumber air ketika musim hujan,” ujarnya.

Maka ia menilai wajar bencana banjir terjadi di Aceh setiap tahunnya terus terjadi, bahkan telah menelan korban jiwa. “Karena 60 persen secara keseluruhan hutan Aceh berubah fungsi,” tandasnya.

Penulis: Cut Salma

Komentar