WhatsApp Image 2020 12 13 at 01 10 51
Oji, salah satu barista di NA Coffee Premium Lampineung, Banda Aceh. (Foto/Cut Salma)

PM, Banda Aceh – Sekelompok anak muda duduk berderet di depan meja sepanjang dua meter, tepat di teras salah satu mini market kawasan Jambo Tape, Banda Aceh. Di meja itu, tersaji gelas cup setengah tandas berisi kopi dan es coklat yang mereka nikmati sembari bersantai.

Tempat berkumpul muda-mudi itu adalah Janji Jiwa, salah satu outlet kopi kekinian yang sedang hits di Indonesia. Lebih dari 450 gerai milik Janji Jiwa kini tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Aceh salah satunya.

Pemandangan semacam ini mulai jamak terlihat di Kota Banda Aceh dalam setahun terakhir. Bahkan kian menjamur sejak adaptasi new normal di masa pandemi.

Artikel Terkait:

Selain Janji Jiwa, terdapat deretan kedai kopi lainnya yang juga diminati anak muda, seperti Kala Berdua, Di Ujung Senja, Harvies, Kopi Kiri dan masih banyak lagi.

Di Banda Aceh, sudah lama kedai kopi jadi salah satu bisnis yang moncer. Selain menjadi tempat berkumpul masyarakat, kedai kopi juga tempat para barista tradisional hingga modern menunjukkan kebolehan mereka meracik kopi.

Siang itu, Sabtu (12/12/2020), berbalut celemek warna merah bertuliskan Janji Jiwa, Shella meracik Kopi Vanila Latte pesanan pengunjung. Tangannya cekatan memasukkan kopi dan vanila dalam cup ukuran sedang. Sesekali tangannya memainkan mesin rok presso untuk meracik bubuk kopi jenis Arabica.

Lima bulan yang lalu, Shella Karim mendaftarkan diri sebagai barista di Janji Jiwa. Pandemi menuntutnya lebih produktif di sela perkuliahan daring dan juga kebutuhan ekonomi.

“Kuliah kan daring, dari pada nggak ada kerjaan. Orang tua pun sebelumnya sebagai pemandu wisata. Selama pandemi agak berkurang pendapatan. Jadi mulai ngerasa malu kalau minta uang sama orang tua,” kata mahasiswi Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh ini.

Shella Karim, mahasiswa UIN Ar-Raniry yang kini juga melakoni profesi sebagai barista. (Foto/Cut Salma)
Shella Karim, mahasiswa UIN Ar-Raniry yang kini juga melakoni profesi sebagai barista. (Foto/Cut Salma)

Di Janji Jiwa, awalnya Shella harus menjalani proses training selama tiga hari. Shella mengaku, itu pertama kalinya ia terjun di dunia pekerjaan, terlebih menjadi barista. Shella mulai belajar menyeduh kopi menggunakan mesin, menakar, hingga belajar menjadi waiters.

“Awal-awal harus training juga, dan ini pertama kalinya kerja, apalagi jadi barista,” ujarnya.

Setelah bergelut sebagai barista, Shella mulai tertarik untuk belajar membuat kopi kekinian. Ia mengaku masih belajar membuat Latte Art, yakni seni melukis di atas secangkir kopi, dengan bahan dasar espresso dan susu segar.

“Kalau ada pelatihan barista, mau juga. Pengen belajar buat latte art. Sekarang paling bisanya ngeracik kopi biasa,” katanya.

Selain Shella, masih banyak barista-barista muda yang tersebar di Banda Aceh, Fauzi misalnya, akrab disapa Oji. Setelah lulus SMK, Oji memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah dan memilih menjadi barista. Sejak dua tahun yang lalu, ia mulai menjadi barista di NA Premium Coffee Lampineung, Banda Aceh.

Kini, di usianya yang baru 21 tahun, Oji sudah menguasai setidaknya dasar-dasar tugas barista, bahkan ia juga kerap membuat Latte Art pesanan pengunjung. Menurut Oji, seni itu salah satu basic barista yang harus mereka kuasai.

“Dalam dunia kopi, banyak divisi yang barista ingin kuasai. Sebagai barista mereka harus menguasai beberapa basic dasar seperti Latte Art, Kalibrasi Espreso bahkan sampai menyajikan kopi secara manual contohnya Manual Brew. Memang tidak mudah, tapi jika disatukan dengan niat dan latihan yang giat pasti bisa,” katanya.

Oji, salah satu barista di NA Coffee Premium Lampineung, Banda Aceh. (Foto/Cut Salma)
Oji, salah satu barista di NA Coffee Premium Lampineung, Banda Aceh. (Foto/Cut Salma)

Laki-laki asal Sabang itu mulai tertarik menjadi barista berawal dari hobi dan kesenangannya akan kopi. Ia mulai belajar membuat latte art secara otodidak melalui YouTube dengan menggunakan ampas kopi dan sabun pencuci piring.

Kepada Pikiran Merdeka, Oji mengaku dulunya belajar secara otodidak dari kanal YouTube. “Awal-awal untuk menghemat bahan, belajarnya pakai ampas kopi, untuk latte art-nya pakai busa dari Sunlight,” katanya.

Ia mulai menekuni profesi itu selain karena hobi, juga lantaran minatnya bekerja sebagai wiraswasta. Oji bahkan berniat membuka usaha perkopian milik sendiri.

Selain belajar secara otodidak, Oji juga mengikuti bimbingan di Badan Latihan Kerja. Di sana, ia kembali mengasah kemampuannya menjadi barista.

Janji Jiwa, salah satu gerai kopi kekinian yang cukup diminati pengunjung kalangan anak muda di Banda Aceh. (Foto/Cut Salma)
Janji Jiwa, salah satu gerai kopi kekinian yang cukup diminati pengunjung kalangan anak muda di Banda Aceh. (Foto/Cut Salma)

Tahun lalu, Oji sempat mendapat akses melalui Grup Forsila Barista Indonesia untuk bekerja di salah satu Coffee Shop di Dubai, namun karena menurutnya ilmu yang ia miliki masih belum cukup dan masih banyak hal yang harus ia pelajari, kesempatan tersebut belum berani ia ambil.

“Aku ngerasa belum siap. Masih perlu banyak belajar lagi. Apalagi bahasa Inggris aku pas-pasan. Karena kalau ke Dubai itu kita mewakili Aceh, mewakili Indonesia pastinya,” katanya.

Menurut Oji, peluang menjadi barista di Aceh sangat besar, terlebih Aceh merupakan daerah penghasil kopi.

“Peluang barista di Aceh bagus ya, apalagi Aceh penghasil kopi. Dengan begitu, menurut aku bakalan bagus kalau memang pemerintah ngerangkul anak-anak muda Aceh untuk punya usaha, seenggaknya ini jadi upaya mengurangi pengangguran,” ujarnya.

Sebelum terjun ke dunia barista, sebaiknya mengikuti training terlebih dahulu. (Foto Cut Salma)
Sebelum terjun ke dunia barista, sebaiknya mengikuti training terlebih dahulu. (Foto Cut Salma)

Dinsos Aceh Buka Jurusan Barista

Sehubungan dengan itu, Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Rumoh Sejahtera Jroh Naguna (RSJN) Dinas Sosial Aceh akan menambah jurusan pelatihan ketrampilan barista untuk tahun anggaran 2021.

Selama ini UPTD RSJN tersebut sudah memiliki dua jurusan pelatihan keterampilan yaitu jurusan perbengkelan dan las serta jurusan menjahit dan membordir.

Hal itu disampaikan Sekretaris Dinas Sosial Aceh, Devi Riansyah yang hadir mewakili Kepala Dinas Sosial Aceh Alhudri pada Penutupan Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan bagi Remaja Binaan Angkatan ke -79 di Aula UPTD RSJN, Kamis (3/12/2020) lalu.

“Insya Allah untuk tahun anggaran 2021 UPTD RSJN yang memang tupoksinya untuk melakukan pendidikan dan pelatihan untuk remaja putus sekolah berencana akan membuka pelatihan khusus barista. Kenapa barista kita ambil karena permintaan untuk barista di Aceh dan di Indonesia saat ini sangat tinggi,” katanya.

Karena permintaannya yang tinggi, maka hal ini dianggap sebagai peluang kerja yang sangat bagus bagi anak-anak binaan UPTD RSJN, sehingga mereka nantinya bisa memiliki pekerjaan yang lebih layak dan memiliki penghasilan yang lebih baik untuk meningkatkan taraf hidup mereka.

“Ini cita-cita kita, dan kita serius sekali untuk meningkatkan kemampuan anak-anak kita terutama dalam hal menjadi seorang barista yang profesional,” ujarnya.

Penulis: Cut Salma


Tulisan lainnya dari Cut Salma