Moorden Coffee. (Foto PM)
Moorden Coffee. (Foto PM)

Sebuah coffee shop di jalan alternatif Kota Banda Aceh menyuguhkan suasana semangat heroik pahlawan Aceh dalam nuansa kekinian.

Tak jauh dari tempatnya bekerja, Didi Nuriel memilih Moorden Coffee untuk bertemu dengan calon mitra bisnisnya. “Tempatnya cozy dan strategis,” ujar owner Cilet Coklat itu, Jumat (16/03/18). Desain interior cafe itu membuat dia betah ngobrol dengan mitra kerjanya, selain mendapatkan pelayanan yang bagus dari pramusaji.

Moorden Coffe baru saja opening sehari sebelumnya, Kamis sore. Warung kopi dan cafe di Kota Banda Aceh pun semakin bertambah banyak. Data dari Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, dalam dua tahun terakhir, terdapat 230 warung kopi dan cafe yang tersebar di kota madya.

Artikel Terkait:

Namun data itu didasari pada usaha yang melengkapi seluruh persyaratan administrasi. Sementara yang tidak atau belum mengurusi administrasi, bisa dikatakan, ada sekitar 700 lebih, sehingga lebih kurang sesuai dengan julukannya, Banda Aceh memiliki 1.001 warung kopi. Dan Moorden Coffee bisa jadi yang ke 1.001.

Suasana di Moorden Coffee. (Foto PM)
Suasana di Moorden Coffee. (Foto PM)

Pada hari pembukaan, pengunjung tak henti-hentinya datang sejak sore hingga malam hari. Afla Nadya misalnya yang datang bersama kawan-kawannya. Dia langsung terkesan dengan nama dan logo Moorden Coffee.

“First impression waktu hadir opening adalah dari pelayanan. Pelayan-pelayannya ramah sekali, jadi betah nunggu pesanan yang lama tiba, karena memang cafenya super rame waktu opening,” kata salah satu selebgram Aceh itu.

Menurut Afla, Moorden Coffee menghadirkan nuansa kekinian namun tak melupakan unsur lokalnya. Hal itu memang terlihat dari desain interior Moorden Coffee.

Fasad bagian dalamnya didominasi potongan kayu palet dan material instalasi listrik. Mulai dari meja, kursi, bangku, hingga unit-unit terkecil seperti asbak rokok dan alas cangkir kopi arabika. Sementara dindingnya yang dicat putih dengan langit-langit hitam dof memberikan suasana yang lux, menghasilkan paduan konsep arsitektur rastik dengan kontemporer yang sempurna.

Baca Juga: Perantau Aceh Diajak Promosikan Wisata dan Kopi

“Kami tidak menggunakan jasa konsultan ataupun arsitek, tetapi karya Tim Moorden Coffee serta teman-teman yang setia membatu, dengan menggunakan 65 persen material berasal dari barang bekas dan material ramah lingkungan,” ujar Dinda Sutari, Owner Moorden Coffee.

Pengunjung dapat menemukan ragam keunikan desain Moorden Coffee mulai dari saat memarkirkan kendaraan di tepi jalan T Iskandar Beurawe. Logo Moorden, berupa satu sisi kepala manusia mengenakan Kupiah Meukutob—kopiah para Raja Aceh, langsung menarik perhatian.

Selain itu, kreativitas dapat ditemui mulai di bar dan meja bar yang menggunakan potongan batang pohon besar, alas kursi dari goni, pajangan lukisan tanpa menggunkan kanvas, hinga cerminan logo Moorden Coffee di kamar kecil yang siap mengecoh kecepatan berpikir pengunjung.

Menu Unggulan

Soal menu, Moorden Coffee menawarkan beberapa varian baru yang selama ini belum terdapat di warung kopi lain di Aceh.

“Menu andalan kami ada sanpresso dan nirapresso,” sebut Fachrizals, Manager Moorden Coffee.

Sanpresso merupakan perpaduan antara santan dan kopi espresso, sedangkan nirapresso hasil paduan antara air nira dan kopi espresso. Keduanya disajikan dingin. Boh manok weng arabica juga layak dicoba, yaitu kopi arabika campur telur kocok, yang berkhasiat menambah energi.

Lihat Juga: Menikmati Sensasi Rasa Tradisional di ‘Jameuen Kupi’

Beberapa menu makanan pun dapat Anda coba, dari ringan sampai menu berat. Untuk membuat pelanggan betah, Moorden Coffee berkolaborasi dengan brand burger, Bite & Co, untuk membuka outletnya di halaman belakang.

Anda yang suka bersua foto, halaman belakang Moorden Coffee mungkin jadi sudut yang tepat. Tempat duduk pelanggan dari kayu dipadu dengan tanaman yang merambat di dinding berwarna hitam dof. Atap terbuka menghasilkan udara segar di sore hari sambil menunggu dibuatkan burger dan kopi arabika.

Saat ini, Moorden Coffee buka mulai pukul 12.00 – 23.00 wib. Cafe ini bisa menampung hingga 180 pengunjung. Dalam waktu dekat, juga akan buka sehabis Shalat Subuh.

Suasana di Moorden Coffee. (Foto PM)
Suasana di Moorden Coffee. (Foto PM)

Inspirasi Moorden Coffee

Dinda Sutari, terinspirasi dari kisah heroik salah satu pahlawan nasional asal Aceh dalam melawan penjajahan Belanda, Teuku Umar.

Dalam catatan sejarah, sebelum melakukan pertempuran menjelang malam 11 Februari 1899, Teuku Umar mengatakan kepada pasukannya:

“Beungoh singoh geutayoe jep kupi di keude meulaboh atawa ulon akan syahid”

Yang artinya, “besok pagi kita ngopi di Kedai Meulaboh atau saya akan mati syahid.”

Teuku Umar lantas tertembak dalam pertempuran melawan pasukan Belanda yang dipimpin Van Heutsz, karena gerakan mereka sudah lebih dulu diketahui mata-mata lawan.

Tangan kanannya, Pang Laot, segera melarikan jenazah Teuku Umar agar tidak diambil musuh. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Mesjid Desa Meugoe di Hulu Sungai Meulaboh.

Jika sekarang Anda ke Meulaboh, Aceh Barat, kata-kata terakhir Teuku Umar itu dapat dilihat pada sebuah prasasti di Desa Meugoe, Meulaboh. Namun tak perlu jauh, kalimat mantra itu dapat ditemui di salah satu sisi dinding Moorden Coffee.

Dinda sengaja menggunakan kata “Moorden” menjadi nama usahanya. Kata itu diadopsi dari “Aceh Moorden”, nama lakab atau julukan yang diberikan oleh tentara Belanda kepada pejuang Aceh, yang artinya “masyarakat Aceh gila (dalam berjuang)”.

Kegilaan orang Aceh dalam berjuang diterjemahkan Dinda dalam desain Moorden Coffee. Sudah watak masyarakat Aceh untuk memulai atau mengakhiri suatu pekerjaan dengan lebih dulu mengkonsumsi secangkir kopi.

Baca Juga: Yuuk! Ngopi di Cafe Apung Sanggamara Sambil Susuri Krueng Aceh

“Di balik kegigihan rakyat Aceh berperang melawan penjajahan Belanda, terdapat sebuah kebiasaan untuk mengobrol di warung kopi, baik mengenai strategi perang, agama, kultur, ekonomi, dan lainnya,” kata Dinda.

Dia ingin menciptakan kedai kopi premium yang menjadi tempat menemukan inspirasi. Dia ingin menghadirkan tempat bertemunya para pebisnis dengan klien atau pelanggan. Dia juga membuat ruang ngopi yang nyaman bagi pekerja kantoran, famili, bahkan menyediakan halaman belakang khusus buat tongkrongan anak muda.

Namun, Moorden Coffee tak sekedar mengejar bisnis. Tapi juga mempromosikan Aceh kepada turis yang datang ke Banda Aceh. “Kita juga ingin mempromosikan kopi Aceh, bagaimana kopi Aceh yang enak,” tutur Dinda.

Di sudut lain cafe, pengunjung disuguhi mural bertema wisata Aceh. Satunya bergambar suasana Masjid Raya Baiturrahman dengan hiruk-pikuk pengunjung Pasar Atjeh. Satunya lagi mendokumentasikan perempuan Gayo tengah memetik kopi.

“Cafe ini berdiri di Banda Aceh, jadi kita buat ikonnya Masjid Raya Baiturrahman. Kemudian kita tidak lupa akan perjuangan petani kopi Gayo, maka kita buat gambarnya disini,” tuturnya.

Ingin melihat langsung “kegilaan” cafe ini, silakan datang ke Moorden Coffee yang beralamat di Jalan T Iskandar, sebelum mencapai underpass Beurawe, Banda Aceh.[]

Komentar