Produksi emping melinjau secara tradisonal menjadi andalan banyak perempuan di Kecamatan Simpang Tiga, Pidie, dalam mendongkrak perekonomian keluarga.

Di bawah gubuk beratapkan daun rumbia, Latifah Hanum (40) duduk di atas potongan kayu. Tangannya sibuk merapikan beberapa tumpukan plastik yang menutupi tempat pengolahaan emping melinjau.

Ia merupakan salah satu pengrajin emping melinjau di Gampong Pulo Tu, Simpang Tiga, Kabupaten Pidie. Pagi itu, dengan cekatan perempuan paruh baya ini menyalakan tungku api. Ia siap mengolah biji melinjo menjadi emping atau dalam bahasa Aceh disebut keurupuk muling.

Peralatan yang digunakan sangat tradisional. Antara lain sebuah wajan tua berisikan pasir yang berada di atas tungku api, lalu seputong batang kayu bulat berukuran 40×40 centimeter dengan ketebalan 20 centimeter yang berfungsi untuk menempatkan biji melinjau, serta palu kayu yang berfungsi untuk memipih biji melinjau menjadi emping.

Biji-biji melinjau tua yang sudah dikupas kulit luarnya dimasukkan ke dalam wajan untuk dilakukan penggosengan. Selanjutnya kedua tangan Latifah sibuk beraktivitas. Tangan kanan memegang palu besi bergagang kayu dan tangan kirinya memegang serok kawat.

Serok di tangan kirinya secara teratur mengangkat biji melinjau dari dalam wajan, dan ditempatkan di atas potongan kayu bulat. Lalu tangan kanannya yang memegang palu terus menumbuk biji-biji melinjau itu hingga menipis dan menjadi emping.

Sesekali Latifah meneguk air mineral untuk menghilangkan dahaganya sambil mengusap keningnya yang dipenuhi keringat. Di saat bersamaan, tangan kirinya terus mengaduk dan mengangkat biji-biji melinjau yang ada di dalam wajan, agar tidak gosong.

“Sudah sangat lama saya menukuni pekerjaan sebagai pengrajin emping melinjau ini. Hasilnya, ya bisa untuk memenuhi keperluar saya sehari-hari,” jelasnya.

Setelah menjadi emping, kerupuk melinjau itu ditata dengan rapi di atas alas berupa ayaman daun kelapa dan kertas tipis. Kemudian dijemur agar mengering dan siap untuk dipasarkan.

“Setelah dipipihkan, maka emping harus dijemur dulu biar kering. Selanjutnya saya kumpulkan, kalau sudah ada 7-10 kilogram baru saya jual ke pasar Sigli ataupun Beureunu,” sebut Latifah.

Menurut Latifah, harga emping yang dijualnya ke pasa-pasar Beureunun atau Sigli, sangat bervariasi. Tergatung tipis-tebalannyaemping yang diproduksi, semakin tipis maka harga jualnya semakin tinggi.

“Emping yang ketebalannya seperti penutup buka tulis, bisa dibeli oleh agen sekitar Rp70 ribu per kilogram. Yang agak tebelan berkisar Rp55 ribu atau Rp60 ribu per kilogram. Kalau lebih tebal lagi hanya sekitar Rp45-50 ribu per kilogram,” paparnya.

Dalam sehari, Latifah dapat mengolah emping berkisar tiga atau empat kilogram. Sedangkan biji melinjau dia beli di pasar-pasar ataupun dari petani setempat. Dalam sehari, Latifah mengaku bisa memperoleh keuntungan berkisar Rp70 ribu atau Rp80 ribu.

“Proses pemipihannya sangat lama, saya harus menumbuk satu-satu biji melinjau. Tidak bisa langsung semua, entar malah tidak jadi emping. Dari pagi sampai sore, saya hanya mempu mengolah emping sebanyak 3 atau 4 kilogram,” katanya.

Untuk menghasilkan satu kilogram emping, ungkap Latifah, membutuhkan biji melijau lebih dari satu bambu. “Tapi tergantung ukuran melinjau juga, kalau ukurannya besar, dalam dua bambu melinjau bisa menghasilkan satu setengah kilogram emping,” katanya.

Dikatakannya, untuk sekarang ini harga emping tergolong tinggi. “Ini karena melinjaunya juga sedang mahal, satu bambu biji melinjau sekarang harganya mencapai Rp30 ribu. Kalau dulu hanya Rp16-20 ribu per bambu,” jelasnya.

Dalam sehari, Latifah mengakui, dari mengrajin emping melinjau, dia bisa memperoleh keuntungan berkisar 70 ribu atau 80 ribu perharinya.

Selainya sebagai pelaku pembuat emping melinaju, dia juga mendistribusikan biji-biji melinjau miliknya kepada pengrajin-pengrajin emping lainnya yang berada di Gampong Pulo Tu, maupun desa tetangga dengan sistem pengupahan.

“Dalam satu bambu biji melinjau, ongkos pemipihan kepada pengrajin lain Rp10 ribu. Ya, sekedar bagi-bagi keuntungan,” katanya.[]

Komentar