Lobster Aceh. (Foto IST/Suparta)
Lobster Aceh. (Foto IST/Suparta)

Banda Aceh—Lobster dan gurita di perairan laut Kabupaten Simuelue, Provinsi Aceh, semakin sulit dicari, karena populasinya semakin menyusut akibat penangkapan dan pengambilan secara serampangan oleh warga, sementara budidayanya tidak ada.

Tarlan (49), salah seorang agen penampung di Gampong Muara Aman, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Simeulue, Jumat menyatakan, dua jenis ikan tersebut kini sulit ditemukan di kedalaman kurang dari satu meter air laut.

Dikatakan, penyusutan populasi lobster dan gurita tersebut telah terjadi lebih dari enam bulan lalu, dan diduga dalam dua tahun kedepan, biota laut jenis itu bakal sulit ditemukan.

Bahkan, katanya, untuk jenis lobster, sekarang ini sudah tidak ada lagi, karena penangkapan besar-besaran dilakukan warga dan nelayan, katanya.

Disebutkan, setiap harinya ribuan ekor gurita, diambil tanpa perhitungan maupun batasan umur, sementara di sisi lain usaha itu telah mendongkrak perekonomian rakyat Simeulue.

“Setiap hari saya membeli gurita, hasil tangkapan warga rata-rata 70 kilogram, bahkan pernah membeli 150 Kg/hari dengan harga Rp25.000/Kg,” ujarnya.

Dikatakan, dirinya sering memperingatkan warga agar tidak menangkap gurita kurang dari tiga ons, tapi masih ada juga yang menangkap dalam jumlah besar. Saya khawatir seperti nasib lobster yang saat ini sulit kita temukan lagi,” katanya.

Gurita yang biasanya hidup diantara batu karang dengan kedalalam mulai dari kurang satu meter hingga kedalaman air laut puluhan meter, warga melakukan penangkapan dengan cara menyelam dan menggunakan alat jenis tombak terbuat dari besi.

“Alhamdulillah sangat terbantu ekonomi kita, dengan lakunya gurita ini, dalam satu hari dapat lebih dari tiga kilogram,” kata Erianysah, warga Tanjung Raya, Kecamatan Teluk Dalam.

Namun Eriansyah, tidak menyangkal, populasi gurita kian menyusut dan semakin sulit ditemukan.

“Memang semakin sulit, kini kita harus menyelam ke dasar laut sampai delapan depa orang dewasa, terkadang lebih. Dulunya dipinggir pantai, kini lokasi pencarian kita sudah jauh ke tengah dari pantai,” ujarnya.

Dikatakan, pada awalnya, hasil tangkapan masih dapat lebih dari sepuluh kilogram, kini hanya dua sampai empat kilogram setiap hari.

Pemburuan dan penangkapan gurita di perairan laut Simeulue, tidak hanya dilakukan pria dewasa untuk kebutuhan rumah tangga, juga dilakukan anak sekolah, untuk menambah uang jajan maupun keperluan untuk sekolah.

“Hasil dari menangkap gurita, saya dapat uang dan tidak lagi minta sama orang tua, termasuk uang jajan, beli buku, dan baju,” kata Fiki, pelajar kelas dua SMP Negeri 2 Teluk Dalam.

Terkait semakin menyusutnya populasi gurita di Simeulue, Dinas Kelautan dan Perikanan setempat, pernah berjanji untuk menertibkan dengan mengusulkan peraturan, supaya tidak terjadi penangkapan secara brutal dan serampangan.

“Itu benar, karena sesuai dengan keadaan lobster saat ini, tidak menutup kemungkinan populasi gurita akan juga menyusut, maka kita segera mengusulkan untuk peraturan baru, tentang batasan penangkapan lobster,” tegas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Simeulue, Isdawati.

Tempat penampungan dan pengepakan gurita, hasil perairan laut Simeulue bekerjasama antara Dinas Kelautan dan Perikanan, Aceh Ocean Corel (AOC), dan PT Era Mandiri, yang berada di kawasan Gampong Lugu, Kecamatan Simeulue Timur. Setiap bulan ditaksir lebih dari 10 ton melakukan pengiriman gurita segar, dengan pangsa pasar ke daratan pulau Jawa.(ant)

Komentar