Logo Miss Indonesia 2012

[quote]Oleh Wahyu Ichsan[/quote]

“Saya memberanikan diri mewakili Aceh di ajang Miss Indonesia 2012, karena saya memang berdarah Aceh dan saya bangga mewakili Aceh. Melalui cara ini saya ingin mengangkat harkat wanita Aceh di tingkat nasional.”

Demikian ungkapan Rafiqa Soraya Azhar kepada serambinews (1/5), terkait dengan keikutsertaannya di ajang Miss Indonesia 2012 mewakili Aceh. “Saya percaya bahwa acara ini dapat mempertegas nilai-nilai keperempuanan di Indonesia, dan tidak menjurus kepada eksploitasi perempuan,” lanjutnya.

Bila kita telisik secara mendalam acara ini membahayakan wanita. Pergelaran kontes kecantikan tersebut jelas-jelas menunjukkan perempuan dihargai tubuhnya bukan kepandaiannya. Maka jangan heran yang dilombakan adalah tubuh-tubuh semampai, wajah yang cantik dengan berbagai pakaian yang terbuka. Pertanyaan-pertanyaan dari juri ketika lomba hanya kamuflase untuk menutupi tujuan eksploitasi.

Sebagaimana kita ketahui Kontes Puteri Indonesia telah diselenggarakan sejak tahun 1992 oleh Yayasan Puteri Indonesia yang diketuai oleh Mooryati Soedibyo dan disponsori oleh perusahaan kosmetik Mustika Ratu. Pada tahun 2009, kontes putri kecantikan dimenangi oleh Qory Sandrioriva, asal Nanggroe Aceh Darussalam.

Terlepas dari polemik, sang pemenang dan kandidat berikutnya berasal dari provinsi syariat Islam, yang jelas kontes semacam itu sebenarnya satu bentuk eksploitasi terhadap wanita, dan tidak mendidik bangsa untuk menghargai wanita dengan tepat. Unsur-unsur fisik yang bukan merupakan hal yang diperjuangkan oleh seorang wanita, dihargai melebihi prestasi keilmuan.

Banyak wanita Indonesia yang berjuang keras membangun masyarakatnya. Namun, mereka tidak mendapatkan penghargaan setinggi orang menghargai putri Indonesia atau miss universe. Guru-guru wanita di berbagai pelosok negara di berbagai daerah miskin yang gigih mengabdikan diri, mendidik masyarakat, mendapatkan penghargaan yang sangat minim dan tidak manusiawi. Guru-guru TK dan SD, misalnya, masih ada yang mendapatkan gaji Rp50.000 per bulan. Padahal, mereka adalah pahlawan bangsa yang sesungguhnya. Mereka mendidik anak-anak dengan ilmu, bukan dengan membanggakan kondisi fisik, yang merupakan anugerah sang pencipta.

Jika ditelusuri, sikap eksploitatif terhadap tubuh wanita itu—atas nama pemujaan terhadap wanita—merupakan kutup ekstrim yang lain setelah di masa peradaban Barat yang silam mereka berada di kutub penindasan wanita yang serba brutal.

Ajang Kontes Putri Indonesia bagi penulis tidak lebih dari sebuah gerakan syahwat. Namun mendapatkan tempat yang tinggi oleh banyak kalangan dan bahkan pemerintah. Tapi lihat bagaimana misrisnya kondisi pendidikan negeri kita, kita  semua tahu urutan Kualitas Pendidikan Indonesia di mata dunia selalu menduduki urutan paling bawah dari 1997-2009.

Menurut hasil survei World Competitiveness Year Book dari pendidikan Indonesia berada dalam urutan sebagai berikut pada tahun 1997 dari 49 negara yang diteliti Indonesia berada di urutan 39. Pada tahun 1999, dari 47 negara yang disurvei Indonesia berada pada urutan 46. Tahun 2002, dari 49 negara, Indonesia berada pada urutan 47, dan pada tahun 2007 dari 55 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan yang ke 53.

Tahun 2009, peringkat ke 111 di antara 182 Nnegara. Sementara hasil penelitian program pembangunan PBB (UNDP) tahun 2000 menunjukkan kualitas SDM Indonesia berada pada urutan 109 dari 174 negara, tertinggal jauh dibandingkan dengan negara tetangga Singapura (24), Malaysia (61), Thailand (76) dan Philipina (77).

Berdasarkan data hasil penelitian di Singapura (September 2001) menempatkan sistem pendidikan nasional pada urutan 12 dari 12 negara Asia bahkan lebih rendah dari Vietnam. Peringkat ini dilansir dari laporan monitoring global yang dikeluarkan lembaga PBB, Unesco.

Penelitian terhadap kualitas pendidikan dasar ini dilakukan oleh Asian South Pacific Beurau of Adult Education (ASPBAE) dan Global Campaign for Education. Studi dilakukan di 14 negara pada bulan Maret-Juni 2005. Laporan ini dipublikasikan pada 24 Juni lalu. Rangking pertama diduduki Thailand, kemudian disusul Malaysia, Sri Langka, Filipina, Cina, Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Nepal, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Pakistan. Indonesia mendapat nilai 42 dari 100 negara dan memiliki rata-rata E.

Untuk aspek penyediaan pendidikan dasar lengkap, Indonesia mendapat nilai C dan menduduki peringkat ke 7. Pada aspek aksi negara, RI memperoleh huruf mutu F pada peringkat ke 11. Sedangkan aspek kualitas input/pengajar, RI diberi nilai E dan menduduki peringkat paling buncit alias ke 14. Indonesia hanya bagus pada aspek kesetaraan jender B dan kesetaraan keseluruhan yang mendapat nilai B serta mendapat peringkat 6 dan 4.

Kenapa? Seperti yang telah dijelaskan di atas, negara kita menempatkan para guru pada posisi yang tidak manusiawi, sedang ajang syahwat mendapatkan dukungan luar biasa. Bahkan Indonesia menduduki urutan negeri pornografi kedua terbesar setelah Rusia. Bahkan menurut data dari search engine terakhir, sekitar satu bulan lalu, Indonesia menjadi negara pengakses situs pornografi tertinggi di dunia. (detiknet, Rabu, 14/3/2012).

Karena itu, mari sama-sama kita jaga nama serambi mekkah sebagai provinsi syariat dengan menghargai wanita sebagai manusia bukan sebagai benda. Marilah kita membangun peradaban Islami yang menjauhi zina.[*]

*Penulis adalah mantan Ketua Umum Ikatan Mahasiswa dan Pemuda Aceh–Jakarta 2010-2012. Saat ini mahasiswa master political science di IIUM Malaysia.

Komentar