Istanbul Warna Ibukota Dunia - Buku

Dari Kemegahan Islam, Erdogan Hingga Uroe Gantoe

Telah dipublikasikan di Tabloid Pikiran Merdeka Terbitan Cetak Edisi I (10-17 Agustus 2015)

Oleh Zahlul Pasha
Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh periode 2014-2015.

Judul Buku : Istanbul Warna Ibu Kota Dunia
Penulis : Ariful Azmi Usman
Penerbit : Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKT) & YTB (Yabancı Türkiye Bursları)
Jumlah Halaman : 160 halaman
Tahun Terbit : Maret 2015
ISBN : 978-602-72370-0-1

Berbicara Turki terasa hambar tanpa menyinggung Istanbul di dalamnya, ibu kota dinasti Turki Usmani, tempat di mana peradaban Islam nan megah dibangun. Kerajaan Islam yang menguasai hampir seluruh dataran asia dan eropa sebelum akhirnya runtuh pada awal abad ke-19. Jembatan Selat Bosporus, museum Ayasofya, mesjid Sultanahmet merupakan bagian kecil di antara anugerah Tuhan yang ditipkan melalui orang-orang Turki, keturunan khalifah Usman.

Buku ini pada dasarnya berisikan catatan perjalanan penulisnya saat mengikuti program belajar keahlian dan kebudayaan di Istanbul tahun 2014. Dalam buku ini, Istanbul digambarkan sebagai sebuah kota dengan segudang keunggulan di dalamnya, terutama keunggulan dalam memelihara dan merawat aset bersejarah, kematangan demokrasi hingga sikap nasionalisme yang dimiliki rakyatnya.

Tentang merawat sejarah ada hal menarik yang dikemukakan dalam buku ini. Dijelaskan bahwasanya orang-orang Turki menggunakan sejarah sebagai landasan pembangunan fisik negaranya. Dikisahkan dahulu salah satu sultan dinasti Ottoman berniat untuk membangun jalan bawah laut penghubung benua Eropa dan Asia namun keinginan tersebut tidak kunjung terealisasikan. Cita-cita ini kemudian dilanjutkan oleh Erdogan yang membangun Marmaray, jalur bawah laut penghubung benua Eropa dan Asia yang terletak di bawah jembatan Selat Bosporus.

Membaca buku ini penulis seakan menggiring pembacanya untuk menjelajahi setiap sudut kota Istanbul. Kemegahan mesjid, sikap santun masyarakatnya hingga kematangan dalam demokrasi begitu detil dijelaskan. Nilai Islam yang amat kental masih melekat pada masyarakat Turki juga disebutkan secara jelas. Misalnya bagaimana pendukung Erdogan bersikap amat santun kepada pihak oposisi saat merayakan kemenangan meskipun mereka mengetahui bahwa negarawan pilihannya itu memperoleh suara terbanyak pada pemilihan presiden tahun 2014. Tentu suasana demikian sangat jarang ditemui di negara kita khususnya di Aceh, apalagi pasca berlangsungnya pemilu/pilkada.

Selain itu, penulis dalam buku ini juga menjelaskan berbagai pengamatan yang ditemuinya saat berada di Turki, seperti tradisi orang Turki meminum teh hitam (black tea) hampir di setiap waktu dan jam kerja berlangsung, memakan durum –salah satu makanan khas Turki- lazimnya di Aceh dikenal kebab hingga pasar tradisional yang ada di sana.

Ada hal menarik yang dideskripsikan terkait dengan pasar tradisional di Turki. Letak pasarnya yang berpindah-pindah hingga jenis barang seperti rempah-rempah dan berbagai peralatan rumah tangga yang dijual lebih murah dari biasanya menjadikan tempat ini begitu ramai didatangi oleh pembeli. Dalam hal ini, penulis menyamakannya dengan uroe gantoe/uroe peukan yang ada di Aceh.

Pengamatan yang jeli dan setiap pengalaman yang dirasakan oleh penulis digambarkan secara lugas dan jelas membuat para pembaca ingin mendalami lebih jauh tentang negara Turki. Membuka lembaran demi lembaran buku ini pembaca diajak untuk bernostalgia tentang kemegahan dan keagungan Islam, tempat di mana setiap keputusan dan kepentingan umat dikendalikan.

Penyajian kalimat yang sederhana menjadikan penjelasan dan gambaran yang dikemukakan oleh penulis begitu mudah dipahami oleh pembacanya. Demikian juga kata-kata yang digunakan juga tidak berlebihan.

Pada akhirnya, melalui buku ini penulis hendak mengabarkan pada kita bahwa pembangunan yang dilakukan oleh Turki baik fisik maupun sumber daya manusianya berlandaskan Islam sebagai poros utama. Setidaknya, Turki melalui dinasti Ottoman yang berkuasa ratusan tahun menguasai hampir seluruh daratan Eropa dan Asia telah membuktikannya. Langkah yang dilakukan oleh Ataturk menanggalkan agama (Islam) dari negara menjadikan Turki sebagai pengekor negara lain.

Kehadiran Erdogan sebagai pemimpin Turki dianggap membawa angin pembebasan dari embel-embel sekularisme. Kemajuan Turki hari ini baik di bidang ekonomi maupun pembangunan tak lepas dari ketaatan dan sifat sederhana pemimpinnya. Semoga perilaku yang sama dapat dicontoh oleh pemimpin Islam lainnya. Semoga!

Komentar