CERPEN
Telah dipublikasikan di Tabloid Pikiran Merdeka Terbitan Cetak Edisi I (10-17 Agustus 2015)

Karya Hendra Kasmi
Dosen STKIP Bina Bangsa Getsempena

Umak masih terpaku dibawah rindang dahan kemboja yang daun-daun rapuhnya tak berdaya melawan galau angin pagi ini. Sorot mata Umak menerawang lesu ke arah celah pegunungan  Bukit Barisan yang masih tenggelam dalam kabut.

“Kau lihat, lekuk gunung itu menyerupai wajah Agam,” ujar Umak sembari menunjuk ke arah Bukit Barisan. Pikirannya kembali keruh. Mungkin  menurut beliau kehidupan Agam  masih  tersisa.

“Istighfar, Umak. Masih ingat, kan nasihat Abon.”

Sudah beberapa hari ini sejak kematian Agam, Umak selalu bertingkah aneh. Semalam  tak putus-putus menggigau. Pagi tadi Umak tak mau makan sebelum menziarahi pusara Agam. Kasihan, raut wajahnya kian pucat dan keriput. Sudah berbilang hari beliau menyiksa diri dengan tak makan. Maka aku mengantarnya ke lampoh jrat ini. Dengan satu janji, beliau harus makan.

“Ayo Umak, kita pulang! Yasin dah dibaca. Rumput pula sudah bersih,” paksaku.

“Awak tak mau pulang. Sebelum melihat Agam bahagia dengan anak  Haji Ampon itu.”

            “Umaaaak! Apa sakit?”

            Aku tak menyangka umak menceracau seperti ini. Semasa hidupnya kami sekelurga tak pernah menghalangi Agam mencintai siapa pun. Tapi semenjak ia tergila-gila pada Nurol, kami kian khawatir. Ayahnya seorang ulee balang, pemilik separuh lahan getah di kampung ini. Seperti lazimnya orang kaya kampung, maka sikap Haji Ampon begitu juga, congkak dan jarang bergaul dengan masyarakat. Perangai itu ternyata mengalir pula pada anak semata wayangnya, Nurol. Pernah aku melihat sendiri tanpa sengaja, saat Agam menyapa Nurol dengan sebuah senyuman di gerbang sekolah, namun Nurol membalasnya dengan sikap remeh. Memang, menurut cerita kawan-kawanya Agam selalu menjadi alat suruhan Nurol di sekolah. Alangkah bodohnya Agam ketika menempel foto-foto Nurol di kamar. Seolah-olah gadis itu telah mencintainya dengan sepenuh hati.

            “Coba kalau awak tak menghalanginya dulu. Tentu Agam tak akan meninggalkan awak.” Embun di mata Umak pecah meleleh, menodai lekuk parasnya.

            “Sudahlah, Umak! Untuk apa menyesali orang yang telah mati!”

            “Kau tahu apa! Tiap detik kalian selalu meremehkan dia.” Tak biasanya Umak menatapku dengan segeram itu.” Walau pun begitu Nurol…… Agam pernah bercerita pada awak; tak ada perempuan yang peduli padanya. Ia merindukan syahid dan ingin lekas berjumpa dengan bidadari di surga. Bagi kau ini bodoh, kan!”.

            Yah, apalagi yang bisa kuceritakan tentang Agam. Tiga butir peluru telah menghentikan desah angin dalam tubuhnya, merubuhkan rasanya tentang cinta. Inikah  jalannya ke surga lalu bersua dengan gadis idaman yang dimpikannya di sana. Sementara banyak pelaku jihad lain hanya menyusahkan orang saja, banyak korban dari tindakan konyol mereka itu dari kalangan  Islam sendiri dan orang tak berdosa. Entahlah, apakah Agam juga seperti itu. Kuyakin, Abon guru mengajinya di dayah tak pernah mengajarkan tindakan itu. Barangkali Umak tak paham  hal ini, dan aku tak akan menceritakan pada beliau, tak akan pernah. Khawatir hanya menambah resahnya saja.

            Mendung pecah disapu angin. Segerombolan awan berarak dari ufuk selatan, semakin perlahan hingga sampai rebah ke utara membentuk sebuah formasi aneh. Rupanya umak juga menangkap peristiwa ganjil itu. Beliau  bangkit dengan setengah kaget, bibirnya merekah seraya menunjuk ke langit.

            “Betul, kan kata awak, Agam telah bahagia dengan bidadarinya di surga,” ujar Umak.

            “Ya, ya! Yang pasti lebih cantik dari Nurol. Ayo kita pulang!” Dengan tersenyum geli kupegang lengannya.

                                                                        Banda Aceh, 6 Agustus 2015

Komentar