Teuku Muhammad Jafar Sulaiman,

PEMIMPIN adalah titik pijak dan sosok paling bertanggung jawab atas baik dan tidaknya serta gemilang dan tidaknya sebuah negeri. Kemakmuran, kesejahteraan, penghargaan terhadap manusia, hak-hak individu, kenyaman serta keamanan rakyat adalah tanggung jawab seorang pemimpin yang harus dipenuhi.

Pemimpin diperlukan karena perlunya satu sosok yang dapat menjadi orang tua yang bijak dan humanis bagi seluruh anak-anak dari berbagai ragam agama, ras, budaya, etnis, dan status sosial. Dalam model ini, pemimpin adalah milik bersama seluruh rakyatnya, bukan milik kelompok tertentu, agama tertentu, atau golongan tertentu. Pemimpin yang berpengetahuan, mengayomi, melayani, bijak, berani, dan menjadi milik bersama adalah syarat mutlak kepemimpinan sepanjang masa.

Model kepemimpinan terus berkembang mengikuti pola dan kecendrungan zaman. Dulu, kita mengenal pemimpin yang tiran, despotik, dan otoriter. Kita juga mengenal kepemimpinan fasis dan kemudian beralih kepada kepemimpinan demokratis. Dalam konteks kecenderungan dunia saat ini yang menginginkan pemimpin demokratis, kita juga masih menemukan pemimpin yang tidak demokratis, pemimpin yang tidak punya persfektif bina damai dalam kebijakan serta tindakannnya, sesuatu yang semestinya tidak perlu ada lagi.

Demikian halnya Aceh, sebuah negeri yang diwariskan dengan cinta, keberanian, pengorbanan dan air mata. Sepuluh tahun sudah damai hadir sebagai anugerah, seturut dengan itu maka pengelolaan damai Aceh yang sudah berusia 10 tahun ini, kedepan harus kita serahkan kepada pemimpin yang benar-benar dirindukan oleh rakyat, pemimpin yang benar-benar terbit dan lahir dari cinta rakyat, bukan pemimpin yang lahir dari uang dan kekerasan.

Aceh 2017

Bagi Aceh, tahun 2017 adalah kemutlakan perubahan kepemimpinan. Kalau Aceh mau berubah,  kuncinya revolusi kepemimpinan. Sebuah model kepemimpinan yang menjadi anti tesis terhadap segala permasalahan Aceh hari ini, bukan pemimpin yang laporan pertanggungjawabannya melalui billboard dan baliho-baliho atau melalui iklan-iklan televisi dan koran.

Pemimpin Aceh 2017 adalah pemimpin yang tidak mempolitisasi agama, pemimpin yang tidak menghukum dan mempermalukan rakyat kecil sebagai tontonan demi prestasinya. Pemimpin yang tidak mendengar “pembisik” dari berbagai lingkaran. Pemimpin yang sering berjalan di siang dan malam hari melihat rakyatnya, bukan berjalan malam untuk menggrebek, melainkan untuk melihat apakah rakyatnya sudah makan dan sudah terpenuhi segala kebutuhan hidupnya. Pemimpin yang turun menjenguk rakyatnya tanpa menunggu undangan seremonial panen perdana, potong pita peresmian perumahan, atau berbagai seremonial lainnya.

Aceh 2017 butuh kepemimpinan yang utuh dan kuat. Kekuatan kepemimpinan yang bersumber dari pribadi otonom sang pemimpin. Bukan kepemimpinan yang ditentukan dan dibentuk oleh lingkaran-lingkaran di sekitar. Jika karakter otonom pribadi pemimpin tidak kuat, maka kepemimpinan akan sangat mudah terpengaruh oleh berbagai kepentingan dari sekian lingkaran-lingkaran tersebut. Ini adalah problem klasik kepemimpinan di manapun dalam sejarah manusia.

Kenapa karakter otonom pemimpin harus utuh dan kuat, karena pemimpin adalah cermin dan gambaran realitas bagi rakyatnya. Pentingnya posisi pemimpin sebagai cermin bagi rakyatnya dapat kita lihat dari beberapa karakter. Pertama, pemimpin tujuh nafas. Pemimpin tujuh nafas adalah pemimpin yang memutuskan suatu kebijakan penting, mengucapkan sesuatu ketika merespon situasi dan hal penting dan menerima semua informasi haruslah dengan kondisi yang stabil, tenang, dan tidak emosional.

Dalam ilmu “coaching” dikenal dengan berbicara setelah “hitungan tujuh nafas”, tujuh nafas ini dihitung dengan tujuh ketukan, (satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh) ketika dia hendak berbicara. Artinya, tidak secara spontan lansung berbicara dan merespon.

Kedua, as above so below (sebagaimana di atas, seperti itu di bawah) dan  as Inside, so Outside (sebagaimana di dalam, begitu juga di luar”). Berdasarkan teori ini, segala yang terjadi di luar pemimpin, apa yang terjadi di luar istana pemimpin, maka itu adalah cermin sebenarnya, gambaran utuh dari kondisi seorang pemimpin.apa yang dialami oleh rakyatnya, cermin dari kepemimpinan. Ketika pengangguran meningkat, kemiskinan di mana-mana, maka itu adalah cermin dari miskinnya ide, visi, rasa dari seorang pemimpin. Ketika di luar terjadi kegaduhan, kekacauan, ketidak nyaman, maka itu adalah cermin nyata dari kacau dan labilnya seorang pemimpin.

Dalam konteks ini, pemimpin adalah teladan, yang memberi contoh seperti kebijaksanannya, keramah tamahannya, kesederhanannya. Disini, pemimpin tampil sebagai sosok yang tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi segera memeriksa dan  introspeksi dirinya sendiri. Karena, apapun yang terjadi dan apapun yang dilakukan oleh bawahannya maka itu menjadi tanggung jawab pemimpin.

Ketiga, melihat dengan hati. Melihat dengan hati adalah melihat sekaligus merasakan keadaaan sebenanrya. Melihat dengan hati hanya bisa kita perolah dari pemimpin yang memang lahir dari hati rakyat dan dipilih dengan hati oleh rakyat, bukan dipilih dengan uang dan ancaman. Melihat dengan mata, terkadang tidak akan menyentuh hati sang pemimpin. Ketika melihat dengan hati, maka pemimpin akan tersentuh dengan segala realitas di sekitarnya sehingga tepat ketika melakukan sebuah tindakan. Pemimpin yang bisa menyentuh hati rakyat sudah sangat jarang kita jumpai.

Keempat, mendengar dengan mata. Kebanyakan pemimpin, ketika menerima sebuah laporan dan informasi, selalu mendengar dengan telinga sehingga tidak pernah tahu keutuhan informasi tersebut. Pemimpin yang selalu mendengar dengan telinga, kebanyakan akan timpang dalam mengambil keputusan. Cara pemimpin melakukan cross check terhadap sebuah informasi adalah mendengar dengan mata. Ketika sebuah laporan, sebuah informasi masuk, maka pemimpin mendengar dengan matanya sehingga segala kebenaran dan kecacatan sebuah informasi, dia akan tahu.

Kelima, telah selesai dengan dirinya sendiri. Kepemimpinan yang utuh adalah pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, telah selesai dengan kondisi emosionalnya, pemimpin yang telah selesai dengan segala hasrat dan keinginanya. Bahwa tujuan memimpin bukanlah untuk menumpuk kekayaan dan menambah harta secara megah. Namun, mendedikasikan diri dan memposisikan diri sebagai pelayan bagi rakyatnya.

Keenam, komunikatif. Pemimpin masa depan adalah pemimpin yang komunikatif. Pemimpin yang punya kemampuan komunikasi yang handal dalam mendialogkan berbagai kepentingan, mengkomunikasikan berbagai kepentingan sehingga semuanya bisa bertumpu menjadi satu sumberdaya besar dalam membangun negeri. pemimpin yang tidak punya kemampuan yang bagus, maka akan melahirkan dan menciptakan berbagai faksi di pemerintahannya dan akan terjadi pertarungan panjang antar faksi tersebut sehingga mengganggu kestabilan pembangunan.

Ketujuh, kehendak memperbaiki. Kepemimpinan sejatinya adalah sebuah kuasa (kehendak) untuk memperbaiki. Ketika kepemimpinan dijadikan “kehendak berkuasa” maka tidak ada perubahan yang dapat dilakukan, karena sang pemimpin selalu bertindak atas ruh kehendak berkuasa. Konsentrasinya terkuras pada bagaimana sebuah kekuasaan tidak dipermasalahkan dan tidak digugat. Padahal sebuah gugatan adalah hukum alam dalam proses kepemimpinan. Kepemimpinan yang revolusioner adalah menjadikan kuasa yang ada padanya sebagai sebuah kehendak untuk terus memperbaiki, menjadi lebih baik.

Dari ketujuh poin ini, sejatinya rakyat Aceh terus merindukan pemimpin yang baik, pemimpin yang benar-benar punya tujuh kriteria ini. 2017 adalah arena uji perubahan revolusioner kepemimpinan tersebut. Mari terus mencari pemimpin yang dinantikan tersebut, pemimpin yang terus membawa kepada kegemilangan, bukan pemimpin yang membawa kepada keterpurukan. Semoga Aceh terus membaik dan terus gemilang.

 

Teuku Muhammad Jafar Sulaiman,

–Menejer Program The Aceh Institute, Pemikir Filsafat, Politik dan Kenegaraan–

Komentar