Aburizal Bakrie

Oleh Bisma Yadhi Putra

LANGKAH Aburizal Bakrie untuk mempercepat Rapimnas Partai Golkar tampaknya akan dijegal oleh kubu Akbar Tandjung. Kepentingan di balik dipercepatnya Rapimnas yang semula dijadwalkan akan digelar pada bulan Oktober 2012 menjadi April 2012, menurut pihak yang berada di kubu Akbar Tandjung, adalah untuk semakin memuluskan langkah Aburizal Bakrie agar terpilih sebagai calon presiden yang akan diusung Partai Golkar.

Akbar Tandjung sendiri tidak berkeberatan apabila Rapimnas dipercepat, akan tetapi tujuannya adalah untuk menentukan mekanisme memilih calon presiden, bukan menentukan atau mendeklarasikan calon presiden yang akan diusung oleh Partai Gokar. Sebaliknya, upaya penjegalan ini tentu tidak akan disikapi dengan santai oleh para pendukung Aburizal Bakrie. Saat ini, sedang terjadi psywar di internal Partai Golkar.

Sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie tentu sangat berambisi untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilu mendatang. Sebagai salah satu pengusaha sukses, tentu sudah banyak dana yang dikucurkan untuk mewujudkan ambisinya dengan mulus. Jangankan untuk pihak-pihak di internal Partai Golkar, dari pebisnis atau politisi kelas kakap hinggap masyarakat menengah ke bawah sudah ia dekati guna memperbesar dukungan. Karena tidak ada yang gratis dalam politik, tentu sejumlah uang sudah ia kucurkan.

Perjalanan ke daerah-daerah sudah pula ia lakukan. Ditambah lagi dengan iklan politik di berbagai media massa, terutama televisi, yang memerlukan dana tak sedikit. Sebagai pengusaha yang punya modal melebihi dari cukup untuk memenuhi pendanaan logistik kampanye, Aburizal Bakrie tentu tidak akan tinggal diam menghadapi upaya penjegalan tersebut. Bagaimanapun juga, Rapimnas Partai Golkar harus menjadi langkah memuluskan ambisinya. Karena kalau tidak, peluangnya untuk maju dengan mudah akan tertutup.

Di lain pihak, kubu Akbar Tandjung berkepentingan untuk mengusung politisi senior itu agar bisa maju sebagai calon presiden. Dari dua Pemilu yang sudah dilangsungkan, yakni tahun 2004 dan 2009, ia belum pernah sekalipun diusung. Padahal, Akbar Tandjung adalah tokoh yang paling berjasa dalam memperjuangkan agar Partai Golkar bisa tetap eksis saat aneka gugatan menggerogoti partai berlambang pohon beringin ini pada awal-awal masa reformasi.

Dengan perjuangan keras Akbar Tandjung, kini Partai Golkar masih tetap gemilang di kancah perpolitikan. Andai saja saat itu ketua umumnya bukan politisi sehebat Akbar Tandjung, barangkali Partai Golkar sudah masuk kubur. Untunglah saat itu Partai Golkar dipimpin oleh seorang politisi setangkas Akbar Tandjung.

Kendati kemampuan politiknya sungguh tak diragukan, dan yang paling penting telah sangat berjasa menyelamatkan Partai Golkar, Akbar Tandjung belum pernah sekalipun diusung menjadi calon presiden. Pada Pemilu 2004, ia diganjal oleh skandal Buloggate II yang menjeratnya. Saat itu, Akbar Tandjung ditetapkan sebagai tersangka. Ambisinya terhalang oleh status hukumnya. Wiranto pun menjadi tokoh yang akhirnya diusung Partai Golkar. Pada Pemilu 2009, nasib Akbar Tandjung belum juga mujur. Saat itu Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla, yang diusung menjadi calon presiden.

Tampaknya Akbar Tandjung tidak akan mau melawatkan kesempatannya kali ini. Jika ia tidak maju dalam Pemilu 2014, maka ia terpaksa harus berjuang lagi pada tahun 2019. Itupun belum tentu terpilih. Kalaupun terpilih, saat itu usia Akbar Tandjung tentu sudah sangat tua. Ibarat pemain sepak bola, sudah sepantasnya Akbar Tandjung gantung sepatu. Ia lebih baik menjadi “pelatih” Partai Golkar saja. Masih banyak kader-kader Partai Golkar lainnya yang punya potensi. Lagian, regenerasi dalam partai politik mutlak harus dilakukan.

Walaupun tidak terpilih sebagai Presiden Indonesia pada Pemilu 2014, setidaknya birahi politik Akbar Tandjung sudah terlampiaskan. Karena itu, para pendukung Akbar Tandjung juga akan berusaha mati-matian untuk memperjuangkan agar Akbar Tandjung diusung Partai Golkar sebagai calon presiden. Menurut pihak yang mendukung Akbar Tandjung, sudah sepantasnya jasa Akbar Tandjung dihargai, salah satunya dengan memberi kesempatan padanya untuk maju dalam Pemilu 2014.

Mengusung Aburizal Bakrie atau Akbar Tandjung tentu punya konsekuensinya tersendiri. Jika yang diusung Partai Golkar adalah Aburizal Bakrie, salah satu kemungkinan terburuknya adalah ketiadaan soliditas di internal Partai Golkar. Mereka yang mendukung Akbar Tandjung bisa saja kecewa dengan keputusan tersebut, dan lebih parahnya lagi bisa saja menolak memberi dukungan sehingga timbul perpecahan yang bisa berakibat fatal terhadap konsolidasi di internal Partai Golkar sendiri. Kalau sudah begini, jangankan meraih simpati dari publik luas, dukungan dari dalam saja tidak dimiliki Aburizal Bakrie.

Sementara itu, jika Akbar Tandjung yang diusung, bukan tidak mungkin perpecahan juga akan terjadi. Mereka yang kecewa karena Aburizal Bakrie tidak diusung, lalu membuat barisan politik lain. Surya Paloh hengkang karena tidak berhasil merebut posisi Ketua Umum Partai Golkar. Karena Surya Paloh punya ambisi untuk maju pada Pemilu 2014, lalu ia mendirikan partai politik baru. Beberapa para pendukung yang dimiliki Surya Paloh kini tidak lagi di Partai Golkar.

Dengan demikian, bisa saja Aburizal Bakrie mengambil langkah serupa dengan keluar dari Partai Golkar dan mendirikan partai politik sendiri. Kalau sudah begini, Partai Golkar tentu akan sangat dirugikan karena kehilangan salah satu kader yang punya basis dukungan besar serta modal uang yang melimpah untuk memenuhi logistik partai. Parahnya lagi, bisa saja para pendukung Aburizal Bakrie yang kecewa lalu meninggalkan Partai Golkar untuk merapat pada partai politik baru tersebut, sebagaimana yang dilakukan beberapa pendukung Surya Paloh.

Upaya menjegal kepentingan Aburizal Bakrie yang hendak mempercepat Rapimnas Partai Golkar akan semakin memanaskan situasi. Aburizal Bakrie akan berusaha mati-matian agar Rapimnas itu untuk memuluskan langkahnya, sementara itu Akbar Tandjung siap menjegal langkah tersebut dengan mengusulkan agar Rapimnas tersebut hanya membahas mekanisme memilih calon presiden, bukan menentukan calon presiden. Siapa yang akan menang dalam perang urat saraf ini? Kita saksikan saja bersama-sama.[*]

*Penulis adalah Siswa Sekolah Demokrasi Aceh Utara, Angkatan II (2012).

Komentar