Foto Nenek Zaitun Pekanbaru (riauterkini.com)

Foto Nenek Zaitun Pekanbaru (riauterkini.com)Pekanbaru—Zaitun, nenek 62 tahun terbaring lemas di ruang unit perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Pekanbaru Medical Center (PMC), Riau. Namun ia masih tampak ceria dan begitu bersemangat menjawab ragam pertanyaan wartawan yang menghampirinya.

Tatanan bahasa yang terucap dari mulutnya yang tanpa gigi tidak begitu jelas hingga sulit untuk diartikan. Namun, dari sekian banyak kalimat yang diucapkan Zaitun hanya beberapa rangkaian kata yang dimengerti seperti, “Aku senang banyak nak menolong (aku senang ternyata banyak yang menolong)”.

Nenek ini baru saja menjalani operasi besar di mana tim medis rumah sakit swasta itu berhasil mengangkat tumor seberat 25 kilogram dari rahimnya yang renta.

Tidak dapat dibayangkan, tubuh nenek ini seusai menjalani operasi hanya sebarat 34 kilogram. Bobot tubuh yang tak layak bagi kalangan manusia dewasa normalnya.

Zaitun merupakan warga Desa Gemilang, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, yang sebelumnya dibawa ke Rumah Sakit Pekanbaru Medical Center (PMC) karena mengidap tomur rahim.

Direktur Medis RS PMC, Norkhalir Asnawi yang ditemui, Jumat (23/11), mengatakan, Zaitun masuk ke rumah sakit swasta itu sejak Selasa (20/11) dengan diantarkan beberapa orang warga sukarelawan.

“Niat kami adalah menolong, bahwa ada pasien yang tidak memiliki biaya menderita tumor rahim atas nama Zaitun,” katanya.

Dari pengakuan pasien sebelum menjalani operasi beberapa hari lalu, Zaitun merupakan nenek berusia 62 tahun yang telah memiliki satu orang anak berumur 20 tahun.

Namun tragisnya, anak tunggalnya tidak mampu berbuat apa-apa karena sejak lahir mengalami keterbelakangan mental.

Sementara suaminya bernama Mastor, telah berusia sangat tua, dengan umur lebih dari 92 tahun yang kini hanya bisa terbaring karena matanya mengalami kebutaan.

“Sebelumnya, kami mendapatkan kabar tentang penderitaan Zaitun melalui pemberitaan salah satu media cetak di Riau. Pada beberapa kolom media ini dikatakan kalau ada warga miskin yang tengah menderita tumor dan tidak ada biaya untuk berobat,” katanya.

Atas pemberitaan itu, demikian Asnawi, pihaknya kemudian tergugah untuk memberikan bantuan dengan memberikan komentar ke media yang menuliskan tentang kisah Zaitun.

“Tidak lama berselang, tepatnya Selasa (20/11), Zaitun diantar oleh pemuka masyarakat disana ke RS PMC dengan biaya ongkos patungan,” katanya.

Saat itu, kata Asnawi, pasien yang ditanyai mengaku sudah tiga tahun mengalami keganjilan di rahimnya yang kerap terasa nyeri.

“Namun membesarnya diakui pasien baru terjadi dalam tiga bulan ini. Bahkan diketahui bobot tumor tersebut mencapai 25 kilogram,” katanya.

Tidak Makan

Akibat dari tumor yang terus membesar selama kurun waktu tiga bulan itu, demikian Asnawi, Zaitun pun kesulitan untuk makan, bahkan dalam mengkonsumsi cairan.

“Ketika itu, tim medis kemudian melakukan pemeriksaan terhadap tubuh Zaitun. Kemudian pada akhirnya, tim medis memutuskan untuk mengoperasi pasien Kamis (22/11),” katanya.

Pengoperasian, kata dia, dilakukan oleh beberapa dokter spesialis. Mulai dari dokter kandungan, dokter penyakit dalam dan dokter spesialis bedah serta kebidanan.

“Pengoperasian terhadap pasien atas nama Zaitun dilakukan sekitar lebih dari satu jam. Dimana kami berhasil mengangkat secara utuh tumor seberat 25 kilogram dari rahim pasien,” kata dr Ichsan yang turut mengoperasi Zaitun.

Ketika menjalani operasi, demikian Ichsan, pasien dibius total sehingga tidak sadarkan diri. Setelah itu, lanjut dia, baru dimulai pembedahan untuk mengangkat tumor tersebut.

Dilihat dari kondisinya, kata dia, tumor yang menjangkit Zaitun memang sudah sangat parah, karena telah menganggu sistem organ lainnya, seperti lambung dan usus.

“Kondisi demikian yang menyebabkan pasien tidak bisa makan karena lambung telah tersempitkan oleh tumor tersebut,” katanya.

Namun kata dia, sangat disyukuri, tumor yang bersarang di rahim Zaitun akhirnya dapat diangkat secara utuh, tanpa ada yang tertinggal.

Kendati demikian, lanjut dia, tim medis masih harus mendeteksi menggunakan laboratorium terkait jenis tumor yang menyerang Zaitun.

“Jika tumor tersebut merupakan tumor jinak, maka Nyonya Zaitun sangatlah beruntung. Namun jika tumor tersebut ganas, maka akan dilakukan perawatan atau tindakan lanjutan,” katanya.

Untuk saat ini, kata dia, pascadiangkatnya tumor dari rahim, kondisi pasien sudah cukup membaik dengan bisa makan dengan normal.

Walau demikian, kata Ichsan, pasien masih membutuhkan perawatan intensif hingga beberapa hari kedepan sambil menunggu hasil laboratorium terkait status tumor yang menjangkitnya.

“Saat ini pasien masih diinapkan di ruang ICU. Namun hanya beberapa saat sebelum akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan,” katanya.

Pola Hidup

Dokter Ichsan mengatakan, tumor rahim yang menjangkiti Zaitun merupakan penyakit yang langka terjadi, dimana hal ini biasanya disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat.

“Pola hidup tak sehat yang dimakud yakni mulai dari makanan, lingkungan dan lainnya. Namun faktor lainnya juga bisa jadi karena keturunan atau ginetik,” katanya.

Tumor rahim, menurut dia, juga merupakan tumor yang jarang terjadi pada wanita berusia lanjut seperti Zaitun.

Penyakit ini, kata dia, lebih sering atau biasanya terjadi pada wanita-wanita usia produktif dengan persentase kurang dari sepuluh persen.

“Sementara untuk wanita usia lanjut, sepertinya sangat jarang terjadi dan kasus Zaitun ini merupakan kasus yang pertamakalinya,” kata dia.

Menurut dia, tumor merupakan penyakit yang merangsang pembentukan gumpalan daging dengan pertumbuhan yang begitu pesat pada fisik manusia.

Nah, lanjut dia, biasanya tumor atau daging tumbuh hanya bisa berkembang pada organ manusia pada kalangan produktif mengingat berbagai sistem organ pada tubuh yang maih sangat aktif.

“Makanya, kami juga sangat heran mengapa tumor rahim juga menjangkit wanita dengan usia lanjut. Hal demikian sangat jarang terjadi,” katanya.

Kondisi demikian, kata dia, bukan berarti tanpa sebab. “Semua penyakit datang pasti ada sebab dan akibat. Bisa jadi untuk pasien Zaitun, tumor yang tumbuh di rahimnya disebabkan adanya gangguan haid atau pembuangan darah kotor ketika masih muda dulu,” katanya.

“Untuk itu, kami mengimbau kepada wanita-wanita produktif untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit atau ke dokter kalau mengalami gangguan haid atau pembuangan darah kotor,” katanya.

Pengumpul Nipah

Seorang sukarelawan yang turut mengantarkan dan menjaga Nenek Zaitun di RS PMC, Hafiz, mengatakan, keseharian, Zaitun merupakan warga dengan kondisi perekonomian keluarga sangat memprihatinkan.

Sehari-hari, kata Hafiz, nenek dengan tubuh kurus kering ini bekerja mengumpulkan daun nipah yang dijualnya ke para penadah untuk atap sebuah rumah.

Di sebuah rumah mirip gubuk, Zaitun tinggal bersama seorang suami yang berusia lebih dari 92 tahun.

Kondisinya yang tua renta, membuat sang suami tidak lagi bisa berbuat apa-apa dan hanya terbaring lemas di dalam sebuah gubuk yang dihuni keluarga ini sejak berpuluh-puluh tahun silam.

Parahnya lagi, seorang anaknya yang telah beranjak 20 tahun, ternyata mengalami keterbelakangan mental dengan kondisi kejiwaan yang tidak normal.

“Waktu sehat, Nenek Zaitun bisa bekerja mencari nipah dengan penghasilan seharinya sekitar Rp20 ribu. Namun sejak sakit-sakitan karena tumor rahim, dia tidak lagi bisa bekerja dan menghidupi suami dan anaknya,” kata Hafiz.

Selama itu, keluarga nenek ini dihidupi oleh sejumlah warga yang berada pada satu lingkungan pedesaan terisolir tersebut.

Melihat kondisi keluarga Zaitun yang begitu memprihatinkan, Hafiz bersama sejumlah warga lainnya kemudian berinisiatif untuk berpatungan mengumbulkan biaya untuk mengantarkan sang nenek ke rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Indragiri Hiir.

Waktu itu, demikian Hafiz, sekitar pertengahan Oktober 2012, Zaitun sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indragiri Hilir.

“Sempat dirawat beberapa hari, namun karena peralatan medis yang minim, pihak rumah sakit kemudian merujuk nenek ke RSUD Pekanbaru,” katanya.

Ketika itu, karena biaya yang minim, warga memutuskan untuk membawa kembali Zaitun ke rumahnya yang berada di Desa Gemilang, Kecamatan Batang Tuaka, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau.

Sesampainya di rumah, kata dia, beberapa hari kemudian Hafiz dan warga lainnya mencoba untuk kembali mengumpulkan uang dengan sukarela.

“Setelah terkumpul uang alakadarnya, kami kemudian mendapat kabar kalau Rumah Sakit PMC di Pekanbaru juga ingin membantu Zaitun. Kami kemudian memutuskan untuk membawa nenek ke rumah sakit ini,” katanya.

Selama perawatan di RS PMC, demikian Hafiz, pihaknyalah yang menjaga sang nenek malang. Sementara warga sukarelawan lainnya, di kampung, bertugas untuk menjaga dan menghidupi dua anggota keluarga Zaitun yang tersisa, yakni sang suami yang buta dan sang anak yang memiliki keterbelakangan mental.[ant]

Komentar