Foto: Antara

PM, Banda Aceh – Masyarakat nelayan secara swadaya melakukan penggerukan Muara Krueng (sungai) Gampong Jawa, Kuta Raja, Banda Aceh. Pengerukan itu dilakukan karena sungai tersebut sudah semakin dangkal.

Panglima Laot (Lembaga Adat Laut) wilayah kota Banda Aceh, Surya menyatakan, dangkalnya Muara Krueng (sungai) mengakibatkan banyak kapal nelayan yang kandas saat hendak melaut.

“Pemerintah belum pernah melakukan penggerukan endapan lumpur disini, dan nelayan melakukan patungan lalu menyewa alat berat untuk mengeruk endapan lumpur ini,” kata Surya saat berada di lokasi pengerukan, Selasa (8/1).

Ia mengaku, masyarakat nelayan bersama pemilik kapal melakukan patungan dan menyewa ponton serta satu alat berat jenis excavator atau beko untuk mengeruk endapan lumpur hitam di Daerah Aliran Sungai (DAS) Gampong Jawa-Gampong Pande, Kuta Raja, Kota Banda Aceh.

“Akibat endapan lumpur ini ada kapal nelayan yang kandas dan bahkan ada yang sampai bocor,” ungkap Panglima Laot wilayah Banda Aceh itu.

Surya menjelaskan, kapal nelayan di wilayahnya bervariasi, dari 5-100 grose tonnage (GT). Masyarakat nelayan setempat pun melaut hingga ke perbatasan Hindia.

“Jumlah kapal lebih 100 armada dari, 5-100 GT. Kalau kapal di atas 20 GT sering kali kandas di sini,” sebutnya sembari menunjukkan lokasi yang sedang dikeruk.

Seorang pemilik kapal, Irwansyah Ibrahim membenarkan, nelayan bersama pemilik kapal melakukan patungan lalu menyewa alat berat untuk mengeruk endapan lumpur hitam itu.

“Kami berinisiatif mengumpulkan uang untuk mengeruk endapan lumpur di Daerah Aliran Sungai (DAS) karena kapal nelayan sering kali kandas,” ujarnya pemilik kapal tersebut.

(Irman Yusuf/Antara)

Komentar