IMG 20210303 WA0031
Rapat Koordinasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2021 di Aula Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, Banda Aceh, Rabu (3/3/2021).

PM, Banda Aceh – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh diminta untuk menyusun strategi pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan yang lebih efektif bagi kelestarian sumber daya alam hayati.

Mereka juga diharapkan mampu bersinergi guna menghindari tumpang tindih kegiatan. Demikian pesan Sekda Aceh yang dibacakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh Mawardi dalam Rapat Koordinasi Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh Tahun 2021 di Kantor DLHK Aceh, Rabu (3/3/2021).

Dalam rapat ini, semua pihak fokus memetakan berbagai persoalan terkait bencana, termasuk mitigasi. “Perlu perbaikan jika selama ini ada kekeliruan dalam mengelola hutan dan lingkungan hidup. Sehingga ke depan, peristiwa bencana alam semakin berkurang di Aceh,” ujar Mawardi.

Pengelolaan lingkungan juga sejalan dengan visi/misi Aceh Hebat, yang menjadi kebijakan Pemerintah Aceh periode 2017-2022. Mawardi menyebutkan, salah satu program unggulannya adalah ‘Aceh Green’, yang merupakan bentuk penegasan kembali bahwa pembangunan Aceh berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Namun disebutkan, saat ini begitu banyak permasalahan lingkungan muncul, baik disebabkan industri tanpa berlandaskan aspek kelestarian lingkungan, maupun kontribusi negatif masyarakat dalam pencemaran lingkungan.

Penggunaan bahan-bahan non organik secara masif, gas rumah kaca, emisi karbon, dan lainnya juga dikatakan telah menghadirkan ketidakseimbangan ekosistem dan mempengaruhi kualitas lingkungan hidup.

“Karena itu, pengelolaan lingkungan hidup secara bijak harus senantiasa dikampanyekan, dalam rangka melestarikan kebaikan alam serta menanamkan kepedulian yang tinggi dan kesadaran sosial dalam kehidupan bermasyarakat.”

Lebih lanjut Mawardi mengatakan, pengelolaan sektor kehutanan sejak dulu disebutkan telah menjadi idola dan memberi manfaat ekonomi yang luas bagi daerah bahkan dalam pembangunan negara. Sektor kehutanan telah memberi andil terhadap penyerapan tenaga kerja hingga berkembangnya industri hulu sampai hilir.

“Namun mesti kita sadari bahwa, selain manfaat yang kita dapat dari eksploitasi sumber daya alam, dalam waktu bersamaan kita berpotensi memberikan dampak negatif paska eksploitasi sumber daya alam tersebut,” ujar Mawardi.

Ia mengatakan, pembukaan wilayah hutan sebagai konsekuensi industri hulu, pemukiman baru yang terbentuk di dalam kawasan hutan, hingga merosotnya fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan, telah berakumulasi dalam menghadirkan permasalahan bagi kehidupan masyarakat khususnya di sekitar kawasan hutan bahkan hingga wilayah-wilayah yang jauh dari kawasan hutan.

“Beberapa waktu yang lalu, kita telah saksikan bagaimana kebakaran hutan dan lahan, banjir bandang, banjir luapan sungai, tanah longsor, hingga pemanasan global yang mendera bumi secara beruntun,” sebutnya.

Secara lebih luas, kerusakan alam juga disebut telah berimplikasi pada perubahan iklim yang cenderung ekstrim sebagaimana dirasakan akhir-akhir ini.(*)

Komentar