Berbagai program pengentasan kemiskinan diluncurkan Baitul Mal Aceh. Selain pemberdayaan ekonomi masyarakat, belakangan gencar merampungkan renovasi rumah fakir miskin dan menyokong biaya pengobatan pasien kurang mampu.

Baitul Mal Aceh mengucurkan anggaranRp 10 miliar untuk merenovasi 500 unit rumah fakir miskin. Setiap mustahik (orang berhak menerima zakat) memperoleh dana sebesar Rp20 juta yang bersumber dari dana zakat.

Plt Kepala Baitul Mal Aceh Zamzami Abdulrani mengatakan program renovasi rumah fakir miskin ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap program Pemerintah Aceh dalam menekan angka kemiskinan di provinsi berjuluk Serambi Mekkah ini. Proses renovasi tersebut dilaksanakan pada 2016 dan penyelesainnya pada 2017.

“Setelah kita rehab rumahnya, minimal sudah mengurangi beban ekonomi mereka, artinya mereka tidak lagi memikirkan untuk tempat tinggal, tapi fokus mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Zamzami.

Sementara itu, Ketua Komite Renovasi Rumah Baitul Mal Aceh, Jusma Ery menjelaskan, dana bantuan renovasi rumah sebesar Rp20 juta disalurkan ke rekening masing-masing mustahik. Meski demikian, Baitul Mal Aceh tetap melakukan pendampingan dengan menggandeng Baitul Mal kabupaten/kota agar bantuan tersebut benar-benar tepat sasaran.

Petugas Baitul Mal Aceh menyerahkan bantuan untuk anak penderita gizi buruk.

“Kita di Baitul Mal Aceh bekerjasama dengan Baitul Mal kabupaten/kota tidak lepas tangan terkait penyaluran bantuan. Kita dampingi mereka agar dana tersebut benar-benar digunakan untuk merehab rumahnya, mulai dari pengarahan hingga penyelesaian rehab,” jelas Jusma.

Proses penyaluran bantuan ini dilakukan untuk tiga wilayah yaitu wilayah Timur, Selatan dan Tengah. Tahap pertama dilaksanakan pada 2016 ke wilayah Timur. Selanjutnya untuk tahap kedua dan ketiga dilaksanakan pada 2017 untuk wilayah Tengah dan Selatan.

“Sedangkan proses penentuan mustahik, Baitul Mal Aceh meminta data kepada Baitul Mal kabupaten/kota. Setelah itu, baru tim Baitul Mal Aceh turun ke lapangan untuk memverifikasi kelayakan rumah yang akan dibantu,” kata Jusma.

Menurut Jusma, setiap bantuan yang diberikan tidak dipungut biaya sepeser pun dari mustahik. Ia meminta kepada penerima zakat untuk tidak percaya terhadap calo-calon yang meminta uang kepada penerima rehab rumah. “Jika di lapangan kita temukan tidak sesuai dengan kriteria fakir miskin yang telah ditentukan, maka Baitul Mal Aceh akan menolak dan diminta pengganti yang sesuai mekanisme penerima bantuan dana zakat tersebut,” ungkap Jusma.

Baitul Mal Aceh menyalurkan bantuan untuk tiga anak yang sakit parah dan kini sedang dalam perawatan di rumah sakit.

MEMBANTU PASIEN MISKIN
Meski biaya pengobatan di Puskesmas dan rumah sakit bagi warga Aceh teranggulangi melalui program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang diluncurkan Pemerintah Aceh, namun pihak Baitul Mall Aceh memiliki perhatian khusus terhadap pasien sakit parah dari kalangan kurang mampu.

Untuk program ini, Baitul Mal Aceh belum lama ini menyalurkan bantuan untuk tiga anak yang sakit parah dan kini sedang dalam perawatan di rumah sakit. Para penerima bantuan tersebut adalah Aris Munanzar (12) yang menderita kanker hati, Maryam Zahira (2,5) menderita keropos tulang, dan Bunga Ayu Sari (1) yang mengalami gizi buruk.

Bantuan diantar tim Baitul Mal ke rumah masing-masing penerima dengan besaran Rp1 juta per pasien. “Bantuan ini bersumber dari dana zakat asnaf miskin. Tujuannya untuk meringankan beban keluarga,” kata Kepala Baitul Mal Aceh, Zamzami Abdulrani Ssos.

Zamzami mengharapkan, bantuan yang diberikan dapat meringankan beban keluarga. “Baitul Mal akan terus berupaya menjadi yang terdepan jika menerima kasus seperti ini,” katanya.
Dalam menyalurkan bantuan semacam itu, jelas Zamzami, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan masyarakat, aparat desa serta pemerintah daerah setempat. “Semoga Baitul Mal bisa menjadi lembaga zakat yang dipercaya oleh umat yang tercepat dalam menyalurkan bantuan tanpa adanya kendala-kendala yang menyebabkan terlambatnya penyaluran bantuan,” harapnya.

Baitul Mal Aceh peduli terhadap nasib Muslim Rohingya.

MEMBANTU MUSLIM ROHINGYA
Tidak saja tanggap dalam menyelesaikan persoalan umat di Aceh, Baitul Mal Aceh juga menaruh perhatian khusus terhadap nasib umat Islam di luar negeri. Belum lama ini, Baitul Mal Aceh menyerahkan bantuan sebesar Rp100 juta untuk muslim Rohingya yang saat ini tersebar di tenda-tenda pengungsian, terutama yang berada di Bangladesh.

Bantuan tersebut diserahkan langsung Plt Kepala Baitul Mal Aceh, Zamzami Abdulrani kepada perwakilan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh, Thariq Farline di Kantor Baitul Mal Aceh, Banda Aceh. “Bantuan ini merupakan bentuk solidaritas kita sesama muslim yang tertindas, yang kebetulan hari ini dialami saudara kita muslim Rohingya,” kata Zamzami.

Zamzami menjelaskan, dana tersebut bersumber dari dana infaq yang selama ini dipotong dari rekanan proyek Pemerintah Aceh, di mana setiap kontraktor yang mendapat paket pekerjaan dari pemerintah dipotong sebesar 0,5 persen.

Ia berharap, dengan adanya bantuan tersebut dapat meringankan beban saudara seiman yang sedang ditimpa musibah. Di kesempatan itu, Zamzami juga mengajak semua pihak untuk ikut serta membantu Rohingya.

“Umat Islam itu bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggota ada yang sakit, maka seluruh tubuh merasa sakit, begitu juga kita, jika ada saudara kita yang musibah, kita harus bantu meringankan beban mereka,” katanya.

Perwakilan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Aceh, Thariq Farline mengatakan akan menyalurkan bantuan tersebut langsung kepada Rohingya. Bantuan tersebut nantinya akan dikemas sesuai kebutuhan di lapangan. “Saat ini yang sangat dibutuhkan di sana yaitu fasilitas sekolah, makanan dan kebutuhan tempat ibadah, serta kebutuhan lainnya,” katanya.

HARAPAN GUBERNUR
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf meminta Baitul Mal se-Aceh melahirkan terobosan-terobosan baru dalam pemberdayaan umat melalui dana Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS).
Harapan itu disampaikannya gubernur dalam sambutannya yang dibacakan Plt Kepala Baitul Mal Aceh Zamzami Abdulrani saat membuka Rapat Kerja (Raker) Baitul Mal Kabupaten/kota se-Aceh tahun 2017, di Hotel Grand Arabia, Banda Aceh, Rabu 15 November 2017.

“Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupatan/kota bertanggungjawab atas pengelolaan dana umat ini. Oleh karena itu pelaksanaannya harus beriringan antara ketentuan syariat dan peraturan perundang-undangan,” ujar gubernur.

Gubernur Aceh mengapresiasi kinerja Baitul Mal yang terus menunjukkan kemajuannya. Pada 2016, awalnya pemerintah menargetkan penerimaan Aceh dari sumber zakat sebesar Rp25 miliar. Namun dalam Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Aceh tahun 2016, Baitul Mal Aceh berhasil mengumpulkan zakat mencapai Rp27,97 miliar. “Jumlah capaian penerimaan zakat ini 12 persen lebih besar dari yang ditargetkan. Sedangkan khusus pendapatan infaq dan sedekah mencapai Rp22,45 miliar,” tandasnya.

Meskipun demikian, kata gubernur, Baitul Mal masih memiliki Pekerjaan Pumah (PR) yang lebih besar yaitu menggenjot penerimaan agar mencapai potensi zakat berdasarkan penelitian sebesar 1,4 trilliun. Karenanya, kehadiran Baitu Mal harus dapat menjadi motor bagi pengumpulan dan penyaluran dana umat yang lebih koordinatif di Aceh.

Sementara itu, Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, T Sulaiman SE mengatakan tujuan rapat kerja tahun ini, pertama untuk melakukan koordinasi dengan Baitul Mal se-Aceh dan meningkatkan pemahaman program dan kegiatan Baitul Mal se-Aceh.

Selain itu juga bersama Baitul Mal se-Aceh akan menyusun pedoman/panduan bagi Baitul Mal Aceh dan Baitul Mal se-Aceh dalam menyusun program pendayagunaan ZIS serta menetapkan target keberhasilan Baitul Mal se-Aceh tahun 2018.

Acara berlangsung selama tiga hari mulai Rabu 15-17 November 2017 di Grand Arabia Hotel Blang Padang. Para peserta yang hadir yaitu Kepala Badan Pelaksana dan Kepala Sekretariat Baitul Mal Kabupaten/kota se-Aceh. “Sedangkan untuk materi diisi oleh pemateri dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan dari lokal itu sendiri. Sedangkan materinya seputar strategi dan sinergisitas Pemerintah Aceh dalam penanggulangan kemiskinan,” tandasnya.

Raker yang mengankat tema “Zakat Berdayakan Ummat “ juga membahas terkait format pendistribusian zakat untuk penganggulangan kemiskinan perspektif syariah.[***]

Komentar

Ads Daftar Caleg Tetap Aceh Jaya 2019