Ilustrasi. (medium.com)

Ubadah bin Shamit bin Qais Al-Anshari Al-Khazraji biasa dipanggil Abu Walid merupakan salah satu sahabat Nabi SAW dari golongan Anshar.

Rasulullah pun mencintai sosoknya yang perawakannya tegap, tinggi, dan besar. Ia disegani banyak orang pada saat itu bukan hanya karena fisiknya, melainkan juga sikapnya yang teguh dan istiqamah dalam beragama Islam.

Ubadah merupakan kaum Anshar dari Bani Khazraj. Dia termasuk utusan yang datang ke Makkah untuk melakukan baiat kepada Rasulullah SAW dan golongan pertama yang masuk Islam (As-Sabiqun Al-Awwalun‎).

Adapun baiat ini dikenal dengan Baiatul Aqabah pertama. Ustaz Khalid Basalamah menyebut, sejak Ubadah melakukan baiat dan memeluk agama Islam, sejak itu pula Ubadah menyerahkan segala-galanya kepada Allah SWT. Dia menuruti apapun perkataan Nabi Muhammad SAW.

“Ubadah termasuk salah satu dari 12 orang beriman yang segera menyatakan keislaman dan mengangkat baiat, menjabat tangannya, dan menyatakan kesetiaan kepada Rasulullah SAW,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Sejak saat itu, setiap langkah dan perbuatan yang dilakukan Ubadah selalu menuju pada Allah SWT, Rasul dan Islam. Salah satunya ketika ia memutus persekutuan antara dirinya dan salah satu suku Yahudi, Bani Qainuqa, yang diketahui berkhianat.

Di antara Perang Badar dan Perang Uhud, orang-orang Yahudi di Madinah mulai menampakkan belangnya. Bani Qainuqa membuat ulah dengan menimbulkan fitnah dan keributan di kalangan kaum Muslimin.

Melihat hal ini, Ubadah secepatnya melakukan tindakan yang setimpal dengan jalan membatalkan perjanjian dengan mereka. Ia berkata, “Saya hanya akan mengikuti pimpinan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman!”

Allah SWT pun menurunkan ayat yang isinya memuji kesetiaan Ubadah pada Islam. Hal ini dituangkan dalam Q.S. Al-Maidah ayat 56, “Dan barang siapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman sebagai pemimpin, maka sungguh, partai atau golongan Allahlah yang beroleh kemenangan.”

Keputusan Ubadah diikuti kaum Muslimin yang berada di Madinah. Nabi Muhammad SAW pun mendukung pendapatnya. Saking taatnya pada agama dan takut akan hukuman yang diberikan ketika ia melakukan pelanggaran, Ubadah sempat menolak untuk dijadikan wali atau amir.

Hal ini terjadi setelah Rasulullah SAW menjelaskan perihal tanggung jawab seorang amir. Sosok Ubadah terkenal dengan zuhudnya.

Rasulullah suatu hari pernah menjelaskan tentang nasib yang akan menimpa orang-orang yang melalaikan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Setelahnya, ia bersumpah kepada Allah tidak akan menjadi pemimpin walau atas dua orang sekali pun. Sumpah ini pun ia penuhi.

Meski begitu, pada masa kepemimpinan Umar bin Khathab, Ubadah sempat menempati posisi hakim di Syam atau Palestina. Awalnya Ubadah menolak, tapi Umar menyebut umat Islam di Palestina membutuhkan sosok yang bisa mengajar Al-Qur’an dan memahami mendalam akan agama Islam.

Akhirnya Ubadah menerima dan berangkat ke Syam bersama Mu’adz bin Jabal dan Abu Darda. Ubadah dijuluki sebagai pria dengan kekuatan setara 1.000 Muslim. Ia mengikuti setiap peperangan tanpa terkecuali.

Bahkan, setelah Nabi wafat, ia masih ikut berjuang dalam menyebarkan agama Islam. Ubadah juga berperan dalam menaklukkan Mesir yang saat itu yang dipimpin Kaisar Muqauqis.

“Ubadah meninggal dalam kondisi tua pada usia 72 tahun. Ada banyak hal yang bisa dipetik dari kisah hidup sahabat ini. Ubadah termasuk Muslim yang menganut Islam secara keseluruhan, kaffah.

Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 208 tersebut, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Selain itu, Ubadah juga merupakan sosok yang sangat memperhatikan agama anggota keluarganya. Ini dibuktikan dengan istrinya, Ummu Haram binti Milhan al-Anshariyyah, yang ikut serta dalam beberapa peperangan, diantaranya Perang Badar dan Perang Siprus.

Sumber: Republika

Komentar