Tari Meuseukat Alas Gayo Alas. (Foto Pikiran Merdeka/Oviyandi Emnur)
Tari Meuseukat Alas Gayo Alas. (Foto Pikiran Merdeka/Oviyandi Emnur)

Lembaga Sejarah dan Purbakala Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Hasan, 1980:12), menyebutkan, ada sebelas suku bangsa di Aceh, salah satunya Suku Alas yang bermukim di Aceh Tenggara atau Tanah Alas. Kata “alas” dalam  “tikar”, mengumpamakan kondisi daerah itu yang membentang datar seperti tikar di sela-sela Bukit Barisan Pulau Sumatera.

Suku Alas dalam berbahasa memliki struktur bahasa dan kosa kata yang hampir sama dengan bahasa-bahasa di Batak, yaitu Tapanuli Selatan (Mandailing dan Angkola), Toba, Dairi, Simalungun, dan Karo, tetapi bahasa Alas tidak memiliki aksara sebagaimana dimiliki suku-suku Batak. Sebab Suku Alas fanatik terhadap agama Islam dan penulisan bahasa mereka dilakukan dengan aksara Arab atau huruf Jawi.

Ada banyak tradisi dan kesenian Suku Alas yang dilestarikan, tetapi jarang sekali diangkat ke publik. Semangat itu pula yang mendorong komunitas pemuda dan mahasiswa asal Aceh Tenggara di Banda Aceh menggelar Culture of Alas di Open Stage Taman Budaya Banda Aceh, Jumat (27/05/16) malam lalu.

Tari Saman Gayo Alas. (Foto Pikiran Merdeka/Oviyandi Emnur)
Tari Saman Gayo Alas. (Foto Pikiran Merdeka/Oviyandi Emnur)

Sejumlah tarian khas ditampilkan, di antaranya Atraksi Peulebat, Tari Meuseukat Alas, Tari Belo Meususun, dan Tangis Dilo. Nama tarian yang disebut terakhir merupakan bagian dari tradisi yang sangat mengental di Aceh Tenggara.

Tangis Dilo biasanya berlangsung dalam tradisi pernikahan. Menceritakan tangisan pengantin sebelum waktu subuh hari pernikahannya. Dilo artinya waktu sebelum Subuh atau tepatnya sahur jika bulan puasa. Tangis Dilo dilakoni si pengantin perempuan kepada ibunya sebelum hari “H” upacara pernikahan. Dengan kata lain, tangisan sebelum ia meninggalkan orangtuanya (ibu) untuk ikut suaminya.

Tari Kreasi Gayo Alas. (Foto Pikiran Merdeka/Oviyandi Emnur)
Tari Kreasi Gayo Alas. (Foto Pikiran Merdeka/Oviyandi Emnur)

Margareth J Kartomi dalam “The Kartomi Collection of Traditional Musical Arts in Sumatra” yang mengutip Yakub Pagan (1982), menjelaskan, Tangis Dilo dilakukan perempuan yang akan menikah seraya menyembah dan bersujud di pangkuan ibunya. Menunjukkan peranan ibu yang begitu besar dalam kehidupan si anak dan sesuai dengan ajaran agama agar selalu menghormati dan berbakti kepada orang tua khususnya ibu.

Pada malam Culture of Alas, tarian Tangis Dilo diunjukkan paling akhir dari sederet tarian lainnya, yang ditandai dengan pengantin pria menjemput pengantin perempuan dengan menggunakan payung. Ketua Panitia Culture of Alas, Oki Murzan Hani, mengatakan, acara itu digelar untuk memperkenalkan seni dan budaya Alas kepada masyarakat luas, yang selama ini sangat jarang terekspos.[]

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh