Masjid Nabawi di Kota Madinah Al-Munawwarah. (Republika)

Kemunafikan memiliki sejarah panjang dalam Islam. Menurutnya, kaum munafik banyak bermunculan di Madinah setelah kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar.

Pakar Al-Qur’an Indonesia yang juga mantan Rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta, Dr KH Ahsin Sakho Muhammad, menjelaskan mereka yang secara jumlah lebih kecil dan secara politik kurang menguntungkan jika memusuhi kaum Muslimin, akhirnya berpura-pura masuk Islam.

“Akan tetapi, di hati mereka masih tetap menyimpan kebencian dan permusuhan kepada Islam,” tutur dia. Menurutnya, ada sejumlah orang di sekeliling Nabi SAW yang merupakan sosok Munafik. Misalnya, Abdullah bin Ubay bin Salul, yang merupakan pemuka kaum Anshar di Madinah.

Kebencian Abdullah bin Ubay tidak lepas lantaran dia merasa kedatangan Nabi SAW memupuskan harapannya menjadi raja di Madinah. Akan tetapi, dalam sejarahnya, Nabi SAW tidak pernah memerangi kaum munafik. Sebab jika memerangi mereka, kata Ustaz Ahsin, Nabi SAW secara lahiriah bisa disebut memerangi sahabatnya sendiri.

“Dan kalian sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab (Yahudi dan Nasrani) sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kalian bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan” (QS Ali Imran: 186).

Kiai Ahsin menerangkan, Rasulullah SAW tidak mengeluarkan orang-orang munafik itu dari barisan orang-orang yang beriman. Allah tidak memberitahukan kepada Rasulullah SAW perihal pribadi dari orang-orang munafik. Meskipun Rasulullah mengenal mereka dari corak bahasa dan pengaruh perbuatan mereka.

Hal itu, kata Kiai Ahsin, dikarenakan Allah tidak menyandarkan hati manusia kepada manusia. Karena Allah yang hanya mengetahui isi hati manusia dan yang akan menghisabnya kelak di akhirat.

Allah hanya memberikan kekuasaan kepada manusia dalam perkara-perkara yang lahiriah dan nyata, sehingga manusia tidak menghukum dengan prasangka dan praduga.

Hingga menjelang dekat masa wafat, menurut Kiai Ahsin, Allah melalui malaikat Jibril memberi tahu Nabi SAW siapa saja orang di sekelilingnya yang munafik. Akan tetapi, Nabi SAW tidak pernah mengusir mereka dari Madinah selama mereka menampakkan keIslamannya dan menunaikan kewajibannya.

Nabi SAW juga tidak memberitahukan nama-nama tersebut kepada para sahabatnya. Hanya ada satu sahabatnya yang dibisikinya tentang siapa saja yang munafik, yakni Huzaifah ibnul Yaman. Huzaifah juga diminta untuk tidak menyebarkannya.

Umar bin Khaththab bahkan kerap mendatangi Huzaifah untuk menanyakan apakah Rasulullah menyebutkannya termasuk orang munafik. Namun Huzaifah hanya menjawab bahwa Umar tidak termasuk dari mereka.

Akan tetapi, kata Kiai Ahsin, orang-orang munafik itu bisa diketahui saat orang tersebut meninggal dunia. Rasulullah melarang mendirikan shalat mayit atas orang-orang munafik yang meninggal. Sehingga, para sahabat bisa mengetahuinya saat Rasulullah tidak mendirikan shalat mayit atas orang munafik.

Kiai Ahsin menjelaskan, pada saat Abdullah, anaknya Abdullah bin Ubay, meminta agar Rasulullah menshalatkan sang ayah, Nabi yang sebelumnya ingin menshalatkan lantas dilarang Allah. Sebab, Allah menegaskan orang munafik seperti Abdullah bin Ubay telah menjadi kafir.

Sehingga, Rasulullah pun tidak boleh memintakan ampunan untuk orang yang jelas munafik dalam nifaq i’tiqadi dan ‘amali. Sepeninggal Rasulullah, para sahabat bisa melihat hal itu dari Huzaifah. Apabila Huzaifah tidak ikut shalat mayit, maka Umar pun tidak melakukannya.

Sumber: Republika

Komentar