Oleh: Dr. Jabbar Sabil, MA
Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

 

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain),” serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman dan kafir). (QS. Al-Nisa’ [4]: 150).

Menurut para mufasir, orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah kaum Yahudi dan Nasrani. Tetapi sebagian mufasir mengkhususkannya pada Yahudi saja, sebab mereka lah yang intim bergaul dengan umat Islam kala itu, dan kebanyakan munafik juga dari kalangan Yahudi. Dapat dipahami Yahudi menolak kerasulan Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW, sedangkan Nasrani menolak kerasulan Nabi Muhammad SAW. Jadi mereka mengingkari kerasulan sebagian Nabi.

Ayat ini merupakan penegasan terhadap sistem keimanan Islam yang berupa perpaduan dimensi Ilahi dan dimensi insani. Dari dimensi Ilahi, hakikat iman adalah menyadari keberadaan Allah. Tetapi dari dimensi insani, tidak ada jalan bagi timbulnya kesadaran tentang keberadaan Allah, kecuali lewat penjelasan rasul. Sebab manusia tidak punya akses untuk mengetahui ada-tidaknya Allah. Dengan demikian, mengingkari rasul berarti menutup satu-satunya jalan mencapai iman.

Proposisi di atas semakin signifikan ketika masuk dalam detil persoalan iman. Misalnya tentang keberadaan Allah yang oleh sebagian orang diajarkan sebagai trinitas, sedangkan Nabi Muhammad SAW mengajarkannya Esa. Jika ajaran Nabi Muhammad SAW ditolak, lalu apa dasar kebenaran ajaran lainnya? Mengingat manusia tidak bisa membuktikannya secara empirik (korespondensi), maka satu-satunya jalan adalah argumen rasional (koherensi). Lalu kebenaran ditunjukkan dengan mengeliminir kontradiksi.

Sebaik apapun argumen yang dibangun tetap tidak membantu, sebab masalah sebenarnya adalah kontradiksi kedua ajaran itu. Koherensi mungkin dapat membantu menganulir kontradiksi internal satu ajaran, tetapi tidak antarajaran. Oleh karena itu, perlu argumen yang menunjukkan kesalahan ajaran yang berkontradiksi dengannya. Hal inilah yang dibangun ayat di atas dengan argumen kesatuan Allah dan rasul-Nya. Logikanya, ajaran yang bertentangan dengan rasul itu bukan dari Allah.

Logika di atas membongkar kebohongan kaum munafik yang menyatakan beriman kepada Allah walau mengingkari Nabi. Jika benar mereka beriman kepada Tuhan yang sama dengan Tuhan Nabi Muhammad SAW, mengapa ajaran mereka bertentangan dengan ajaran Muhammad SAW? Tentunya tidak logis jika Tuhan yang sama memberi informasi kontradiktif, maka pengingkaran terhadap nabi menunjukkan kekufuran dan kesalahan ajaran mereka.[]

Komentar