Harus mampu menghafal dua juz Alquran menjadi syarat utama kelulusan santri tingkat Aliyah di Pesantren Babun Najah Banda Aceh. 

Pondok pesantren yang mengkobinasikan pendidikan umum dan agama semakin diminati para anak didik dari berbagai kalangan. Apalagi pesantren modern dengan program-program unggulan yang tidak dimiliki sekolah umum.

Hal itu pula yang ditawarkan Pesantren Babun Najah di Desa Doy, Ulee Kareng, Banda Aceh. Berbagai program unggulan yang bersentuhan langsung dengan penguatan aqidah dan intelektualitas santri menjadi mata pelajaran utama di pesantren yang berdiri sejak 1994 ini.

Program tersebut antara lain, para santri tingkat Aliyah yang akan diwisuda harus mampu menghafal sekurang-kurangnya dua juz Alquran. “Program tahfidh ini sudah kami berlakukan sejak 2013,” kata Wakil Pimpinan Pesantren Babun Najah Ustuz Edi Azhari MPd saat dijumpai Pikiran Merdeka, Jumat (6/5/2016).

Meski baru diterapkan, kata dia, program tersebut berjalan lancar. “Untuk pencapaian target hafalan tersebut, para santri diwajibkan menghafal sejak masuk di kelas satu Aliyah. Selanjutnya, mereka menyetor hafalannya secara bertahap kepada wali kamar masing-masing,” papar Edi Azhari.

Dia menjelaskan, program tahfidh tersebut bertujuan untuk mempersiakan bekal bagi pribadi santriwan dan santriwati sebelum mereka melanjutkan pendidikannya di beberapa fakultas yang mengutamakan hafalan sebagai syarat masuk.

“Kami rasa hafalan Al-Quran ini akan membantu mereka saat keluar dari pesantren ini nantinya. Apalagi bagi santriwan, ini akan memudahkan mereka saat dipercayakan menjadi imam di kalangan masyarakat,” lanjut Edi Azhari.

Program unggulan di pesantren yang dipimpin Drs Tgk Muhammad Ismy Lc MA atau akrab disapa Abu Madinah itu memang mendapat dukungan dari wali murid. “Kami juga sedang mengoptimalkan kurikulum yang lebih mengarah ke program dayah, khususnya tahfidh secara keseluruhan,” tandas Edi Azhari.[]

Komentar