Ketua Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh melantik pengurus partai dalam Rapat Koordinasi Partai Aceh Ban Sigom Aceh di hotel Hermes Palace, Jumat malam, 23 Oktober 2015. Klikkabar.com
Ketua Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh melantik pengurus partai dalam Rapat Koordinasi Partai Aceh Ban Sigom Aceh di hotel Hermes Palace, Jumat malam, 23 Oktober 2015. Klikkabar.com

Upaya melengserkan Tgk Irhafa Manaf dari jabatan Ketua DPW Partai Aceh dan  KPA Aceh Selatan makin menguat. Duek Pakat pun digelar untuk memuluskan pelengseran itu.

Kamis, 28 April 2016, puluhan kader Partai Aceh dan anggota KPA Wilayah Lhok Tapaktuan melangsungkan duek pakat di Hotel Chaterin, Tapaktuan.  Acara yang terkesan digelar mendadak itu dipimpin anggota majelis DPA PA/KPA Pusat Tgk Abdul Khadir dan Wakil Ketua I DPW PA Aceh Selatan Tgk Jalaluddin alias Buyong Tangah. Antara lain dihadiri pimpinan dan anggota Tuha Peut KPA Wilayah Lhok Tapaktuan, 5 Panglima Daerah (Pangda), 25 Panglima Sagoe, anggota DPRK Aceh Selatan dari Fraksi Partai Aceh serta sejumlah tokoh KPA dan kader Partai Aceh lainnya.

Anehnya, duek pakat  ban sigom Aceh Selatan tersebut justru tidak dihadiri oleh Ketua DPW PA yang juga Ketua KPA Aceh Selatan, Tgk Irhafa Manaf beserta jajaran pengurus lainnya. Irhafa Manaf mengaku tidak diundang dalam acara tersebut bahkan pihaknya menyesalkan kenapa tidak digelar di kantor DPW PA. “Memang ada skenario khusus yang dirancang oleh oknum tertentu untuk melengserkan saya,” tegas Irhafa Manaf kepada Pikiran Merdeka.       

Wakil Ketua I DPW PA Aceh Selatan Tgk Jalaluddin alias Buyong Tangah saat dikonfirmasi Pikiran Merdeka, Jumat pekan lalu, menyatakan agenda utama yang dibahas dalam duek pakat tersebut adalah untuk konsolidasi seluruh mesin politik partai di lapangan dalam rangka memenangkan H Muzakir Manaf atau akrap disapa Mualem sebagai bakal calon Gubernur Aceh pada Pilkada 2017.

Terkait agenda pergantian Ketua DPW PA dan KPA Aceh Selatan, Buyong Tangah juga tidak menampiknya. Namun, menurutnya, dalam acara duek pakat tersebut tidak secara spesifik membahas persoalan itu, sebab telah diputuskan langsung oleh Mualem dalam pertemuan dengan pihaknya beberapa waktu lalu di Banda Aceh.

“Di hadapan puluhan rekan-rekan anggota KPA dan kader Partai Aceh, Mualem telah menyatakan meminta waktu selama satu bulan ke depan untuk mengevaluasi kinerja Irhafa Manaf. Maka kepada kami pun Mualem berpesan bahwa segera bekerja semaksimal mungkin untuk membesarkan kembali organisasi KPA dan Partai Aceh dengan cara merangkul kembali seluruh anggota yang selama ini sudah cerai berai serta berupaya semaksimal mungkin merebut simpati rakyat,” kata Buyong Tangah.

Untuk menjamin roda organisasi tetap berjalan seperti biasa, sambung mantan kombatan asal Kecamatan Kluet Selatan ini, Mualem menyerahkan mandat kepemimpinan organisasi PA/KPA Aceh Selatan kepada majelis wilayah dan panglima daerah, sampai turunnya keputusan Mualem nantinya. “Setelah proses ini berjalan, nanti Mualem akan mengambil sikap apakah tetap mempertahankan Irhafa Manaf atau menunjuk sosok lain menggantinya sebagai Ketua DPW PA dan KPA Aceh Selatan,” ujar Buyong Tangah.

Ditegaskannya, keputusan puluhan anggota KPA dan kader Partai Aceh mengusulkan pergantian Tgk Irhafa Manaf kepada Mualem, selain karena yang bersangkutan selama ini merangkap jabatan yakni sebagai Ketua DPW PA sekaligus Ketua KPA sehingga dinilai berat menjalankan roda organisasi, juga sosok Irhafa Manaf dinilai tidak mampu menyatukan seluruh anggota KPA dan kader Partai Aceh.

“Selama ini mesin politik partai dilapangan tidak solid. Kondisi itu sangat mengkhawatirkan bagi masa depan Partai Aceh di Aceh Selatan, apalagi Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh sudah di ambang pintu. Karena itu, sudah menjadi kewajiban kami untuk memastikan mesin politik partai benar-benar berjalan di lapangan,” tegasnya.

Sumber Pikiran Merdeka menyebutkan, sikap penolakan terhadap sosok Tgk Irhafa Manaf sebenarnya sudah sejak lama berembus kencang dari akar rumput, namun pergerakan itu bagaikan ‘api dalam sekam’. Dasarnya, selain karena dinilai sosok Irhafa Manaf masih sangat muda dalam hirarki mantan kombatan GAM, keberadaannya selama ini juga dinilai kurang mengayomi seluruh anggota, melainkan lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

“Kalau dilihat dari segi senioritas, masih cukup banyak sosok mantan kombatan yang lebih pantas memimpin KPA dan PA Aceh Selatan. Jabatan itu tidak bisa dianggap sepele, melainkan harus benar-benar orang yang berwibawa dan peuneutohnya harus didengar oleh seluruh anggota di lapangan,” ungkap sumber.

Selain itu, Tgk Irhafa Manaf juga dituding telah berencana akan mengarahkan sikap politik Partai Aceh Kabupaten Aceh Selatan menjadi perahu calon patahana atau incumbent untuk maju sebagai bakal calon Bupati Aceh Selatan pada Pilkada 2018.

Isyarat itu ditangkap dengan jelas oleh sebagian anggota KPA dan kader Partai Aceh di Aceh Selatan. Indikasinya adalah kedekatan Tgk Irhafa Manaf dengan Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra SH selama ini. Bahkan, beberapa anggota KPA dan kader Partai Aceh menduga kuat bahwa selama ini Irhafa Manaf turut menerima paket proyek dari bang TS, sapaan akrap Teuku Sama Indra.     

“Jika memang dia ingin mengarahkan sikap politik DPW PA Aceh Selatan untuk mengusung HT Sama Indra pada Pilkada 2018 mendatang, kenapa tidak dinyatakan langsung secara terus terang dan terbuka. Demikian juga terkait jatah proyek, jika benar ada diberikan selama ini, kenapa tidak diperjuangkan rekan-rekan yang lainnya di lapangan yang notabenenya sedang dihimpit persoalan ekonomi selama ini,” beber sumber tersebut.

Tudingan akan mengarahkan dukungan politik Partai Aceh untuk mengusung Bupati HT Sama Indra pada Pilkada 2018 memang diakui Ketua DPW PA/KPA Aceh Selatan Tgk Irhafa Manaf.  “Benar, di balik upaya pelengseran saya dari posisi Ketua DPW PA dan KPA gara-gara dituding ingin mengarahkan sikap politik Partai Aceh untuk mengusung Bupati HT Sama Indra pada Pilkada 2018,” kata Tgk Irhafa Manaf kepada Pikiran Merdeka, Sabtu pekan lalu.      

Pihaknya, sambung Irhafa Manaf, sangat menyesalkan gerakan pelengseran terhadap dirinya oleh segelintir oknum kader Partai Aceh dan anggota KPA hanya gara-gara tuduhan bahwa DPW Partai Aceh Kabupaten Aceh Selatan akan mengarahkan dukungan politik kepada calon incumbent. “Tuduhan itu saya nilai terlalu mengada-ngada, sebab prinsip saya adalah membuka pintu selebar-lebarnya kepada semua pihak, terutama pihak dari luar anggota KPA dan kader partai. Sebab partai ini milik seluruh rakyat Aceh, bukan milik segelintir oknum,” tegasnya.

Khusus terhadap HT Sama Indra SH yang saat ini sedang menjabat Bupati Aceh Selatan, menurut Tgk Irhafa Manaf, sudah sewajarnya jika Partai Aceh memasukkan namanya ke dalam daftar bakal calon kandidat yang akan dipertimbangkan. “Meskipun hal itu belum bersifat final dan mengikat, tapi kan tidak ada salahnya jika Partai Aceh terus memantau kinerja yang bersangkutan. Apalagi yang bersangkutan telah membuktikan kinerjanya kepada rakyat Aceh Selatan melalui sejumlah gebrakan pembangunan yang telah direalisasikan selama ini,” paparnya.

Selaku pimpinan Partai Aceh dan KPA di Aceh Selatan, kata dia, dirinya tidak ingin melihat kader partai dan anggota KPA kembali terpuruk seperti yang terjadi pada Pilkada lalu. “Intinya, saya tidak ingin melihat teman-teman saya kembali terpuruk atau ibaratnya jatuh ke lobang yang sama. Kita semua harus belajar dari pengalaman Pilkada tahun 2012 lalu, yakni akibat masing-masing pihak mempertahankan ego sektoral, sehingga Partai Aceh menuai kekalahan,” tandasnya.

Irhafa Manaf membantah keras tudingan yang menyebutkan dirinya telah dicopot dan kepengurusan organisasi KPA/PA dibekukan oleh Ketua Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh (DPA PA/KPA) H Muzakir Manaf. Dia memang mengakui, belasan kader partai dan anggota KPA Aceh Selatan telah menghadap Muzakir Manaf di Banda Aceh beberapa waktu lalu menuntut pelengseran dirinya.

“Merespon tuntutan tersebut, Mualem hanya menyatakan bahwa meminta waktu selama satu bulan ke depan untuk mengevaluasi kinerja saya selaku Ketua DPW PA dan KPA Aceh Selatan. Saat itu, tidak ada satu katapun yang terucap dari mulut Mualem telah mencopot jabatan saya dan membekukan roda organisasi DPW PA dan KPA Aceh Selatan,” tegas Tgk Irhafa Manaf.

Karena itu, kata dia, pihaknya akan mempertanyakan keputusan menggelar acara ‘duek pakat’ secara tertutup di sebuah hotel di Tapaktuan.  “Kita memiliki kantor dengan alamat yang jelas dan siap menerima kedatangan kawan-kawan setiap saat. Jika memang ingin menggelar ‘duek pakat’ kenapa tidak kita laksanakan secara resmi di kantor partai, kenapa harus sembunyi-sembunyi di tempat tertutup,” sesal Tgk Irhafa Manaf.

Irhafa Manaf mengakui bahwa pihaknya telah melaporkan secara langsung kepada Mualem terkait tudingan yang penuh kekeliruan dan cenderung menyesatkan itu. “Mualem meminta kepada saya agar tidak terpengaruh dengan isu-isu yang macam-macam. Mualem meminta agar terus bekerja semaksimal mungkin dalam rangka memenangkan beliau sebagai bakal calon Gubernur Aceh pada Pilkada 2017,” tandas Irhafa.[]

Komentar