PM, Aceh Utara – Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur yang banyak dibutuhkan untuk membuat ragam produk makanan. Jamur yang berbentuk seperti cangkang tiram ini selain untuk bahan masakan, juga bisa dijadikan produk camilan, seperti keripik jamur atau jamur krispi.

Salah satu usaha budidaya jamur tiram berada di Desa Cot Meureuboe, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, yang dilakoni oleh Suryadi. Ia baru saja menggeluti usaha itu sejak 2019.

Pilihan Suryadi untuk membudidayakan jamur tiram muncul usai serangkaian program pelatihan yang diikutinya di Dinas Kehutanan Kabupaten Aceh Utara. Pada tahun 2015 silam, ia menjalani pelatihan cara budi daya jamur tiram ke Siantar selama sebulan. Dari sana lah Suryadi memiliki keterampilan tersebut.

Untuk mewujudkan usahanya, Suryadi mulai mengumpulkan sejumlah bahan baku, seperti serbuk gergaji halus dari jenis pohon yang tidak mengandung minyak, atau yang sering digunakan dari jenis kayu sengon. Selain itu ia juga mengumpulkan dedak padi serta kapur bukit.

Setelahnya, baru lah Suryadi memulai usaha budidaya jamur tiram dengan mengandalkan lokasi seluas 3×5 meter di sisi kanan rumahnya. Luas lahan tersebut mampu memuat media tanam baglog jamur tiram sebanyak 1500 buah. Menurutnya, panen jamur tiram bisa dilakukan pada hari ke-13 dengan hasil jamur seberat 15 kg.

Lihat Juga: Pasang Surut Usaha Pengrajin Rapa’i Kala Pandemi

Suryadi juga mengatakan, selama 4 bulan jamur pada media tanam masih berproduksi dengan stabil, namun memasuki bulan ke-5 dan 6 hasil produksi sudah menurun.

“Jamur tiram hasil budi daya ini dipasarkan ke Lhokseumawe dan Batuphat dengan harga 40 ribu rupiah per kilo,” ujarnya kepada Pikiran Merdeka.

Di sisi lain, ia menjelaskan bahwa permintaan jamur tiram dari konsumen sangat banyak. Sementara hasil produksi budi daya sangat sedikit lantaran terkendala modal usaha.[]

Teks & Foto: Suryadi

Komentar