Foto: PM/Oviyandi Emnur

Alquran adalah kitab suci yang diturunkan Sang Khalik sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Ulama dan pemikir terkemuka dari abad ke-11 M, Abu Hamid al-Ghazali, menggambarkan Alquran sebagai lautan ilmu sekaligus hikmah yang luas.

Selama lebih dari 14 abad sejak diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Alquran menyimpan keistimewaan dan rahasia yang mengundang minat dan daya tarik manusia untuk mempelajarinya. Tiap sisi dari kitab suci itu telah memberikan perspektif dan ragam pemaknaan yang berbeda.

Ilmu tafsir telah menjawab kebutuhan akan kaidah untuk mempelajari dan mendalami lautan ilmu yang terkandung dalam Alquran. Kajian ilmu tafsir yang dilakukan para ulama di era klasik telah terdokumentasi secara apik dalam sejumlah kitab utama Ummahat at-Tafsir.

Para cendekiawan Muslim memandang perkembangan dan dialektika ilmu terus berkembang. Improvisasi pun menjadi mutlak diperlukan. Fenomena itu ditangkap secara baik oleh Syekh Muhammad Abdullah Darraz, guru besar Ilmu Tafsir pada Univeritas Al-Azhar, Kairo.

Syek Darraz telah menulis kitab yang bertajuk An-Naba’ al-Azhim. Kitab yang dikarang tokoh kelahiran Deyai, Provinis Kafr El Syekh, Mesir, 8 November 1894, itu merupakan hasil kumpulan materi kuliah yang disampaikannya kepada mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Ilmu Tafsir Univeristas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Putra tokoh kenamaan Syekh Abdullah Darraz-tokoh yang pernah ditunjuk oleh Imam Muhammad Abduh sebagai pengasuh Ma’had Al-Azhar di Alexandria itu berharap, kitab An-Naba’ yang ditulisnya bisa dimanfaatkan oleh seluruh umat Islam tanpa dibatasi sekat-sekat mazhab.

Tema-tema yang disajikan dalam kitab itu pun ditulis dengan paparan yang logis dan mudah dimengerti. An-Naba’ al-Azhim berarti ‘kabar berita yang bagus’. Kajian, paparan, dan uraian yang disampaikan dalam kitab itu memang sangat dinanti-nantikan sebagian umat Islam di dunia.

Sejumlah kalangan menilai, kandungan dan isi kitab An-Naba’ begitu unggul. Bahkan, kitab ini juga disebut-sebut para ahli tafsir sebagai salah satu magnum opus Syekh Darraz dalam bidang Ilmu Alquran.

Melalui kitabnya tersebut, Syekh Darraz mengupas tema-tema aktual yang kerap menggelitik dan dipertanyakan banyak pihak terkait ilmu tafsir. Sebut saja, soal hakikat dan karakteristik Alquran serta beberapa tuduhan yang ditujukan kepada Alquran.

Tak heran jika sebagian akademisi menyebut dan memasukkan An-Naba’ ke dalam daftar referensi utama ilmu munasabat atau kajian korelasi Alquran. Kalangan lain mengganggap kitab itu sebagai rujukan studi tentang kemukjizatan struktur kalimat (al-ijaz albayani) Alquran.

Dalam kitabnya itu, Syekh Darraz menawarkan solusi tentang metode berinteraksi dengan Alquran; membaca dan memahaminya. Kitab An-Naba’ telah menambah debit kepakaran sang syekh dalam agama lewat tulisan-tulisannya. Di samping karya-karya berbobot lainnya, di bidang studi agama, misalnya, tokoh yang memperoleh gelar dari Al-Azhar pada 1916 itu pernah menulis kitab bertajuk Ad-Din, sebuah karya monumental yang mengupas asal usul, relevansi, dan prospek agama di masa mendatang.[]republika

Komentar