Komitmen Abdul Musawir terhadap timnas tidak diragukan. Dirinya menjadi salah satu dari sedikit pemain yang tidak pernah pulang ke klubnya meski Persiraja sedang bermain di kompetisi Indonesian Premier League (IPL). Padahal, dia merupakan pilar sekaligus kapten Persiraja.

“Ini yang membanggakan dari seorang Musawir. Dia tetap bertahan di timnas. Lagipula, klubnya mendukung penuh agar dia fokus di timnas,” ujar Fabio Oliveira, asisten pelatih timnas sebagaimana dilansir Tabloid Bola.

Musawir merupakan salah seorang bagian penting dari Persiraja. Ia loyal meski mendapat tawaran untuk keluar dari Aceh. Ia juga termasuk pemain yang telah mengantarkan Persiraja merangkak dari Divisi Utama ke IPL.

Kesediaan dan loyalitas Musawir tersebut juga mengantarkan dirinya sebagai ikon baru sekaligus kapten Persiraja. Ia bangga menjadi duta Aceh di timnas. Ia ingin membuktikan pantas membela timnas Merah-Putih.

“Jangan ragukan nasionalisme kami. Aceh selalu ingin memberikan yang terbaik untuk Merah-Putih. Sejarah menunjukkan Aceh yang menyumbang pesawat terbang pertama tak lama setelah Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan,” tandasnya sebagaimana dikutip Pikiran Merdeka dari Tabloid Bola edisi Senin-Rabu, 7-9 Mei 2012.

Musawir berharap pemanggilannya ke timnas membuka peluang bagi pemain Aceh lain untuk membela Indonesia.

Kilas balik

Sebenarnya karier Musawir nyaris saja terhenti karena bencana gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Namun tidak lama setelah tragedi itu, pengidola (alm) Irwansyah yang merupakan salah satu legenda Persiraja tersebut diselamatkan oleh PSIM Yogyakarta. Saat itu, ia tak memiliki apa-apa lagi pasca-tsunami. Namun PSIM kemudian mengirimi uang untuk membeli pakaian dan tiket pesawat. Sayang, ia hanya bertahan tiga bulan karena harus pulang ke Aceh setelah kembali terjadi gempa di Nias tahun 2005. Padahal ia sudah terikat kontrak dengan PSIM.

“Saya berniat mengembalikan uang kontrak kepada PSIM. Namun, manajemen menyampaikan saya tidak perlu mengembalikan. Itu juga menjadi sumbangan PSIM untuk saya yang menjadi korban bencana. Saya sampai menangis di telepon saat Pak Yoyok menyampaikan hai itu,” ujar Musawir.

Ya, tragedi tsunami 26 Desember 2004 mengakibatkan Abdul Musawir kehilangan segalanya. Seorang kakak dan adiknya meninggal dunia, sementara satu kakaknya yang lain menderita patah tulang kaki karena terjepit. “Saya lalu mengungsi ke Medan. Saya sudah tidak berpikir akan bermain sepak bola lagi. Yang penting saya bekerja apa saja,” ungkap ayah dua anak itu.

Musawir terdiri dari keluarga besar dengan 11 bersaudara. Hanya dirinya yang menekuni sepak bola. “Saya sempat bermain bersama almarhum Irwansyah. Siapa pun pemain Aceh pasti bangga bermain bersama dia. Semua mengidolakannya. Namun, semua harus berakhir saat terjadi bencana,” ungkapnya.

Trauma gempa dan tsunami masih melekat. Saat di sekitarnya ada goyangan sedikit saja meski bukan karena gempa, ayah dari dua anak ini terlihat pucat. Karena itu, Musawir sempat menangis saat Aceh kembali diguncang gempa beberapa pekan lalu. Saat itu dia sedang bertanding menghadapi Persikabo di Piala Indonesia.

“Saat menelepon, istri sudah menangis. Tiba-tiba komunikasi terputus dan tidak bisa dihubungi lagi, saya pun panik dan hanya bisa menangis. Saya bersyukur keadaan keluarga baik-baik saja,” katanya. [bola/chs]

DATA DIRI
Nama: Abdul Musawir
Lahir: Banda Aceh, 19 Mei 1984
Tinggi: 167 cm
Berat: 63 kg
Orangtua: Mahmud Aras & Salmiah
Anak ke: Tujuh dari 11 bersaudara
Istri: Liza Andika
Anak: Abdul Karim Benzema (3,5 tahun) & Abdul Sami Khedira (1,5 tahun)
Idola: Irwansyah
Klub Favorit: Real Madrid
Posisi: Tengah
No Punggung: 7
Karier Timnas: 2012-Timnas Senior
Karier Klub: Persiraja (2003-2005), PSIM Yogyakarta (2005), Persiraja (2006-…)

Komentar