Desa Kebun Batang Ara Kecamatan Sekerak terletak di Kabupaten Aceh Tamiang. Mayoritas mata pencaharian penduduk setempat yaitu pekerja kebun kelapa sawit. Jumlah penduduk yang tidak banyak membuat kegiatan masyarakat cenderung pasif. Disinilah kelompok KKN AT 149 yang beranggotakan 6 orang mahasiswa dari berbagai fakultas diantaranya, mipa kimia, pertanian, hukum, kedokteran hewan dan teknik mesin mengabdi kepada masyarakat.

Ide baik ini digagas oleh Korcam Kecamatan Sekerak Dr. Sulastri, M.Si., dosen pada prodi pendidikan kimia FKIP Unsyiah. Kegiatan ini mengusung tema “Pemberdayaan Potensi Sumber Daya Alam untuk Peningkatan Perekonomian Masyarakat dan Kelestarian Alam di Kabupaten Aceh Tamiang”. Berbicara mengenai sumber daya desa, tentunya terdapat hal-hal yang dapat dikembangkan untuk pemberdayaan ekonomi. Salah satunya yakni jamur sawit/jamur merang atau jamur ndolos (istilah yang dinamai oleh masyarakat).

Jamur ini umumnya tumbuh di batang pohon kelapa sawit yang telah membusuk. Desa Kebun Batang Ara tentu memiliki potensi untuk pembudidayaan jamur tersebut. Secara umum jamur ini memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia. Senyawa yang terkandung pada jamur berupa asam amino esensial (asam amino yang wajib dikonsumsi dan dibutuhkan oleh tubuh) dan riboflavin yang merupakan vitamin b12 yang berguna dalam proses penguraian karbohidrat dan protein menjadi energi.

Hal ini tentu menjadi kabar baik bagi penderita diabetes. Penyakit diabetes sendiri merupakan kelompok penyakit dengan kadar gula tinggi dalam darah yang menjadi momok paling mematikan di Indonesia. Tidak hanya dari segi kesehatan, jamur ndolos juga bisa digunakan untuk campuran sup, pizza dan pasta. Sekarang kebutuhan jamur merang ini di Jakarta, Bogor dan Bandung mencapai 15 ton perhari. Tentunya hal ini menjadi prospek yang cerah bagi para petani.

Rasa yang enak dan gurih serta manfaatnya bagi kesehatan membuat jamur ini cocok untuk dikembangkan. Sayangnya, hingga saat ini belum ada yang menggeluti secara serius pemanfaatannya jamur merang ini. Maka hadirnya para mahasiswa Unsyiah yang tergabung dalam kelompok KKN AT 149 bertujuan membantu masyarakat dalam memproduksi jamur merang ini sehingga memiliki nilai jual.

Untuk mewujudkannya, tentu diperlukan tahap-tahap produksi. Ada dua point penting dalam pembudidayaan jamur ini, yakni.

  1. Kebutuhan dan permintaan jamur. jika ingin memproduksi suatu produk, tentunya kita harus siap dengan permintaan konsumen. Dengan manfaatnya yang kaya, tidak menutup kemungkinan permintaan konsumen akan terus meningkat. Oleh karena itu dibutuhkan sistem budidaya yang baik.
  2. Menurunnya Kuantitas. Melakukan budidaya adalah cara yang cocok untuk membuat suatu spesies berkembang. Jika hanya mengandalkan produksi dari alam, maka sifatnya hanya sementara.

Budidaya suatu jamur harus menciptakan kondisi lingkungan yang sesuai. Setidaknya ada 9 langkah dalam pembudidayaan jamur ndolos atau jamur sawit ini menurut sumber yang kami kumpulkan. Adapun tahapan-tahapannya yaitu;

  1. Pembuatan tempat budidaya. Rumah jamur atau kumbung merupakan bagian penting dari budidaya jamur. Kumbung berfungsi mengatur suhu sehingga kelembaban yang sesuai terhadap pertumbuhan jamur dapat diatur.
  1. Pembibitan jamur merang. Point paling penting dari proses pembibitan adalah kita harus mencari bibit unggul untuk menghasilkan jamur merang yang berkualitas.
  1. Persiapan media tumbuh. Media tumbuh yang digunakan untuk jamur ini biasanya jerami dan kapas.
  1. Proses pembalikkan media tanam. Proses pembalikkan ini berfungsi agar pengomposan dapat berjalan dengan baik.
  1. Memasukkan media tanam kedalam kumbung. Media tanam disusun pada rak yang bertingkat. Untuk rak yang paling bawah, diletakkan media tanam yang tebal dan semakin ke atas media tanam tersebut semakin menipis. Hal ini berguna untuk mengatur kelembaban.
  1. Proses penaburan bibit. Proses penaburan bibit harus dilakukan secara merata. Untuk pemeliharaannya, setelah menyiram lantai untuk menjaga kelembaban harus segera ditutup rapat.
  2. Perawatan jamur merang/ndolos. Perawatan dilakukan dengan cara menutup kumbung dengan rapat, lantai harus tetap lembab, jamur memerlukan suhu berkisar antara 32 °C – 38 °C untuk tumbuh dengan baik.
  3. Panen jamur merang. Jamur ini cenderung panen dengan waktu yang relatif singkat, yaitu berkisar antara 10 atau 11 hari setelah penanaman di media. Jamur yang siap panen, maka kuncupnya belum terbuka dan tingginya antara 3 hingga 6 cm.
  4. Packaging yang menarik. Salah satu syarat pangan fungsional menurut BPOM RI adalah harus memiliki penampakan yang dapat diterima konsumen. Dengan packaging produk, kita dapat mendiferensiasi produk sejenis yang terlebih dahulu beredar di pasar. Tentunya untuk mencapai hal tersebut, diperlukan kreativitas hingga memunculkan ciri khas dari suatu produk.

Demikian 9 tahapan yang dapat ditempuh, tentunya untuk mencapai hal tersebut, diperlukan kerja sama dari instansi-instansi terkait, dalam hal ini instansi pendidikan. Masyarakat desa kebun batang ara harus terus dibimbing dan diarahkan agar dalam produksi jamur tersebut tidak menemui jalan buntu. Melalui tulisan ini, kelompok KKN AT 149 mencoba memberikan solusi apa yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut.

Jika hal ini berhasil, beberapa tahun kedepan tidak menutup kemungkinan dengan sumber daya alam kelapa sawit dan kelimpahan jamurnya, desa kebun batang ara menjadi produsen penghasil jamur ndolos yang produktif dan menciptakan surplus neraca perdagangan Aceh Tamiang. [rel]

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh