Foto: kanalaceh

PM, Meulaboh – Jika berada di desa Peunaga Cut Ujong, di kecamatan Mereubo, Aceh Barat, maka kita akan terbiasa mendengar celotehan masyarakat setempat yang hidup berdampingan dengan perusahaan tambang batubara. Bagi siapa saja yang datang, warga akan berkata, “jangan manfaatkan debu demi kepentingan tertentu.”

Kalimat itu barangkali menyiratkan rasa jenuh yang tak terhingga. Warga di seantero Meureubo yang kini hidup di tengah-tengah perusahaan tambang –yang tampak loba di mata mereka, sepertinya tak bisa berkata banyak saat hasil alamnya dikeruk dan mereka hanya menerima debu-debu ‘ampas’ operasi perusahaan.

Riak-riak perlawanan bukannya sunyi. Tapi terkesan hanya jadi komoditas politik pihak-pihak tertentu yang terus saja berebut pengaruh. Apa yang disampaikan sejumlah masyarakat di sana nyaris senada. Mereka kini hanya memandang perlawanan yang digaungkan pihak ketiga -yang sejatinya menjembatani aspirasi warga terhadap perusahaan, dengan tatapan putus asa.

“Sejumlah aktivis dari berbagai lembaga datang dan pergi. Mereka hadir dengan teriakan lantang lalu pulang meninggalkan kami tanpa solusi yang konkret,” kata Ayu (35), warga setempat.

Ia menyesalkan kisruh antara warga dengan perusahaan tambang batubara PT Mifa Bersaudara yang kian hari kian buntu. Padahal berbondong-bondong orang datang menyalakan harapan, dari aktivis hingga pejabat parlemen. Media memberitakannya bertubi-tubi sepanjang tahun. Namun, dari semua gejolak dan perlawanan yang timbul, yang tak berubah hanya kesengsaraan masyarakat yang makin berlarut-larut.

Ayu meyakini, tentu ada motif yang mendasari upaya segelintir kaum kritis untuk hadir menjadi penengah bagi masyarakat yang kini tersiksa karena terjebak debu batubara. “Mereka datang dengan dalih agar keadaan kami sejahtera. Untuk mencapainya, mereka lakukan pemetaan dampak, menulisnya di atas kertas. Lalu memberitahu kami cara menemukan jalan keluar,” kata dia.

Pendekatan semacam ini sudah sekian kalinya diterima warga. Kelompok-kelompok ini menemui masyarakat, menawarkan bantuan. Janji yang didengar warga selalu sama. Mereka mengipasi warga dengan berkata ingin menuntaskan kegelisahan itu. Warga hanya mendengar, menyahuti janji tersebut dalam keadaannya yang sengsara meski hidup berdekatan dengan area penumpukan hasil bumi yang siap dikirim ke luar kawasan itu.

“Berulang kali mahasiswa bikin unjuk rasa, prihatin terhadap kondisi debu batubara yang terus menyerang warga Peunaga Cut Ujong. Bahkan para anggota legislatif mulai tingkat kabupaten hingga provinsi pun juga ikut turun melihat langsung keadaan warga sekitar,” ceritanya.

Namun kini, masyarakat menilai kedatangan pihak ketiga selama ini tak lebih hanya ingin memenuhi hasrat pribadi maupun kelompoknya saja. Mereka datang semata mencari keuntungan dengan menjadikan penduduk yang terkena debu sebagai objek untuk mendulang kepentingan sendiri.

“Janganlah masyarakat dijadikan sebagai motor untuk mengambil keuntungan pada perusahaan, sehingga warga terus berharap, warga terus melantunkan emosi tapi hasilnya juga tidak ada, itu yang sangat menyedihkan,” keluh Ayu.

Nyaris Putus Asa

Penduduk di desa Peunaga Cut Ujong ingin sekali bisa direlokasi ke tempat yang lebih layak. Mereka ingin menjauh dari debu batubara demi menghirup udara segar kembali. Debu hasil operasi perusahaan membumbung ke udara dan mencemari kawasan yang ditempati warga. Sepanjang tahun korban terus berjatuhan, mereka sesak nafas karena debu itu kian parah merambah pemukiman dan mengotori rumah-rumah. Keadaan bertambah miris saat pemerintah tak kunjung memberi kepastian akan nasib mereka.

Ayu bercerita, selama ini warga yang awam selalu dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang datang. Kelompok ini kemudian mengajak masyarakat untuk memprotes. “Mereka lihai membujuk warga,” kata Ayu lagi.

Sejumlah pejabat anggota DPR yang pernah turun juga belum dapat memberi kepastian atas keinginan warga untuk direlokasi. “Pejabat turun hanya untuk memantau saja, padahal dia melihat fakta di lapangan, tapi sekarang tak ada kabar bagaimana tindak lanjutnya,” sesalnya.

Sudah empat tahun lamanya debu batubara menyelimuti desa Peunaga Cut Ujong. Di sisi desa, tampak jelas betapa dekatnya posisi Stockpile batubara dengan pemukiman warga. “Malah beberapa waktu lalu dampak mulai berkurang, sejak kami berdiskusi langsung dengan perusahaan tanpa diperantarai pihak ketiga,” ungkap Ayu.

Lantaran merasa jenuh, kini warga mulai berfikir dua kali untuk menerima tawaran dari kelompok elemen sipil yang datang menjanjikan pertolongan. Secara pribadi, Ayu tidak setuju dengan pendekatan kelompok tersebut, kendati masih banyak warga yang mau bekerjasama dengan mereka.

“Jangan-jangan kedatangan mereka juga ada unsur kepentingan dengan perusahaan,” duganya kuat.

Ia juga menyesalkan berita media yang selama ini hanya mengedepankan kisruh antara warga dan perusahaan. “Masyarakat tidak perlu publikasi yang berlebihan, solusi yang kita butuhkan,” tegasnya.

Di sisi lain, ketua umum Forum Komunitas Muda Barat Selatan Aceh (KMBSA) Fitriadi Lanta turut mengutarakan hal serupa. Kata dia, kasus debu batubara antara perusahaan tambang PT Mifa Bersaudara dengan masyarakat desa Peunaga Cut Ujong yang dijembatani oleh pihak ketiga, biasanya hanya untuk kepentingan tertentu.

“Mereka yang berusaha memprovokasi masyarakat dengan dalih perjuangkan hak masyarakat, malah ada yang memang pencitraan politik, sementara keluhan warga itu hanya dijual untuk mencapai kepentingan mereka saja,” kata Fitriadi.

Fitriadi mengatakan, sampai dengan hari ini pihak Pemerintah maupun DPR sudah berulang kali turun melihat kondisi di sana dan menyaksikan sendiri bagaimana debu pabrik mengancam kesehatan warga.

“Tapi tak ada solusi, juga demikian dengan elemen sipil lainnya, banyak memperdebatkan persoalan ini (debu batubara) di media sosial, tolong, bantulah warga dengan riil, harus ada solusi yang jelas tentang keadaan mereka,” pungkas Fitri.

Reporter: Aidil Firmansyah

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh