Bersepatu Roda di Taman Ratu

Pikiran Merdeka icon Arief Maulana - Jumat, 19/05/2017
Bersepatu Roda di Taman Ratu

Lantai di Taman Ratu Safiatuddin menjadi arena tak resmi tempat bermain sepatu roda. Pemerintah diminta menyediakan tempat khusus.

 

LANTAI keramik di depan Tugu Ratu Safiatuddin dipenuhi keriangan para bocah, Jumat pekan lalu. Puluhan sepatu roda bergerak lincah ke sana kemari. Ada yang mencoba melewati tangga-tangga dengan gerakan takut-takut. Ada pula dengan lincahnya berbelok menyerupai gerakan slalom; menghindari lantai keramik yang pecah.

Taman mini di depan tugu yang jaraknya cuma sepelemparan batu dari Masjid Oman Lamprit, Banda Aceh tersebut, kini saban hari telah menjadi arena baru bagi anak-anak yang kepincut bermain sepatu roda. Di arena yang tak diperuntukkan untuk bersepatu roda itu, mereka rela berpeluh dan tentu saja tergelak tanpa henti, sembari menghabiskan waktu bermain. Sementara para orang tua mengawasi dari jauh.

Orang tua membawa anaknya bermain sepatu roda ke tempat tersebut, agar si anak bisa beristirahat sejenak dari kesibukan belajar. Irawati, seorang ibu yang tinggal di dekat taman, membelikan sepatu roda untuk anaknya agar digunakan bermain di taman tersebut. Sebelumnya, setiap sore usai menjemput anaknya pulang les, mereka selalu pulang melewati taman. Melihat banyak anak bermain sepatu roda, anak Irawati pun tertarik. “Saya pikir kenapa tidak. Sebagai pelepas penat setelah belajar, ya, biarlah dia main-main kan,” ujarnya.

Selain di Taman Ratu, kata Irawati, tempat lain untuk bermain sepatu roda setahu dirinya ada di Ulee Lheue dan Lapangan Blang Padang. “Karena lebih dekat di sini, untuk apa jauh-jauh kali,” ujarnya.

Setiap hari, kata dia, selalu ada yang bermain sepatu roda di Taman Ratu. Jika hari libur, area taman lebih padat oleh para pemain. Bahkan ada yang bermain hingga malam. Irawati membatasi anaknya bermain. Sebelum azan Magrib berkumandang, ia membawa anaknya pulang.

Irawati juga tak tertarik memasukkan anaknya ke dalam komunitas sepatu roda yang kerap berlatih di tempat itu. Selain karena anaknya perempuan, Irawati menilai tak terlalu penting bergabung ke dalam komunitas tersebut.

Adapun komunitas yang kerap “mangkal” di Taman Ratu bernama Inline Skate Aceh. Di akun Instagramnya, komunitas ini menuliskan mereka juga bermain di Lapangan Blang Padang.

Komunitas tersebut dirintis Hasbi, seorang mahasiswa yang hobi bermain sepatu roda. Awalnya, karena tak betah berlatih sendiri, Hasbi mencari partner. Empat temannya tertarik. Lalu pada 22 Juli 2016 mereka sepakat membentuk komunitas tersebut.

Inline Skate Aceh mengajak orang-orang yang berhobi sama untuk bergabung. Tidak ada batasan umur. Namun, kata Hasbi, ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi. Yang wajib tentu saja memiliki sepatu roda. Selain itu, “sudah bisa berjalan, mengerem dan membelok dengan sepatu roda,” ujarnya.

Syarat itu, kata Hasbi, demi meningkatkan kualitas komunitas. “Jika diajarkan dari awal, komunitas ini tidak akan maju-maju,” tegas Hasbi yang bertindak sebagai salah seorang pelatih.

Hingga kini, anggota komunitas mencapai 200 orang. Mereka terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa baik lelaki maupun perempuan. Profesi anggota komunitas juga beragam. Namun, kata Hasbi, terbanyak adalah mahasiswa.

Inline Skate Aceh memiliki jadwal latihan rutin yang mesti dipatuhi setiap anggotanya. Enam bulan sebelumnya, setiap pekan ada lima kali sesi latihan. Kini, porsinya dikurangi. Sepekan mereka berlatih empat kali, yaitu Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat.

Jihan, juga pelatih di komunitas tersebut mengatakan, mereka juga memberikan jasa private bagi orang yang ingin berlatih sepatu roda.

Hasbi menilai di Banda Aceh hingga kini belum ada tempat khusus untuk berlatih sepatu roda. Karena anggota komunitas kian bertambah, ia berharap mendukung mereka dengan menyediakan tempat latihan khusus.

Hal ini pernah disampaikannya kepada Pemerintah Kota Banda Aceh dan ide Hasbi disetujui. “Namun pemerintah menyampaikan sampai saat ini lahan untuk tempat tersebut belum ada, dan masih dalam proses pencarian lahan,” ujarnya. Karena tak jelas kelanjutannya, Hasbi dan kawan-kawannya akan mengusulkan kembali hal itu kepada pemerintah kota yang baru.

 

Gelinding Riwayat Sepatu Roda

Sepatu roda berbeda papan luncur atau skateboard. Sepatu roda berupa
alat yang dipasang di kaki yang memiliki dua hingga empat roda sebagai alas. Pemain sepatu roda biasanya mengayunkan kaki seperti layaknya berjalan untuk menambah kecepatan ketika bergerak. Untuk menghentikannya, menggunakan alas depan atau hanya menunggu sampai roda berhenti sendiri.

Sepatu roda berasal dari Belanda dan diciptakan pada 1763 (ada versi menuliskan 1760) oleh John Joseph Marlin. Ada referensi yang menyebut Marlin adalah penggemar ice skating yang bekerja sebagai teknisi dan pembuat alat-alat musik. Namun, Marlin juga disebut ahli Matematika asal Belgia. Karena itu, sepatu roda pertama kali dipatenkan di Belgia.

Marlin memperkenalkan sepatu roda buatannya pada sebuah pesta sambil memainkan biola. Sepatu roda yang dia buat tak jauh beda dengan ice skate. Ia mencopot mata pisau di bawah sepatu untuk seluncur es dan menggantinya dengan roda. Tapi, sepatu itu sulit dikendalikan karena tak ada rem. Tak ayal, Marlin pun menabrak cermin dan ia terluka.

Pada 1863 seorang Amerika bernama James Leonard Plimton menciptakan “rocking state”. Sepatu roda ini menggunakan empat roda layaknya ban mobil. Ceritanya, Plimpton juga mematenkan karyanya hingga menjadi sangat populer. Ia kemudian dijuluki “Bapak Pencipta Sepatu Roda”. Hingga kini, prototipe sepatu roda Plimpton masih digunakan.

Lambat laun, sepatu roda berkembang dari hobi menjadi olahraga resmi. Tahun 1876 terbentuk organisasi sepatu roda di Inggris bernama NSA atau The National Skating Association. Pada 1942, berdiri organisasi sepatu roda bertaraf internasional bernama Federation Internationale de Roller Skating.

Di Indonesia, sepatu roda masuk dibawa orang-orang Belanda. Pada 1979 dibentuklah Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia atau Porserosi. Selanjutnya pada 1981 dilaksanakan Munas Porserosi I, diikuti oleh 10 utusan Pengda Perserosi. Di dalam Munas tersebut resmi terbentuk PB Porserosi dengan 14 anggota Pengda yaitu Aceh, Sumut, Sumbar, Sumsel, Jabar, Jateng, Jatim, Kaltim, Sulsel, Sulut, Sulteng, Riau, Bengkulu, dan DKI Jakarta.[]Husna Azyzah

KOMENTAR


PM Icon

BERITA TERKAIT

PM Icon

BERITA LAINNYA