PM, Banda Aceh – Rendahnya budaya literasi menyebabkan perilaku radikalisme semakin cepat berkembang di tengah masyarakat. Hal itu disampaikan antropolog Reza Idria saat menjadi pemateri dalam diskusi bertema “Membangun Toleransi; Pengalaman Timur dan Barat”, di Aula Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Jumat (23/11).

“Rendahnya budaya literasi dalam masyarakat kita menjadi sebab sempitnya pandangan kita dalam melihat realitas perbedaan yang ada,” kata kandidat doktor Antropologi Universitas Harvard, Amerika Serikat itu.

Menurutnya, yang terjadi saat ini sebenarnya bukan clash of civilization (benturan peradaban) antara timur dan barat, namun lebih kepada clash of ignorance (benturan kebodohan).

“Sehingga pandangan kita menjadi sempit dalam melihat realitas keberagaman dalam masyarakat,” imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan dosen Prodi Sosiologi Agama, Arfiansyah. Menurutnya, rendahnya budaya literasi menjadikan masyarakat lemah dan sangat mudah bagi kelompok-kelompok tertentu yang berkepentingan dalam menyebarkan rasa takut.

“Salah satu cara untuk menjadi muslim yang benar adalah beriman dengan pengetahuan. Artinya, Islam itu bukan hanya sekedar identitas agama bagi seseorang, namun ia harus dipelajari secara benar dan mendalam sehingga islam benar-benar menjadi rahmatan lil’alamin,” tegas dia.

Sementara itu, penyebaran pemikiran radikalisme saat ini memang cukup sulit disadari masyarakat. Kabid Sosialisasi dan Media dari Forum Kordinasi dan Pencegahan Terorisme (FKPT), Arif Ramdan dalam kesempatan tersebut menyampaikan, media sosial sangat rentan menjadi alat untuk penyebaran radikalisme.

“Karena itu, kita harus lebih selektif dalam menerima bacaan-bacaan dan tontonan-tontonan terkait dengan keagamaan yang tersebar di dunia maya,” pesan Arif mengakhiri paparan materinya.

Diskusi yang diadakan Prodi Sosiologi Agama bekerjasama dengan Aceh Development Watch (ADW) ini berupaya untuk memahami kehidupan keagamaan di Aceh dan potensi berkembangnya paham radikalisme. Selain itu, peserta diajak mempelajari kondisi keagamaan pada tataran global yang nantinya menjadi bahan refleksi, masukan dan pemikiran baru bagi masyarakat Aceh dalam mengelola kehidupan keagamaan di Aceh. []

Komentar