Benteng Inong Balee. (IST)

Perempuan Aceh, bisa dikatakan laksana kelembutan mutiara khas perairan tropis, dibalut kulit berduri, namun memikat kaum lelaki.

Selain menyikat serdadu Belanda di medan pertempuran, seperti kisah heroik Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Laksamana Malahayati, dan lainnya, perempuan Aceh di masa lampau juga hidup dalam kemandirian, baik itu dari kalangan bangsawan maupun kalangan masyarakat biasa.

Mereka sudah terbiasa menghadapi dunia ini dengan ganasnya pertempuran dan selalu siap siaga akan kematian.
.
Namun, bagaimana lagi keadaan perempuan Aceh sekarang? Apakah mareka masih tetap mengikuti jejak panutannya tersebut, atau hanya berperan sebagai ibu rumah tangga saja tanpa tahu keadaan tanahnya yang terjajah? Atau lebih suka berdandan dan bertumpu penuh kepada suaminya?

Bagaimana jika sang suami telah tiada, apa yang bisa dilakukan oleh perempuan Aceh saat ini dan bagaimana mereka berjuang di masa sekarang menghadapi kerasnya tuntutan zaman? Apakah sekarang masih ada perempuan Aceh multitalenta dan pemberani seperti di masa lampau?.

Mari kita kembali ke sejarah. Sedari dulu, perempuan Aceh lahir dari rahim-rahim yang tangguh. Mereka dibesarkan dengan kemandirian. Bahkan ketika perang Aceh berlangsung, dimana merupakan salah satu pertempuran terbesar saat itu.

Mereka para wanita Aceh ikut berkontribusi dan melebur dalam heroisme perjuangan layaknya kaum Adam lainnya. Rentetan peluru dilontarkan dan kalimat semangat yang menggema mereka teriakkan, meskipun dalam fase dan kemasan yang berlainan.

Semangat dan darah pejuang mengalir dalam tubuh mereka, sontak menggerakkan kesadaran seluruh pelosok Aceh untuk mampu bertahan di tengah suasana mencekam.

Mereka bukan hanya gahar di ladang, sawah, hutan atau pesisir pantai! Serentetan aksi dan lontaran-lontaran peluru penjajah mereka hadapi dengan keberanian luar biasa.

Mereka juga tidak mempunyai niat untuk mundur! Meskipun hanya sejengkal, dan jika memang masih memungkinkan akan membuat kesengsaraan dan menciptakan semesta kematian kepada pihak penjajah.

Kita kembali kepada masa sekarang, ingin kita melihat perempuan-perempuan Aceh tangguh seperti para pendahulunya. Kita semua tidak ingin melihat perempuan Aceh yang lemah dari segala segi dan lingkup kehidupan.

Karena kita percaya, bahwa perempuan Aceh pasti bisa ikut andil dan berjuang seperti layaknya laki-laki. Mengingat zaman yang semakin keras, dan perempuan Aceh juga dipaksakan untuk bertahan dalam kondisi-kondisi yang sulit.

Kecantikan paras tidak ada gunanya jika dibandingkan dengan perempuan cerdas dan multitalenta, begitulah yang banyak dikatakan oleh orang-orang dan penulis yakin pembaca juga setuju.

Penulis berharap semoga perempuan-perempuan Aceh bisa menjadi penggerak perubahan untuk Bangsa Aceh sendiri. Mengikuti jejak endatu, semoga perempuan Aceh di masa sekarang bisa menciptakan peradaban yang lebih baik dan lebih bermartabat.

Teruslah maju para perempuan Aceh, dan buatlah lebih banyak kontribusi dan melanjutkan perjuangan tanpa kenal menyerah.

Oleh: Sulthan Alfaraby
Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-Raniry

Komentar