Sultan Muhammad Alaiddin Daudsyah1

PM, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan melalui Dinas Pemakaman Umum merencanakan pemugaran makam Sultan Aceh terakhir, Sultan Muhammad Daudsyah di TPU Kemiri Rawamangun. Rencana pemugaran tersebut kembali disampaikan Anies Baswedan saat menerima audiensi Forbes DPR RI dan DPD RI dari Aceh, Kamis, 2 September 2021.

Di hadapan anggota Forbes Aceh, Anies menganggap perjuangan Sultan Muhammad Daudsyah sebagai Sultan Aceh yang terakhir patut diketahui secara luas. Apalagi Muhammad Daudsyah yang dinobatkan menjadi Sultan Aceh di usia muda, lebih banyak menghabiskan waktu untuk bergerilya di hutan untuk melawan penjajah Belanda dibandingkan di istana.

“Jadi tempat ini tidak boleh hanya sekedar makam, tempat ini harus menjadi tempat orang belajar,” kata Anies Baswedan.

Makam Sultan Muhammad Alaiddin Daudsyah 1
Rencana bentuk makam Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah setelah dipugar

Sejarah mencatat, Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah lahir pada tahun 1871, tepat dua tahun sebelum Belanda menyerang Aceh pada 26 Maret 1873 M.

Pada usia tujuh tahun, Muhammad Daudsyah diangkat sebagai sultan Aceh di Masjid Indrapuri pada Kamis, 26 Desember 1878 M. Dia menggantikan kedudukan Sultan Alaidin Mahmudsyah yang meninggal karena wabah kolera pada 28 Januari 1874 dan dimakamkan di Cot Bada Samahani, Aceh Besar.

Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah dinilai tidak dapat bekerjasama dengan Belanda yang saat itu sudah menguasai Kutaraja (nama Banda Aceh pemberian Belanda-red). Pasca penyerahan diri lantaran istri dan anaknya disandera Belanda pun, Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah merobek draf damai karena tidak mengakui kekuasaan Belanda, seperti yang diajukan Van Heutz selaku Gubernur Hindia Belanda di Aceh pada 3 Februari 1903.

Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah kemudian dijadikan tahanan rumah di Kampung Keudah, Banda Aceh, usai kejadian tersebut. Namun, Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah terus menjalankan pengaruhnya dan menyusun siasat untuk menyerang Belanda di Kutaraja. Aktivitas politik Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah turut dibantu oleh Tuanku Hasyem Banta Muda, Teuku Panglima Polem Muda Kuala dan Teungku Syiek di Tanoh Abee.

Belakangan, Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman yang baru pulang dari Mekkah ikut bergabung dalam menumpas Belanda dari Tanoh Rencong tahun 1880.

Aktivitas politik dan pengaruhnya yang masih besar membuat kondisi keamanan di Kutaraja tidak menguntungkan bagi Belanda. Penjajah Belanda kemudian menuding Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah sebagai otak serangan yang dilakukan oleh Keuchik Seuman dan Pang Usuh di Kutaraja pada 6 Maret 1907.

Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah juga disebut-sebut menjalin hubungan dengan Kaisar Arihito dari Jepang. Hubungan tersebut dianggap membahayakan posisi Belanda di Aceh Darussalam yang berseberangan politik dengan Jepang masa itu.

Akhirnya Belanda mengasingkan Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah dari tanah airnya pada tahun 1907. Sultan Muhammad Alaidin Daudsyah meninggal sebagai tawanan Belanda di Batavia (Jakarta) pada Senin, 6 Februari 1939. Sultan Muhammad kemudian dikebumikan di Pemakaman Umum Blad 33 Jalan Rawamangun Jakarta Timur.[]

Komentar