Koleksi Museum Al-Qur'an di Madinah. (arabnews.com)

Museum Al-Qur’an atau yang dikenal dengan The Holy Qur’an Exhibition di Madinah, didirikan pada 1984. Sejak saat itu sudah banyak koleksi yang dimiliki museum kebanggaan umat Islam khususnya warga Kota Madinah.

Museum Al-Qur’an ini terletak di sisi selatan Masjid Nabawi. Dan senantiasa dibuka untuk umum, tanpa dipungut biaya. Museum dibuka dari pukul 06.00 hingga pukul 14.00, dan pukul 16.00 hingga 21.00. Setiap waktu shalat, museum ditutup.

Dalam museum seluas 1.200 meter persegi itu, terdapat 12 ruangan yang terpajang berbagai macam koleksi Al-Qur’an dari yang berusia ribuan tahun hingga yang terbaru. Namun, lebih banyak koleksi Al-Qur’an masa lampau.

Salah satu koleksi museum yang cukup menarik adalah Al-Qur’an yang ditulis menyerupai mushaf aslinya dari zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

“Koleksi mushaf aslinya ada di Museum Topkapi Turki. Sedangkan yang di Madinah ini merupakan salinan dari yang aslinya,” kata Abdul Aziz, Staf Museum Al-Qur’an ketika memandu rombongan jamaah haji Indonesia, Jumat (26/7).

Aziz mengatakan, Al-Qur’an salinan tersebut tanpa tanda baca. Tidak ada harakat, tidak ada titik. “Sebab, tanda baca seperti harakat dan titik huruf-huruf hijaiyyah, baru muncul setelah kekhalifahan Ali bin Abi Thalib RA, yakni oleh seorang tabiin yang bernama, Abu al-Aswad ad-Dualy,” ujarnya.

Aziz menjelaskan, pada zaman Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan, Abu al-Aswad ad-Dualy ditugaskan meletakkan tanda baca pada tiap kata (kalimat) dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan dalam membaca.

Secara otomatis, kata pria kelahiran Indramayu tersebut, usia Al-Qur’an yang tersimpan secara khusus dalam lemari kaca tersebut berusia sekitar 1.000 tahun.

Selain Al-Qur’an berusia ribuan tahun ini, ada pula koleksi lainnya yakni Al-Qur’an yang berjahit. Al-Qur’an ditulis menggunakan jahitan tangan oleh seorang perempuan dari Pakistan. “Waktunya dihabiskan untuk menulis Al-Qur’an selama 32 tahun,” kata Aziz.

Koleksi lainnya yang menarik adalah kiswah Ka’bah. “Kiswah Ka’bah yang terpajang di museum ini usianya lebih dari 140 tahun,” kata Taufik yang juga Staf Museum Al-Qur’an.

Taufik mengatakan, kiswah tersebut dibuat oleh Abdullah Ghurdi, seorang keturunan Mesir. Abdullah dikenal sebagai penulis kaligrafi yang biasa menulis di Masjid al-Haram dan Nabawi. “Kalau lihat kaligrafi di Masjid Nabawi, itu tulisannya,” ucap Taufik.

Kiswah tersebut terbuat dari sutera hitam asli dan dihiasi dengan tulisan kaligrafi dari benang emas dan perak. “Sungguh beruntung kita bisa menyaksikan sejarah 140 tahun lalu,” terang pria kelahiran Grobogan ini.

Dia bercerita, kiswah Ka’bah, senantiasa diganti setiap tahun, tepatnya pada hari Arafah saat wukuf. Kiswah yang lama disimpan, dan sebagian dihadiahkan kepada sejumlah lembaga atau negara tertentu, termasuk Indonesia.

Bagi para pengunjung jangan khawatir bila terkendala bahasa. Sebab, pemandunya ada orang Indonesia yang menuntut ilmu di Madinah dan dipekerjakan di museum tersebut.

Taufik menyebutkan, staf museum dari Indonesia jumlahnya sekira 8 orang. “Kami terbagi tiga shift. Pagi tiga orang, siang tiga orang, dan malam dua orang,” ungkapnya. Jamaah dari negara lain, juga ada pemandunya. Baik dari Turki, Bangladesh, Pakistan, maupun lainnya.

Sumber: Republika

Komentar