Murid SD menyeberangi sungai untuk menuju sekolah.(pikiranmerdeka.co/Putra)

PM, Aceh Singkil – Anak-anak di Desa Serasah, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil, harus bertaruh nyawa untuk mendapatkan akses pendidikan demi menggapai cita-citanya.

Bagaimana tidak, saban hari belasan siswa Sekolah Dasar (SD) di desa itu harus menyeberani sungai selebar 120 meter untuk menuju sekolah terdekat, yakni SD Negeri (Tugan, Kecamatan Simpang Kanan.

Pantauan PIKIRANMERDEKA.CO, setiap berangkat dan pulang dari sekolah tanpa rasa takut mereka mengarungi derasnya aliran Sungai Cinendang, dengan menggunakan sampan kecil.

Walaupun suatu saat bahaya dapat mengancam nyawa mereka, namun keceriaan masih terpancar jelas dari wajah mereka demi meraih masa depan yang cemerlang.

Perjuangan bocah-bocah kecil ini tak berhenti dengan menyeberangi sungai dengan kedalaman hingga 10 meter itu. Usai mengarungi sungai, mereka harus kembali memeras keringat dan menapaki tebing terjal dan curam. Tidak jarang kaki-kaki mungil itu terpeleset dan jatuh. Bukan hanya itu, mereka juga harus berjalan seratusan meter untuk mencapai sekolah.

Bagi mereka, rutinitas itu sudah menjadi tantangan hidup sehari-hari, namun tidak bagi orang yang belum mengalaminya. Begitulah fenomena setiap pagi dan jam pulang sekolah yang harus dijalani puluhan bocah itu.

Mereka mengaku demi mengejar cita-cita, cara itu terpaksa dilakukan lantaran di desa Serasah hingga kini tidak ada sekolah, dan jembatan penyeberang.

Razi Azwardi (11) siswa SDN Tugan mengaku, mereka sudah terbiasa mengarungi sungai Cinendang menggunakan sampan kecil dengan mendayung sendiri.

“Kami sudah terbiasa seperti ini. Kadang 5 orang, kadang 3 orang. Siapa yang telat kami tinggalkan. Karena kami harus tepat waktu masuk sekolah,” ceritanya sembari tersenyum polos.

Razi mengaku kadang-kadang muncul rasa takut saat menyeberangi sungai yang menurut cerita warga juga dipenuhi buaya. Tapi apa dikata, akses menuju sekolah satu-satunya hanya dengan menyebrangi sungai Cinendang.

“Perahu kami pernah tenggelam, alat sekolah sekolah kami habis basah dan sepatu saya tenggelam ke dasar sungai. Alhamdulillah kami tidak apa-apa, kami ditolong abang saya,” katanya.

Razi menceritakan, tak jarang mereka menemui kesulitan saat ke sekolah. Terlebih saat musim penghujan dan debit air sungai meningkat.

“Terkadang berangkatnya kami mudah, namun saat jam pulang sekolah tiba-tiba hujan. Disitu kami bingung, mau bertahan dulu, perut sudah lapar, makanya kami paksaka,” terangnya.

Siswa kelas 5 SDN Tugan itu berharap desanya dibangunkan jembatan penghubung desa Serasah dengan desa Cibubukan kecamatan Simpang Kanan, “Pak Bupati, tolong bangunkan jembatan kami,” katanya kepada awak media.

Para orang tua mengaku khawatir. Namun karena tidak ada pilihan lain mereka harus pasrah dengan keadaan. “Sering terjadi musibah, perahu mereka tenggelam, untung masih ada warga yang melihat dan bisa diselamatkan,” cerita Meriah (45) salah satu wali murid.

“Mungkin salah satu solusinya dengan cara membangun jembatan gantung, sehingga anak-anak yang akan bersekolah tidak lagi menggunakan sampan,” katanya sembari berharap, dengan adanya jembatan, kemajuan desa juga akan semakin terpacu, wajib belajar akan terealisasi, dan juga akan mempercepat peningkatan ekonomi warga.

Hasan Basri Seketaris Desa (Sekdes) mengatakan, bahwa pada tahun 2007 jembatan layang atau jembatan gantung sempat dibangun dan hampir rampung. Tak lama kemudian, banjir menerjang dan ranmgka jembatan itu hanyut.

Oleh karenanya, kata dia, warga sangat berharap pemerintah kembali membangun jembatan itu, sehingga warga desa Serasah bisa bernafas lega dan nyaman dalam melakukan aktivitas sehari hari.

“Kita nantinya bisa bersaing dengan desa-desa lain, karena akses jalan menuju pusat kecamatan sudah mudah, kalau seperti ini berat desa ini untuk berkembang,” keluhnya.()

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh