WhatsApp Image 2021 10 14 at 18 15 22

PM, Jantho – Sri Mawarni terlihat sibuk mengenyam bemban di bawah rumah Aceh miliknya, di kawasan Gampong Lampanah Tunong, Kecamatan Indrapuri Aceh Besar, Jumat, 8 Oktober 2021 lalu. Hari itu, Sri Mawarni tidak sendiri. Dia ditemani oleh sekelompok perempuan paruh baya yang juga mengerjakan kerajinan tangan berbahan bemban atau dalam bahasa Aceh disebut bili.

Sesekali Sri Mawarni membasahi kulit bemban dengan air yang disediakan di dalam ember, tepat di depan perempuan paruh baya duduk bersimpuh. Bemban yang dalam bahasa ilmiahnya juga dikenal dengan donax canniformis tersebut biasanya tumbuh liar di dalam hutan. Namun, kian hari tumbuhan itu mulai jarang ditemui.

Padahal, bemban menjadi bahan baku penting bagi pengrajin seperti Sri Mawarni karena kulit tumbuhan tersebut dapat dirajut menjadi berbagai aneka kerajinan tangan. Diantaranya seperti tas, tampi, tutup saji, tempat tisu, tempat air mineral hingga berbagai peralatan rumah tangga lainnya.

Gampong Lampanah Tunong merupakan satu dari dua desa yang dikenal sebagai penghasil kerajinan tangan berbahan bili di Aceh Besar. Selain di Lampanah Tunong, kerajinan yang sama dari bahan serupa juga dapat ditemui di Gampong Lam Giriek, Kecamatan Lhoknga.

Meskipun demikian, tidak semua warga di dua gampong itu yang menjadi pengrajin anyaman berbahan bemban. Seperti yang terlihat di Lampanah Tunong, hanya sekitar 20 orang saja yang terlibat dalam kerajinan tangan tersebut. Mereka umumnya berusia lanjut.

Saban harinya para perempuan itu berkumpul di rumah Sri Mawarni untuk menganyam bemban. Aktivitas tersebut bahkan telah dilakoni sejak turun temurun untuk membantu perekonomian keluarga. Rutinitas seperti ini kemudian menggerakkan puluhan perempuan tersebut untuk membentuk kelompok kerajinan anyaman bili. Nama kelompok itu “Bili Droe”.

WhatsApp Image 2021 10 14 at 18 15 22 1
Anyaman bemban karya kelompok Bili Droe di Gampong Lampanah Tunong, Indrapuri, Aceh Besar [Foto: Riska Zulfira]
Ulfa Fitri selaku owner kerajinan Bili Droe yang juga anak Sri Mawarni mengatakan, kerajinan anyaman bili sudah ada sejak lama. Namun baru mendapat binaan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) pada tahun 1983.

Kelompok Bili Droe kemudian memasarkan kerajinan tangan tersebut secara offline maupun online. Pemasaran offline biasanya dilakukan dengan mengikuti pameran hingga bazar-bazar yang ada, sedangkan secara online, Ulfa mengaku mempromosikan barangnya melalui WhatsApp dan Instagram. “Kalau melalui offline, ya kami mengikuti festival bazar, pameran gitu,” ujar Ulfa.

Selain itu produksi Bili Droe juga kerap dipasok untuk Dekranasda Aceh Besar untuk kemudian diolah lagi dan dipasarkan ke luar Aceh. “Pihak Dekranasda melakukan pengemasan beserta logo untuk dipasarkan,” katanya.

Ulfa mengatakan penjualan secara daring bahkan meningkat selama pandemi. Ulfa menyebutkan kerajinan dari bahan bemban ini menjadi daya tarik bagi mereka yang menghindari pemakaian sampah plastik dalam kehidupan sehari-hari. Selain bernilai seni, kerajinan bemban juga disebut tahan lama. Ulfa bahkan mengaku hasil kerajinan Bili Droe akan bertahan hingga dua tahun.

Sementara harga yang dibanderol beragam mulai dari 30 ribu rupiah hingga 700 ribu rupiah. “Harga berdasarkan kerumitan dari produk itu sendiri, kalau yang kecil dan pembuatannya mudah, itu kami jual seharga 30 ribuan,” ujar Ulfa.[]

Penulis: Riska Zulfira