(Foto/Cut Salma)

PM, Banda Aceh – “Pus…, pus…, pus…, sini sama mama,” panggil perempuan itu. Hitungan detik kemudian, muncul segerombolan kucing mungil dari balik tembok. Langkah kucing-kucing berbulu lebat itu meliuk dengan lincah.

Berbagai jenis kucing itu berlarian di teras belakang rumah yang sudah didekorasi menjadi tempat bermain hewan. Di satu sisinya terdapat taman dengan air mancur buatan. Sementara dindingnya dipajang puluhan penghargaan kontes kucing.

Di taman bermain itu juga tampak bambu-bambu yang disusun layaknya pohon, juga hamparan rumput yang tumbuh rapi. Sebuah roda besar juga terpajang di sudut dinding, sesekali secara bergantian kucing-kucing itu naik ke atasnya.

Ada 67 ekor kucing dengan 12 ras berbeda di sebuah rumah di kawasan Lamdingin, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Kucing-kucing dengan berbagai jenis ini merupakan kucing peliharaan milik Natalina Christanto, mantan relawan saat bencana Tsunami di Aceh. Sejak 2012, Natalina bersama ibu dan anaknya mulai tertarik memelihara kucing.

“Udah dari kecil suka sama hewan peliharaan, cuma saat itu terkendala dengan waktu. 2012 mulai melihara kucing. Awalnya anak saya yang bawa pulang kucing liar, lama-lama bertambah,” katanya saat disambangi Pikiran Merdeka, Jumat (30/10/2020).

Awalnya, Natalina tinggal di kawasan Lamteuba, Aceh Besar, saat ia masih menjadi relawan bencana. Kini selain mengurus kucing-kucingnya, Natalina bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit Malaysia cabang Provinsi Aceh.

“Saya ke Aceh sebagai relawan waktu Tsunami, dan tinggal di Lamteuba saat itu. Sempat mau melihara hewan, cuma bingung pelihara apa. Adanya sapi di sana,” ujarnya.

Kucing-kucing yang dipelihara Natalina merupakan jenis kucing dengan harga yang terbilang mahal, di antaranya Bengal, Ocicat, Abbysinian, American Curl, Exotic, Persia, Sphynx, Munchkin, Kinkalow, dan Mainecoon.

Meskipun demikian, Natalina tetap memelihara kucing-kucing liar yang ia selamatkan dari jalan. Kini, kucing liar yang itu bertubuh besar dan bersih. Sebulan sekali kucing-kucing di sini dimandikan oleh pemiliknya, kadang setiap hari atau dua minggu sekali.

Memenangkan Sejumlah Kontes Kucing

dr Natalina, saat bermain bersama kucing-kucing piaraannya. (Foto/Cut Salma)

Bagi Natalina, perawatan kucing menjadi aset penting untuknya. Dalam sebulan ia bisa menghabiskan biaya sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta untuk pakan, vaksin, pasir, hingga perlengkapan mandi kucing-kucing ini.

“Buat saya pakan itu jadi aset penting, karena berpengaruh ke bulunya, warnanya, dan kesehatannya. Dari pada sakit dan harus biaya berobatnya lagi, lebih baik saya berikan yang premium,” katanya.

Puluhan kucing ini juga diberi nama yang unik oleh Natalina. Seperti Eta, Mersi, Labamba. Nama-nama ini dibuat berdasarkan tempat mereka diambil atau peristiwa-peristiwa yang sedang hits saat itu.

“Ini namanya Eta, Eta Terangkanlah. Soalnya pas dia lahir lagi ngehits lagu Eta Terangkanlah,” katanya.

Selain memiliki nama yang unik, kucing-kucing milik Natalina kerap diikutkan dalam berbagai kontes nasional maupun internasional. Dari kontes-kontes itu, kucing-kucing Natalina telah memperoleh ratusan penghargaan. Biasanya, dalam sekali pertunjukan, Natalina akan mengikutkan enam sampai delapan ekor kucing.

Sebelum pandemi Covid-19, kontes kucing dilaksanakan secara luring (luar jaringan) atau offline. Natalina hanya mengantarkan kucingnya ke dewan juri. Di sana, dewan juri yang memeriksa dan memberi nilai, dengan melihat beberapa aspek, seperti kehalusan bulunya, kelincahannya, kesehatan, kebersihan telinga dan mulut kucing.

Selama pandemi, kontes kucing ini dilakukan secara daring melalui zoom. Berbeda dengan luring, kontes virtual dilakukan Natalina dengan memperlihatkan bagian-bagian tubuh kucing yang diinstruksikan oleh juri, seperti bagian telinga, panjang tubuhnya, hingga mulut bagian dalam.

Setidaknya ada enam kontes yang kucing-kucing Natalina ikuti secara virtual. Keenam kontes ini hampir selalu dimenangkan kucing-kucing Natalina dengan kategori Best Long Hair.

“Sekarang ini kan masa pandemi, shownya ditiadakan secara langsung. Tapi, ada yang virtual jadi kalau yang virtual kemarin kami ikut kebetulan yang tingkat nasional, ada juga yang tingkat internasional karena pesertanya dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina,” pungkasnya.[]


Reporter: Cut Salma

Komentar