Oleh: Dr. Jabbar Sabil, MA
Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

 

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. (QS. Al-Ahzab [33]: 57).

Ayat ini merupakan rangkaian dari ayat sebelumnya yang berbicara tentang adab dan sopan santun terhadap Rasulullah SAW. Rangkaian ayat disampaikan dalam konteks larangan menyakiti Rasul SAW dan peringatan untuk menjaga kemuliaan rumah tangga Rasulullah SAW. Oleh karena itu, ketika ayat 56 mengabarkan tentang selawat Allah dan para malaikat, itu berarti kemuliaan bagi Rasul SAW dan keluarga beliau.

Selawat berarti doa dan menyebut kebaikan. Oleh karena itu, para ulama mengartikan selawat Allah kepada Rasul SAW sebagai pujian Allah kepada Rasul-Nya. Adapun selawat para malaikat dipahami sebagai doa mereka yang mustajabah. Penyebutan selawat malaikat setelah selawat Allah menunjukkan penjenjangan dari yang tertinggi sampai yang terendah. Hal ini jelas karena malaikat merupakan makhluk Allah yang lebih tinggi eksistensinya dari manusia. Maka logikanya, Allah dan malaikat saja berselawat kepada Nabi, apalagi kaum beriman.

Memperhatikan munasabah ayat, wacana yang diangkat menyangkut kehormatan diri Rasul dan keluarganya. Lalu ketika kemuliaan Rasul ditegaskan dengan selawat Allah dan malaikat, maka para isteri Rasul pun termasuk di dalamnya. Mengingat para isteri Rasul SAW merupakan bagian dari kehidupannya, maka penghinaan terhadap isteri Rasul berarti penghinaan terhadap Rasul sendiri. Lalu bagaimana seseorang berani menghina Rasul, sedangkan Allah sendiri memuliakannya?

Logika di atas juga menunjukkan kemuliaan mereka yang mau berselawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya mereka yang tidak mau berselawat dapat dipastikan dihambat oleh keangkuhannya sendiri. Sebenarnya mereka adalah munafik, walau menyebut dirinya muslim. Dalam hal ini, terjadi kontradiksi yang menunjukkan pola berpikir yang tidak lurus. Renungkan, bagaimana seseorang mengaku dirinya muslim, padahal Islam didasarkan pada wahyu yang diturunkan melalui seorang Rasul. Jika Rasul tidak mendapat tempat di hatinya, adakah tersisa tempat bagi kehormatan Islam?

Sampai di sini dapat disimpulkan, mungkin kita tidak termasuk dalam golongan yang menyakiti Nabi seperti disebut dalam ayat secara tekstual. Tetapi perlu diketahui, bahwa kemuliaan Islam hanya mendapat wujudnya dalam penghormatan terhadap Rasul SAW. Hal inilah yang merupakan hikmah dari perintah berselawat dalam ayat di atas. Hikmah ini mungkin kurang disadari oleh umat masa kini sehingga diperlukan momen tertentu untuk mengingatkannya. Maka peringatan maulid adalah salah satu momennya.[]

Komentar