Tepat pukul 09.50 WIB, sirine peringatan gempa berbunyi selama 2 menit. Warga Gampong Pande, Kecamatan Kuta Raja, Kota Banda Aceh, dilanda kepanikan.

Beberapa anak-anak dan ibu-ibu keluar dari rumah. Mereka berhamburan berkumpul di Halaman Mesjid Gampong setempat yang dijadikan lokasi titik kumpul sementara mitigasi bencana Tsunami.

Sepuluh menit setelahnya, auman sirine kembali terdengar. Suasana saling dorong antar warga terlihat saat menuju ke Balai Warga. Di balai, keriuhan warga kembali terlihat.

Petugas mengangkat korban gempa dan tsunami dalam ambulance, saat simulasi bencana di gampong Pande, Banda Aceh.(pikiranmerdeka.co/Riska)

Gambaran kejadian Tsunami 2004 lalu seperti jelas terasa. Anak-anak tergeletak di atas lantai dalam kondisi berdarah-darah. Ibu-ibu menangis memeluk anaknya yang luka.

“Tolong, anak saya kakinya patah,” teriak pilu Hendri Yeni, salah seorang warga yang tengah memerankan diri sebagai korban tsunami pada kegiatan Mitigasi bencana yang diadakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB).

Yeni kembali menangis terisak-isak. Beberapa petugas medis datang membantu dan membawa anak nya ke mobil ambulance. “Kemana kalian akan membawa anak saya,” tanya Yeni diiringi suara derau tangis. Beberapa warga pun menenangkan Yeni.

Mitigasi bencana tersebut berlangsung khidmat. Ditambah dengan lakon warga yang menggambarkan kembali situasi 13 tahun lalu. Namun, ada sesuatu yang tampak berbeda. Dari sudut balai warga berdiri Munira, 59 tahun, warga asli Gampong Pande yang juga merupakan korban Tsunami 2004 lalu.

Tatapannya yang kosong membuat pikiranmerdeka.co penasaran dan menghampirinya.

Kata Munira kegiatan ini seakan kembali membuka luka lamanya. “Gambaran kesedihan ibu itu mengingatkan saya pada peristiwa itu lagi,”

Luka lama yang telah ia simpan selama 13 tahun silam seakan muncul kembali. Munira sedikit bercerita mengenai peristiwa pilu yang dialaminya akhir Desember 2004 lalu. Kala itu, dia berada di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin. Gempa dahsyat berkekuatan 8,9 SR mengejutkan dia dan anak nya yang baru saja melahirkan cucunya disana.

Kebahagiaan Munira menyambut kelahiran cucunya harus terhenti ketika Gempa memporak-porandakan Aceh kala itu. Ditambah dengan Tsunami dahsyat yang terjadi setelahnya.

“Saya berencana untuk pulang ke rumah waktu itu. Suami dan keempat anak saya berada dir umah. Namun orang-orang berteriak sebagian wilayah tepi laut sudah habis ditenggelamkan Tsunami,” ceritanya.

Kata Munira, kabar itu sontak membuatnya down. Dia teringat akan nasib keluarganya yang berada di rumah kala itu. “Benar saja, saat berada di lokasi pengungsian tiba-tiba suami saya menghampiri saya. Kata dia keempat anak kami telah hilang dibawa air laut.”

Mata Munira terlihat berkaca-kaca. Ia tak kuat membendung kesedihannya ketika kembali menceritakan peristiwa tersebut. “Padahal waktu itu salah satu anak saya yang meninggal itu telah mempersiapkan pesta pernikahan nya,” kenang ibu Enam orang anak ini.()

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh