PM, Banda Aceh–Civitas akademika Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry dinilai kurang mengapresiasi film karya mahasiswanya. Hal ini terbukti saat pemutaran tiga film karya mahasiswa fakultas sosial itu, Sabtu (31/3).

Ketiga film yang diputar itu dua di antaranya film dokumentar karya RA Karamullah dan Muhammad Hamzah, yaitu “Ironi Dibalik Gaptek” yang telah memenangkan juara II pada festifal film edukasi Kementrian Pendidikan Nasional di Surabaya dan “Pulo Aceh, Surga yang Terabaikan”. Satu lagi film fiksi berjudul NKRI yang disutradarai M Insya. Ketiganya mahasiswa Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry.

R A Karamullah menyebutkan, film yang di sutradarainya tersebut membawa dan membesarkan nama Fakultas Dakwah. “Tapi kenapa pihak fakultas tidak ada satupun yang hadir dalam acara ini, padahal kami telah memberikan undangan,” sebut Karamullah pada Pikiran Merdeka.

Hal senada disampaikan M Hamzah dan M Insya. Mereka sangat kecewa pada sikap civitas akademika Fakultas Dakwah.

“Ketika kita membawa nama fakultas, tidak seorang pun dari mereka yang hadir. Saya tidak tahu mengapa. Jujur, saya kecewa, apa karena selama ini kita tidak pernah membawa nama fakultas, sehingga mereka tidak hadir?” ucap mahasiswa Prodi Jurnalistik ini.

Pun begitu, mereka berharap agar ke depannya pihak fakultas bisa lebih menghargai karya-karya para mahasiswa. “Meski kurang ada penghargaan dari fakultas, kami tetap berusaha membesarkan nama fakultas yang kita cintai ini meski dengan segala keterbatasan,” kata Insya.

Fauzan Santa, Rektor Sekolah Menulis Dokarim yang juga peminat di bidang film dokumenter menyebutkan, harusnya pihak Fakultas Dakwah hadir dalam acara tersebut.

“Kita harus memberi pemahaman, bahwa dakwah bukan hanya halo-halo di atas mimbar. Media film juga menjadi suatu hal yang efektif. Ini menjadi realita sosial kita di akademik. Mungkin kalian nantinya yang harus memulai, mungkin kalian yang nanti bisa mengabdi untuk merubah hal-hal seperti itu,” sebut Fauzan di sela pemutaran film.

Pembantu Dekan I Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Arifin Zain yang dikonformasi Sabtu (31/3) siang mengakui, ia baru mendapat kabar adanya kegiatan tersebut Sabtu pagi. “Saya baru mendapat kabar pukul setengah delapan pagi (Sabtu),” katanya.

Dalam hal ini, dia mengakui adanya miskomunikasi. Seharusnya, kata Arifin, pihak penyelenggara bisa memberi kabar beberapa hari sebelum acara.

“Kadang mahasiswa juga susah. Kalau mereka undangnya kemarin, paling kurang kita bisa minta maaf. Saya tidak bisa hadir karena keluarga saya sedang dirawat di rumah sakit,” ujar Arifin.

Riza Mulia, Ketua Bemaf Fakultas Dakwah mengakui adanya miskomunikasi antara panitia dengan pihak fakultas.  “Kita memang tidak mengundang secara resmi, yaitu tidak memberi surat. Tapi kita mengabarkan secara lisan. Mungkin karena tidak resmi mereka tidak hadir,” katanya.

Fauzan, yang beberapa tahun terakhir ini mengajar mata kuliah perfilman di Fakultas Dakwah menyarankan, seharusnya acara seperti ini bisa diadakan setiap bulannya. Selaku Fakultas yang ada Jurusan Komunikasi dan Jurnalistik, Dakwah diharapkan bisa mengembangkan bakat mahasiswa di perfilman.

“Seharusnya di dakwah sudah harus ada lab film. Ke depan mungkin mahasiswa bisa mempresentasikan skripsi melalui film,” sarannya.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Bemaf Dakwah, bekerjasama dengan Lamp On Aceh Film Community, dan Ragam Community. [mdl/cde]

Komentar