Ahmad Arif dan istrinya
Ahmad Arif dan istrinya Riski Sopya di sela-sela acara Mibara. FOTO: Dok Ruman

Sembilan impian berbagi kepada orang lain dicetusnya saat kuliah di Jakarta. Kini sebagiannya sudah terwujud di Aceh dengan dukungan penuh sang istri.

Oleh Makmur Dimila

Rumah Baca Aneuk Nanggroe (Ruman) Aceh sejak dimulai pada 2007 hingga kini menghasilkan delapan kegiatan pelayanan sosial secara gratis. Kontribusi itu mengantarkan Ruman wakili Aceh pada ajang Anugerah Pilar Sosial Kemensos RI ke Jakarta, 16 – 18 Agustus 2015.

Ahmad Arif, Direktur Ruman Aceh, tak menganggap ajang itu bagian dari kesuksesannya, melainkan bonus atas kerja sosial tim Ruman selama ini. Namun kepada Pikiran Merdeka, 10 Februari 2016, mengungkapkan, keberhasilan lembaga pendidikan itu tak terlepas dari mimpinya saat kuliah di Jurusan Muamalah Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Suatu hari di tahun 2003 ketika semester enam, ia mengikuti bedah buku Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan, karya Marwah Daud Ibrahim. Pulang ke kos, di kamar yang berukuran 2 x 3 meter, ditulisnya sembilan impian yang harus diwujudkannya begitu selesai kuliah.

Beberapa di antara impian-impian itu dilatarbelakangi oleh realita dirinya yang mendapat bantuan biaya pendidikan selama kuliah di UIN Syarif Hidayatullah semenjak semester tiga. Kemudian juga sejalan dengan tantangan yang dilontarkan seniornya dalam suatu pertemuan beberapa mahasiswa Aceh yang sedang studi di Jabodetabek, Maret 2004, “sebagai pemuda Aceh, apa sumbangsih kita untuk kampung halaman?”

Dari pertemuan itu, mereka kemudian bersilaturrahmi dengan tokoh-tokoh Aceh di Jabodetabek. Tak lama, Agustus, didirikan Peace (Peduli Pendidikan Anak Aceh) Foundation yang sejatinya bermakna “damai”, untuk membantu pendidikan Aceh yang tengah terpuruk akibat konflik bersenjata.

Arif dipercayakan sebagai Wakil Direktur Peace. Mereka gelar roadshow di beberapa kota. Berupaya menyamakan persepsi dengan tokoh-tokoh Aceh di wilayah Jabodetabek. Namun tsunami melenyapkan Aceh pada Desember.

Bimbel Ruman Aceh
Kegiatan Bimbel di Ruman Aceh. FOTO: Makmur Dimila/Pikiran Merdeka

Peace dituntut bergerak cepat saat akses ke Serambi Mekkah justru tersumbat. Disepakati, semua anggota Peace dipersilakan jalin komunikasi, sehingga siapapun bisa ke Aceh secepatnya.

Alumni pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan itu dapat link di malam hari ketiga pascatsunami. Tak disangka ia ditelepon Sekretaris Pribadi Wapres Jusuf Kalla atas nama IMAPA. Bahwa esok pagi ada pesawat berangkat ke Aceh dan subuh harus sudah di Bandara Halim Perdanakusuma.

Arif memutuskan berangkat, meski ada tiga mata kuliah yang belum diperbaikinya juga skripsi. Di Aceh, ia mendapati kondisi yang tak mungkin untuk mengerjakan strategi yang telah disusun. Ia harus ikut arus dan menjadi relawan.

Bermodal penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, Arif sering dampingi relawan asing. Impiannya membantu orang lain perlahan terwujud. Hingga ia diupah oleh Lembaga Kemanusiaan Nasional Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Aceh per 31 Desember 2004 sebagai staf Humas. Setelah 6 bulan, ia keluar.

Arif lantas bergabung di program Children Center-nya Dinas Sosial Aceh. Usai setengah tahun, ia keluar. Lalu ia gabung ke Qatar Charity Indonesia Cabang Aceh, dengan mimpi-mimpi 2003 yang masih tertanam di kepala.

KEKUATAN SEORANG ISTRI

Minggu Baca Rame-rame
Suasana Mibara digelar di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh. FOTO: Dok Ruman

Akhir Februari 2005, Arif diperkenalkan dengan seorang perempuan Banda Aceh, oleh ustadnya, yang merupakan santri dari istri ustadnya. Usaha mengakhiri masa lajang itu imbas dari tawaran Kerajaan Malaysia kepadanya untuk membantu mereka galang bantuan tsunami Aceh di Kuala Lumpur, dengan syarat ia harus sudah menikah.

Sempat ditolaknya tawaran itu. Tapi Pihak Kerajaan Malaysia tak terima, karena anggap Arif orang yang tepat setelah mereka didampingi pemuda kelahiran 1981 itu saat turun ke Aceh sebelumnya.

Riski Sopya, perempuan itu, selepas SMA ingin menikah tapi kemudian beberapa calon yang mampir belum masuk kategori yang tepat, kecuali Ahmad Arif. Keduanya ketika pertama jumpa, merasa seperti sudah kenal lama.

“Lucunya, nikah jadi, ke Malaysia tidak jadi,” tawa Arif meledak di base camp baru Ruman Aceh, di Jalan Unida Gampong Punge Blang Cut, Banda Aceh.

Keduanya menikah pada 4 Maret 2005. Arif harus berangkat ke Malaysia paling telat 10 Maret. Sementara paspornya tak siap enam hari dengan kondisi Aceh yang sedang berantakan. Ia akhirnya berbulan madu di Aceh.

Arif yakin Riski pasangan sangat tepat dengan mimpi sosialnya. Bahkan sang istri tak persoalkan statusnya yang masih mahasiswa. Hanya, kekhawatiran itu datang dari keluarga istrinya.

Akhir 2006, Arif balik ke Jakarta untuk urus surat pindah kuliah ke IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN Ar-Raniry). Ia ingin rampungkan S1 di tanah lahir. Selama 2005 ia mendapat nonaktif dua semester berturut-turut, sebagai apresiasi dari kampus atas kontribusi sosialnya. Setelah sebulan pertama pascatsunami di Aceh, Arif sempat balik ke Jakarta untuk minta izin nonaktif; sebab tiga hari di ibu kota, ia sudah dihubungi beberapa donatur yang ia dampingi di Aceh.

Saat itu Direktur Qatar Charity Indonesia – Aceh, izinkan Ahmad Arif untuk menyelesaikan kuliah di Aceh, akan disesuaikan dengan jadwal kerja. Mendaftar untuk pindah, Arif diterima dengan welcome oleh Prof Yusni Sabi, rektor IAIN saat itu. Ia dijanjikan cukup melanjutkan apa yang belum selesai di Jakarta.

Sesaat Arif senang sekali. Namun ketika surat pindah masuk pada awal 2007, rektor IAIN Ar-Raniry sudah berubah. Berganti pula kebijakan. Status kemahasiswaannya turun dari universitas ke institut, hingga ia diwajibkan mengikuti muatan lokal yang punya tiga level sementara di Jakarta cuma dua. Sehingga ketika ia ambil jadwal, muncul 3 mata kuliah ditambah 9 mata kuliah muatan lokal tersebut. Belajarnya Senin – Jumat, pagi sampai sore.

“Begitu saya perlihatkan jadwal itu ke direktur, dia tertawa sambil bilang ‘Arif… Arif. Kamu pilihlah (antara kuliah dan kerja),” tutur pria kelahiran Kutacane ini.

Disitulah Arif bergulat luar biasa dengan kehidupan. Sejatinya ia bercita-cita menjadi akademis. Tapi realita berkata lain. Ia berdamai dengan takdir. Dan memutuskan berhenti total dari jalur perkuliahan, fokus bekerja di Qatar Charity dengan kelebihannya menguasai dua bahasa internasional.

Ruman Piagam Anugerah Pilar Sosial
Ahmad Arif dengan Piagam Anugerah Pilar Sosial yang diberikan ke Ruman Aceh oleh Kemensos RI, 2015. FOTO: Makmur Dimila/Pikiran Merdeka

Usahanya kembali ke Jakarta saat itu memang tak membawa gelar sarjana, tapi ia bawa pulang 3.000 buku dan 1.000 majalah dan jurnal—hasil koleksi pribadi dan sumbangan kawan-kawan setelah diungkapkan cita-citanya membuat rumah baca.

Ditaruh di rumahnya yang tipe 36, koleksi bacaan itu tak muat dalam dua lemari ukuran 3 x 3. Lantas dibiarkan bertumpuk-tumpuk hingga Januari 2007 dibuka untuk umum. Saat itulah cikal-bakalnya lahir Ruman Aceh.

Nama untuk komunitas kemudian terlintas spontan, saat mengurus proposal pembangunan fisik base camp Ruman. Tak ada kajian filosofis soal nama dan logonya. “Kami baru tahu makna ruman itu empat bulan terakhir, yang dalam Bahasa Aceh artinya wajah,” ia terkekeh.

Arif mengaku istrinya berperan lebih besar dalam menggerakkan Ruman Aceh. Bahkan ujarnya, “motor penggerak Ruman sesugguhnya adalah istri saya, saya hanya pelengkap penderita,” lalu terkekeh.

Istrinya mengelola 8 program yang sudah dijalani dan mengawal para relawan Ruman, sedangkan ia hanya tangani urusan buku dan hubungan luar. Dengan kata lain, “saya menanam Ruman, istri saya yang merawatnya.”[]

Diterbitkan di Rubrik INSPIRASI Tabloid Pikiran Merdeka edisi 111 (15-21 Februari 2016).

Komentar