Safrizal: Huntara Rampung 26 Persen, Angka Pengungsi Menurun

safrizal za
Kepala Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Aceh, Safrizal ZA. [Ist]

PM, Banda Aceh – Kepala Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Aceh, Safrizal ZA menyatakan pemerintah telah menyelesaikan pembangunan 4.401 unit hunian sementara (huntara) di seluruh Aceh.

Huntara tersebut kini tersebar di berbagai kabupaten/kota terdampak. Kabupaten Aceh Utara menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yakni 1.015 unit, kemudian Kabupaten Aceh Tamiang 1.000 unit, Kabupaten Gayo Lues 530 unit, Kabupaten Aceh Timur 529 unit, dan Kabupaten Bener Meriah 455 unit.

Selanjutnya Kabupaten Pidie Jaya 410 unit, Kabupaten Aceh Tengah 300 unit, Kabupaten Nagan Raya 70 unit, Kota Lhokseumawe 50 unit, Kabupaten Pidie 12 unit, dan Kota Langsa 30 unit.

“Sudah rampung 26% dari jumlah keseluruhan yang saat ini sedang dan akan terus dibangun sebanyak 15.956 unit. Kita akan terus kebut dan percepat,” ujar Safrizal.

Menurutnya, bertambahnya jumlah huntara tersebut turut mengurangi angka pengungsi yang mendiami tenda-tenda darurat.

Laporan Posko Transisi mengklaim, jumlah pengungsi di Aceh terus menurun signifikan dan saat ini masih terdapat 74.120 atau 19.019 kepala keluarga yang masih tersebar di 986 titik pengungsian di 10 kabupaten/kota.

Di sisi ekonomi, ia mengatakan, 465 pasar rakyat di Aceh telah kembali aktif. Selain itu, 641 rumah ibadah telah kembali difungsikan.

Untuk sektor pembersihan lumpur, informasi dari PUPR mengungkapkan, dari 235 lokasi sasaran pembersihan di Aceh, sebanyak 129 lokasi telah selesai ditangani, sementara 106 lokasi lainnya masih dalam proses.

Pembersihan ini menjadi fondasi penting untuk memulihkan permukiman, fasilitas umum, dan aktivitas ekonomi warga, termasuk Komplek Kantor Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang yang sudah siap digunakan setelah sebelumnya terkena dampak yang parah.

Sementara dari aspek kesehatan, tercatat 146 fasilitas kesehatan di Aceh terdampak bencana namun tetap operasional. Dua puskesmas menjalankan pelayanan di luar gedung, yakni Puskesmas Lokop di Aceh Timur dan Puskesmas Jambur Lak Lak di Aceh Tenggara.

Selain itu, sektor pendidikan juga terdampak mencapai 1.204 fasilitas pendidikan, namun proses belajar mengajar terus diupayakan tetap berjalan. Sedangkan dari sisi infrastruktur dasar, pembangunan sarana air bersih dan sanitasi terus dikebut.

“Di Aceh, 614 sumur bor telah selesai dibangun, satu unit masih dalam proses, dan empat unit dalam tahap persiapan,” ujar Safrizal. []

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait