WhatsApp Image 2020 11 23 at 16 12 28 1
Seorang mahasiswi menjalani prosesi wisuda di Gedung Auditorium Ali Hasjmy, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (23/11/2020). (Dok. Humas UIN)

PM, Banda Aceh – Senin pagi (23/11/2020), Riska Munawarah baru selesai bersolek dan mengenakan kebaya. Di sampingnya selembar toga sudah dilipat dengan rapi, siap untuk dipakai hari ini. Selepas bersolek, Riska lalu mengambil masker untuk menutup wajahnya yang semringah, dilengkapi face shield dan sarung tangan karet.

Riska lega, akhirnya dapat menuntaskan kuliah di Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia mengakui, prosesi wisuda kali ini sangat berbeda dibandingkan tahun sebelumnya, karena digelar di tengah situasi pandemi Covid-19.

Di UIN Ar-Raniry, wisuda dibuat dengan dua metode, yaitu secara luring (luar jaringan) dan daring (dalam jaringan). Mahasiswa diberi kebebasan memilih proses wisuda mana pun selama mematuhi rangkaian protokol kesehatan.

“Ini kan momen yang ditunggu-tunggu ya. Jadi lebih memilih merasakan wisuda secara langsung, sehingga bisa merasakan euforia wisuda meskipun saat pandemi,” kata Riska kepada Pikiran Merdeka.

Saat pandemi pula, Riska bersama rekan-rekannya terpaksa diwisuda tanpa didampingi orang tua mereka.

Persyaratan wisuda tahun ini terlampir dalam Surat Edaran Rektor Nomor 7880/Un.08/WR.1/PP.00.9/11/2020 tentang Pelaksanaan Wisuda Sarjana dan Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021.

Dalam surat itu, disebutkan beberapa syarat wisuda online dan offline, di antaranya, para wisudawan/wisudawati yang mengikuti wisuda offline harus melakukan rapid test dari institusi terkait, tepatnya dua hari sebelum wisuda. Peserta juga tidak boleh mengikutsertakan pendamping atau orang tua. Mereka juga wajib melaksanakan protokol kesehatan.

WhatsApp Image 2020 11 23 at 16 12 28
Acara wisuda di kampus UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Senin (23/11/2020). (Dok. Humas)

Perbedaan paling kentara di wisuda kali ini juga terlihat dari aturan yang melarang peserta memasang dan mengirim papan bunga. Mereka bahkan juga dilarang foto bersama di dalam maupun di luar gedung wisuda, serta wajib menghindari kerumunan dalam area kampus.

Berbeda dengan Riska, Maghfirah justru memilih wisuda secara daring. Mahasiswa terbaik dengan Index Prestasi Kumulatif (IPK) 3.90 ini merupakan lulusan Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

Nama Maghfirah sempat disebut sebagai mahasiswa terbaik oleh pembawa acara wisuda di Auditorium Ali Hasymi, didengar oleh ratusan wisudawan yang hadir secara tatap muka.

Kendati bangga dengan capaian tersebut, ia sempat khawatir wisuda di perguruan tinggi yang sering dijuluki ‘kampus biru’ ini, bakal ditiadakan akibat pandemi.

“Sempat khawatir, karena lama sekali jarak antara sidang sama wisuda. Kirain bakal dibuat pas selesai pandemi atau nggak dibuat sama sekali. Cuma ngikutin aja alurnya dan Alhamdulillah dibuat ternyata di bulan 11 ini,” kata Maghfirah.

Dari rumahnya di Lambhuk, Banda Aceh, Maghfirah didampingi keluarganya sudah bersiap di depan laptop sejak pukul 07.30 WIB.

Meskipun jarak kampus dan rumahnya terbilang cukup dekat, putri kedua dari pasangan Usman dan Nur Aji itu lebih memilih wisuda secara daring lantaran dapat disaksikan oleh orang tua.

“Biar lebih dekat aja sama keluarga. Karena kan momen bahagia, jadi pengennya bisa merayakan bersama keluarga langsung. Orang tua juga bisa lihat langsung prosesnya,” ujarnya.

Cerita lainnya datang dari Syarifuddin, wisudawan lulusan Ilmu Hukum, asal Nagan Raya, Aceh Barat. Pagi itu, orang tua Syarif baru saja tiba dari Nagan khusus untuk menghadiri wisudanya.

Meskipun tidak dibenarkan untuk mendampingi wisudawan, orang tua Syarif bersikeras ingin menghadiri wisuda putra pertamanya itu dari luar gedung dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

“Sebagai anak pertama, ini merupakan momen yang sangat ditunggu oleh keluarga besar, menanti dan melihat anaknya yang sudah lulus dari bangku kuliah,” kata Syarif.

Ia juga bercerita, orang tuanya sempat sedih lantaran tidak bisa melihat anaknya naik ke atas panggung. Namun demikian, Syarif berusaha untuk memberi penjelasan.

“Tentunya sedih, karena anak pertama, orang tua mau lihat anaknya naik ke atas panggung. Namun, saya juga beri penjelasan yang positif, dan pastinya ini juga untuk kebaikan bersama,” ujarnya.

Tetap Berlangsung Khidmat

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Warul Walidin di sela-sela proses wisuda mengatakan, pelaksanaan wisuda kali ini memang berbeda dengan wisuda sebelumnya karena kondisi pandemi Covid-19 yang belum berakhir.

WhatsApp Image 2020 11 23 at 15 49 05
Ratusan lebih wisudawan memenuhi Gedung Auditorium Ali Hasjmy. Senin (23/11/2020). Kegiatan tetap menaati protokol kesehatan. (Foto/Cut Salma)

Namun, kata Warul, walaupun berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, prosesi wisuda berjalan dengan lancar dan penuh khidmat meski para orang tua masing-masing wisudawan tidak bisa mendampingi bagi yang memilih sistem luring (offline).

“Tempat duduk para wisudawan juga diberi jarak satu meter, selain itu untuk tahun ini yang hadir hanya para mahasiswa yang diwisuda tanpa didampingi orang tua maupun keluarga,” katanya.

Wisuda tahun ini berlangsung selama tiga hari. Ada sedikitnya 903 mahasiswa yang diwisuda secara luring, sementara 474 orang mengikuti prosesi tersebut melalui daring.

Bersamaan dengan UIN Ar-Raniry, Universitas Syiah Kuala kabarnya juga akan melangsungkan wisuda pada hari Selasa (24/11/2020) secara luring dan daring.

Berbeda dengan UIN, wisuda luring di Unsyiah hanya dihadiri oleh dua orang perwakilan mahasiswa terbaik dari setiap fakultas. Setiap perwakilan mahasiswa yang berasal dari luar Banda Aceh juga diharuskan melakukan uji swab terlebih dahulu.

“Di Unsyiah cuma mahasiswa terbaik dari tiap fakultas aja yang luring, selebihnya daring semua. Itu juga harus swab dulu yang mahasiswa terbaik dari luar daerah,” kata Sri Atina Putri, salah satu calon wisudawan Program Studi Kimia, Fakultas MIPA Unsyiah.


Reporter: Cut Salma

Komentar