Ilustrasi. (synaoo.com)

Dikisahkan bahwa seseorang datang menasihati khalifah al-Makmun dengan cara yang lantang dan tidak santun. Khalifah lalu menimpalinya.

“Orang yang lebih baik darimu pernah datang memberi peringatan kepada orang yang lebih buruk dariku. Sesungguhnya Nabi Musa dan Nabi Harun Alaihissalam diutus Allah kepada Fir’aun dengan seruan, ‘Maka berkatalah kepadanya (Fir’aun) dengan qaulan layyinan (ucapan yang lembut).'” (QS Taha [20]: 44).

Nasihat dalam hidup ini sangat diperlukan. Dengan nasihat, seseorang bisa mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan, apa kekurangan, dan bagaimana seharusnya.

Seseorang membutuhkan saran dari orang lain agar menjadi lebih baik. Sebab, manusia tidak bisa melakukan apa pun sendiri, melainkan butuh nasihat, saran, atau masukan dari orang lain.

Dalam menasihati seseorang hendaklah memilih bahasa yang santun dan lembut. Sering kali orang menggunakan kalimat yang tidak tepat lagi berintonasi tinggi dalam menegur orang lain. Hal ini tentu memberi kesan tidak baik. Menasihati berbeda dengan marah-marah meski tujuannya kadang sama.

Nasihat dengan menggunakan bahasa yang kasar dan terkesan menantang tidak akan mudah diterima oleh orang yang dinasihati meski kesalahannya itu nyata dan benar adanya.

Kesantunan berbahasa dan kearifan sikap sangat berpengaruh diterima atau tidaknya nasihat itu. Jadi, pemberi nasihat harus cerdas memilah dan memilih bahasa yang tepat.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziah menyebut perbedaan antara menasihati dan mempermalukan. Menurut beliau, menasihati itu berlaku adil dan ihsan kepada yang dinasihati, menampakkan kasih sayang kepadanya, tidak sudi melihat saudaranya melakukan kesalahan.

Niatnya hanya mencari keridhaan Allah. Dia berlaku layaknya seorang dokter yang mengetahui sakit pasiennya lalu menentukan obat yang tepat agar pasien lekas sembuh.

Adapun mempermalukan seseorang itu niatnya mengubah sambil menghinakan, mencela orang yang diperingatinya.

Celaannya berbentuk nasihat. Dia berkata padanya, “Hai engkau, mengapa berbuat begini begitu? Hai, celaka engkau, tercelalah dirimu,” sambil pura-pura menasihati.

Di antara adab memberi nasihat, hendaklah ketika menasihati ia dalam keadaan sendirian. Sebab, barang siapa yang menutupi kesalahan saudaranya, Allah akan menutupi kekurangannya di dunia akhirat.

Ini perkara sulit karena semua menyadari jika menasihati di hadapan banyak orang maka pemberi nasihat akan terlihat pintar, arif, dan ahli, tetapi orang yang dinasihati tentu merasakan hal berbeda. Dia pasti merasa malu, tidak enak, bahkan dongkol.

Berkata Imam as-Syafi’i, “Barang siapa menasihati saudaranya secara rahasia, maka ia telah benar-benar menasihatinya dan memuliakannya. Dan siapa yang menasihatinya secara terang-terangan, maka ia telah menistakan dan memalukannya.”

Seseorang itu harus siap dipuji dan sebaliknya siap diberi masukan atau dikritik. Bila pujian itu sering subjektif dengan menyebut kebaikan yang kadang dilebih-lebihkan, teguran atau kritikan itu adalah menyampaikan kekurangannya, kesalahannya, baik sikap maupun tata cara. Dengan itu dia bisa memperbaiki diri.

Demikianlah, menasihati itu adalah anjuran agama dan bagian dari amar makruf nahi mungkar. Kepedulian seseorang dengan datang menasihati saudaranya menandakan kasih sayang.

Kesiapan menerima masukan adalah tanda kebesaran hati dan jiwa penerima nasihat. Bahkan, ia pun akan berdoa, “Semoga Allah merahmati dan membalasmu dengan kebaikan karena nasihatmu padaku menunjukkan kekuranganku.”

Sumber: Republika, Oleh: TGH Habib Ziadi

Komentar