IMG 20210105 111923
Gerbang Tol Sibanceh. (Foto/Bisnis)

PM, Jakarta – Emiten konstruksi BUMN, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menerima realisasi pembayaran kedua untuk pekerjaan proyek Jalan Tol Banda Aceh-Sigli senilai Rp 0,5 triliun atau Rp 500 miliar (termasuk pajak) dari PT Hutama Karya (Persero) pada 30 Desember 2020 lalu.

“Secara keseluruhan ADHI telah menerima pembayaran atas pembangunan Jalan Tol Banda Aceh-Sigli senilai Rp 2,0 triliun (termasuk pajak),” tulis manajemen ADHI, dalam keterbukaan informasi BEI, Senin (4/1/2021) melansir CNBC.

Untuk diketahui, sampai dengan 25 November 2020, progres pelaksanaan pembangunan tol tersebut telah mencapai 61,9 persen.

Adapun rincian progres pada setiap seksi, yaitu Seksi 1 (Panjang 26,5 KM) 30,3 persen, Seksi 2 (Panjang 8,6 KM) 62,3 persen, Seksi 3 (Panjang 13,6 KM) 99,3 persen, Seksi 4 (Panjang 14,0 KM) 100,0 persen, Seksi 5 (Panjang 7,6 KM) 24,2, dan Seksi 6 (Panjang 3,9 KM) 47,6 persen.

Baca juga Tol Pertama di Aceh Siap Beroperasi

Di saat yang sama, ADHI juga telah menerima realisasi pembayaran ketujuh untuk pekerjaan proyek LRT Jabodebek Fase I senilai Rp 1,1 triliun (termasuk pajak) dari Pemerintah melalui PT Kereta Api Indonesia.

Optimis Soal Perolehan Kontrak Baru

Tahun 2021, ADHI optimistis perolehan kontrak baru akan tumbuh di kisaran 15-20 persen. Hal ini, didorong dengan masih besarnya alokasi anggaran pemerintah untuk pembiayaan infrastruktur di tahun depan mencapai Rp 414 triliun, anggaran untuk infrastruktur tersebut naik 47 persen.

Direktur Utama Adhi Karya, Enthus Asnawi mengatakan, ekonomi tahun depan diperkirakan akan pulih seiring dengan adanya kejelasan mengenai vaksinasi untuk mengendalikan pandemi Covid-19.

“Prediksi kami tahun depan itu, program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) dari pemerintah jalan terus, budget infra juga besar. Saya kira, kita optimis bisa tumbuh,” kata Enthus, pada 15 Desember 2020 lalu.

Mengacu materi paparan publik yang disampaikan ADHI, perolehan kontrak baru sampai dengan November 2020 sudah mencapai Rp 17,3 triliun. Hampir 95 persen proyek tersebut adalah dari proyek konstruksi dan energi, 5 persen dari properti dan lainnya.

Sedangkan, dari sisi jenis proyek yang dikerjakan, 62 persen adalah pembangunan jalan, 16 persen proyek konstruksi bangunan, 14 persen masuk dalam kategori lainnya seperti proyek irigasi, pipa gas residensial. Sedangkan, 8 persen merupakan proyek MRT.

“Seperti tahun ini omzet kontrak yang diraih ADHI Rp 18 triliun. Jika dibandingkan 2019 ini juga di atasnya, tumbuh kurang lebih 40 persen,” ujarnya.

Meski demikian, dari sisi kinerja, sampai dengan kuartal ketiga tahun ini, dari sisi perolehan laba bersih ADHI memang masih tertekan.

Laba bersih ADHI turun 95,6 persen secara tahunan menjadi Rp 15,6 miliar. Penurunan ini sejalan dengan anjloknya pendapatan sebesar 5,4 persen secara tahunan menjadi Rp 8,5 triliun pada September 2020. Sedangkan laba kotor, turun 17,7 persen secara tahunan menjadi Rp 1,1 triliun.


Sumber: CNBC Indonesia

Komentar