SEKOLAH itu bernama Madrasah Ahmadiyah Islamiah. Tak perlu khawatir dengan kata “Ahmadiyah” yang tersemat pada nama sekolah ini. Sekolah tingkat rendah ini digagas oleh seorang ulama Melayu masa lalu, Ahmad bin Haji Usman. Itu sebab, sekolah ini diberi nama Ahmadiyah, yang diambil dari nama penggagasnya.

Oleh karena itu, kata “Ahmadiyah” pada sekolah ini sama sekali tak ada sangkut paut dengan kelompok Mirza Ghulam Ahmad. Letak sekolah ini di sebuah kampung bernama Yingo—ada juga yang menyebutnya Jeringo–Provinsi Narathiwat, selatan Thailand. Orang-orang selatan Thailand mengenal sekolah ini dengan nama Sala Anak Ayam.

Tidak ada ciri khusus yang membedakan sekolah ini dengan sekolah-sekolah umumnya di Indonesia. Ruang belajar hanya berupa bilik-bilik sederhana dari papan. Hanya saja, di sini ada asrama bagi murid-murid sekolah. Kesannya, seperti pondok pesantren. Mungkin karena itu, mereka menyebutnya dengan madrasah.

“Sekolah ini dulunya memang pondok (bahasa Aceh: dayah). Baru resmi menjadi sekolah dan mendapat pengakuan kerajaan Thailand sekitar 60 tahun lalu,” ujar Ustaz Lutfee H. Samae, pimpinan Madrasah Ahmadiyah Islamiah Salam Anak Ayam.

Hal yang sangat menarik, di sekolah ini tersimpan ratusan manuskrip kuno peninggalan masa lalu. Manuskrip-manuskrip itu sebagian besar masih berupa tulisan tangan. Naskah tempoe doeloe ini berasal dari berbagai negara. Ada dari Yaman, Arab Saudi, Turky, Mesir, Mindanao (Filipina), dan sebagian besar dari Indonesia.

Usia naskah-naskah itu berkisar 250-470 tahun. Pengakuan Lutfee, dari semua manuskrip yang ada, tiga puluh persen berasal dari Aceh. Selebihnya dari berbagai daerah lain.

Sontak saja saya terkejut sekaligus takjub. Pena di tangan kanan yang saya gunakan untuk mencatat hasil interview bersama Ustaz Lutfee sempat jatuh, begitu mendengar 30 persen naskah kuno di sekolah ini berasal dari Aceh. Selama ini, saya hanya mengetahui bahwa manuskrip tentang Aceh hanyak banyak terdapat di perpustakaan Belanda.

Nyatanya, “sejarah Aceh” juga banyak tersimpan di selatan Thailand ini. Tentu saja pikiran saya langsung melayang pada sejarah masa silam, tentang sesosok ulama dari Pasai. Syeh Said, begitu orang-orang Patani menyebut namanya. Syeh asal Pasai, Aceh, itu dianggap sebagai pembawa Islam ke selatan Thailand. Hal ini termaktub dalam buku sejarah Patani.

Kembali pada manuskrip kuno di Sala Anak Ayam. Bukan hanya naskah dari Aceh, beberapa manuskrip Jawa juga masih tersimpan di sekolah ini. Naskah-naskah itu masih ditulis dalam bahasa Melayu Jawi langgam lama. Beberapa di antaranya ada yang dilengkapi corak wayang golek. Ada juga kesan motif pinto Aceh.

Lutfee sendiri mengaku tidak semua isi naskah ia pahami. Apalagi, kata dia, ada yang masih aksara palawi, ada yang kentara dialek Jawa, dialek Aceh, dan mungkin dialek bahasa lain di Nusantara. Sebagai orang yang dipercaya memimpin sekolah tersebut, Lutfee hanya berusaha menjaga semua manuskrip itu dengan rapi dan aman.

“Sudah lama naskah ini tersimpan di gudang tanpa disentuh. Alhamdulilah Januari 2014 sekolah kami dapat membuat Pameran Kesenian Islam (PKI). Untuk pertama kalinya, naskah-naskah ini kami keluarkan dalam pameran,” tuturnya.

Sejak pameran sederhana Januari 2014 itu, rencananya, sekolah ini akan melakukan kegiatan yang sama setiap tahun. Tujuannya, agar naskah tempoe doeloe ini dikenal oleh setiap generasi. Lutfee merasa tidak berkepentingan apa pun terhadap naskah itu, kecuali menjaganya sebagai bentuk warisan terdahulu.

“Ini Pameran Kesenian Islam I (pertama) kami adakan. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini akan berlanjut tiap tahun sehingga generasi penerus tahu bahwa naskah-naskah ini punya nilai sejarah yang tinggi,” ujar Lutfee. [bersambung…]

Catatan ini merupakan pengalaman penulis setahun silam, saat masih menjadi dosen di Fatoni Universty.

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh