Jakarta—Lelucon dan kelakar adalah bagian dari diri manusia, yang mungkin tidak bisa dipisahkan. Sejarah mencatat, tokoh-tokoh besar yang dilahirkan oleh sejarah juga tidak lepas dari lelucon, artinya mereka bisa juga bercanda.

Namun apa jadinya bila kelakar itu disampaikan bukan di waktu dan tempat yang tepat. Bisa jadi kelakar itu menjadi garing. Dan apa pula jadinya bila kelakar itu disampaikan oleh pejabat publik, yang lisan dan ucapannya, selain bisa dipercaya orang, juga bisa menghakimi orang. Ini bukan hanya lelucon yang tak lucu, melainkan juga bisa sangat membahayakan.

Inilah yang terjadi pada diri Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Bambang Widjojanto. Pada Selasa lalu (7/8), dalam sebuah diskusi, Bambang mengatakan akan ada menteri yang menjadi tersangka. Karena ucapan pimpinan KPK selama ini dianggap tuah, publik pun ribut dan menduga-duga.

Paling tidak, publik mencari tahu, atau minimal bertanya dalam hati, siapa menteri yang dimaksud. Beberapa menteri yang selama ini disebut-sebut dalam sejumlah kasus pun masuk dalam invetarisasi benak sementara kalangan. Misalnya saja, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng yang disebut-sebut dalam kasus wisma atlet dan Hambalang, serta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar yang disebut-sebut dalam kasus dana Percepatan Infrastruktur Daerah Transmigrasi (DPIDT).

Ada juga yang menduga menteri yang dimaksud adalah Menko Kesra Agung Laksono yang disebut-sebut dalam kasus PON Riau dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa yang disebut-sebut saat menjadi Menteri Perhubungan terlibat kasus kereta hibah dari Jepang. Belakangan, Menteri Agama Suryadharma Ali juga berada dalam dugaan benak publik karena disebut-sebut dalam kasus korupsi Al Quran.

Di saat publik menduga, ucapan ini pun sudah sampai ke Istana. Meskipun memang belum ada tanggapan sama sekali dari Presiden SBY. Atau dalam bahasa Jurubicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha, ucapan pimpinan KPK ini belum layak dikomentari karena belum ada yang benar-benar jadi tersangka.

Tapi intinya, publik menjadi geger gara-gara ucapan Bambang ini.

Belakangan, Bambang meralat omongannya. Sebagaimana disampaikan dalam sebuah media, Bambang mengatakan bahwa ucapannya itu adalah kelakar menanggapi tantangan dari Wakil Ketua DPR, Pramono Anung. Bambang pun, selain mengucapkan istighfar berkali-kali, juga memastikan tidak ada menteri yang akan jadi tersangka dalam waktu enam bulan ini. “Astaghfirullah. Nggak ada menteri jadi tersangka,” ungkap Bambang, ketika dikonfirmasi soal ucapan sebelumnya.

Kira-kira, apakah kelakar Bambang ini wajar atau keterlaluan?

Atau bila menggunakan paradigma kecurigaan dengan altar motif yang dikembangkan oleh Karl Mark (motif material), Sigmund Freud (motif psikologis) dan Friedrich Nietzsche (motif kekuasaan), apakah ada sesuatu yang disembunyikan Bambang. Artinya, Bambang awalnya memang tidak sedang berkelakar, namun karena ada sesuatu yang disembunyikan, akhirnya balik badan.

Tentu saja, bagaimanapun, untuk menghilangkan dan menutup kecurigaan yang wajar ini, Bambang harus mengklarifikasi kepada publik secara transparan, dan jujur. Dan tentu saja, dalam klarifikasi itu, Bambang juga tak perlu berkelakar lagi! [ysa/rmol]

Komentar