Para karyawan sedang mengemas cairan sabun ke dalam pouch plastik bermerk.

Banda Aceh – Tiga orang karyawan laki-laki tengah cekatan mengemas cairan sabun ke dalam pouch plastik bermerk. Lalu seorang dari mereka meletakkannya berderet ke mesin, yang secara otomatis merekatkan tutup bungkusan itu dengan rapi.

Di sekeliling ruangan seluas kurang lebih 2×3 meter ini, tampak beberapa drum. Isinya cairan hasil ekstraksi asam sunti. Namun, cairan itu sudah bercampur dengan beberapa komposisi lain. Aromanya pun tidak lagi seperti olahan belimbing wuluh yang jadi bumbu khas Aceh itu.

Rachmad Siregar, manajer PT Indoraya Karya Bangsa menyilakan kami mengintip aktifitas pengemasan sabun cuci Mak Rah Pireng, di Lhong Raya, Banda Aceh. Dalam ruangan sederhana itu pula, produk unik ini dihasilkan.

“Dari rutinitas ini, kami bisa mengemas 300-400 liter per hari ke dalam jirigen, botol, dan pouch,” kata Rachmad sambil mengamati kerja karyawannya itu, Senin (18/3/2019).

Sabun cuci Mak Rah Pireng bukan produk biasa. Formula ini andalan PT Indoraya Karya Bangsa, Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) di bawah bimbingan Inkubator Bisnis Universitas Syiah Kuala. Produknya mulai dikenal usai diganjar penghargaan dalam kompetisi produk inovatif dunia, ‘Leaders in Innovation Fellowship’ di London, Inggris pada Januari 2019 lalu.

Nama ‘Mak Rah Pireng’ sendiri tak lepas dari kesan yang terbangun dari peran domestik emak-emak.  Kata Rachmad, dari dulu sampai sekarang kaum ibu tak jauh dengan urusan dapur, termasuk mencuci piring.

“Dari rutinitas itu, kadang muncul ide kreatif dari ibu-ibu, salah satunya memanfaatkan asam sunti untuk mencuci,” imbuhnya.

Adalah anak muda Aceh lulusan salah satu Universitas di Berlin-Jerman, Nur Anindya bersama seorang lulusan Unsyiah, Zahrul Mirza yang menemukan formula tersebut. Ihwal khasiat lain dari asam sunti didapatnya dari tradisi endatu. Seperti tadi, asam sunti tak hanya jadi bumbu, tapi juga digunakan untuk membersihkan lemak pada peralatan masak.

Ia tak menyia-nyiakan potensi buah yang hanya tumbuh di kawasan tropis itu. Nur yakin, asam sunti bisa diolah lebih baik dan bernilai ekonomis. Disitulah muncul ide, mengolah asam sunti menjadi sabun cair.

Sejak itu produk Mak Rah Pireng dikembangkan. Sekira tiga tahun berselang, tepatnya September 2018 lalu, sabun cair ini mulai diproduksi besar-besaran. Kini, ada dua merk sabun yang dijual: Mak Rah Pireng dan Super Sunti.

“Mak Rah Pireng dijual seharga Rp 50 ribu per jirigen (isi 5 liter). Sementara produk yang kedua, Super Sunti dijual Rp 35 ribu per jirigen. Kedua produk ini beda di kualitasnya. Mak Rah Pireng memang lebih bagus,” kata dia.

 

Bahan Baku dari Lubok Gapui

Di gampong Lubok Gapui, Aceh Besar, PT Indoraya meraup bahan mentah asam sunti yang kelak diekstraksi menjadi sabun Mak Rah Pireng. Berbekal informasi dari Unsyiah, PT Indoraya menyambangi gampong berlabel desa wisata di Aceh Besar itu.

Menyandang gelar desa wisata, tentunya gampong Lubuk Gapui dihuni oleh masyarakat yang sangat ramah. Mereka terbuka pada pendatang, terutama yang ingin bekerjasama mengembangkan ekonomi warga.

Kedekatan PT Indoraya dan Lubok Gapui menyimpan ceritanya sendiri. Dulunya, warga Lubok Gapui kerap menjual asam sunti ke para pengepul dengan harga murah.

“Memang desa itu sangat produktif, meski tak ada kebun khusus, tapi nyaris setiap rumah tumbuh satu dua batang belimbing wuluh,” kata Rachmad.

Namun kedatangan PT Indoraya membawa niat lebih. Mereka membeli olahan belimbing wuluh warga Lubok Gapui dengan harga yang lebih tinggi. Dengan ketentuan, ekstrak asam sunti yang dihasilkan telah memenuhi standar perusahaan.

“Kita tidak membeli dari agen, tapi langsung ke produsennya di gampong. Ini kan demi peningkatan pendapatan warga juga,” ujarnya.

Soal legalitas, Mak Rah Pireng juga sudah terjamin mutunya. Rachmad mengatakan, produk ini telah mengantongi sertifikat label dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bahkan ia mengklaim Mak Rah Pireng satu-satunya produk lokal Aceh yang menyabet label ini.

“Kita butuh waktu tujuh bulan untuk ngurus lebel itu, selain itu kita juga sudah ada label dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan),” cerita Rachmad.

 

Perhatian Pemerintah

Untuk mendistribusikan produknya, PT Indoraya masih memanfaatkan jasa agen di setiap daerah. Hanya di kota Banda Aceh saja yang bisa langsung disalurkan. Sementara di daerah, Mak Rah Pireng masih berupaya didistribusikan ke kawasan Singkil, Kutacane dan Subulussalam.

Namun, permintaan pasar kian meningkat. Rachmad mengaku kewalahan melayani permintaan dari luar Aceh, seperti Riau, Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Sejak melakukan promosi di Ibukota Jakarta, permintaan itu terus bermunculan.

“Namun kita terkendala pengiriman ke luar, mahal di biaya pengiriman, bahkan lebih mahal dari produk yang kita pasarkan. Kita kirim naik kargo, mereka minta per kilogram. Kalau satu kotak saja itu Rp80 ribu, mereka mau jual harga berapa disana, itu masih agak sulit. Tapi kita tetap pasang target,” ucapnya.

Selama produk Mak Rah Pireng menggeliat di pasar, ada harapan yang selalu disampaikan tidak hanya dari mereka, tapi mewakili aspirasi seluruh UMKM yang ada di Aceh. Mereka butuh perhatian lebih dari pemerintah.

“Perhatian pemerintah ada, cuma kita harap ya perlu ditingkatkan, sehingga UMKM Aceh bisa berkembang,” kata dia.

Secara terpisah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh, Raudhi memastikan pemerintah mendukung penuh kiprah usaha lokal yang tengah digagas di Aceh. Sudah ada beberapa produk yang telah mencapai tahap lanjut pengembangan perizinan di dinasnya.

“Kita hari ini melihat pengembangannya sudah sampai dimana, jika sudah masuk tahap harus dibesarkan (promosi) ya akan kita besarkan. Sudah banyak yang seperti ini, jika punya produk silakan urus HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) nya,” kata dia.

Namun, sebelum sampai ke tingkat provinsi, Raudhi mengarahkan agar pemerintah di tingkat daerah yang mewadahi pengembangan industri-industri kecil.  “Kita perlu koodinasi, umpamanya di tingkat kabupaten sudah menghasilakn satu produk, itu bakal diinformasikan ke kita.”

Terakhir ia meyakinkan bahwa keberpihakan pemerintah sudah jelas terhadap usahawan lokal. Dalam banyak kesempatan pun, lanjut Raudhi, Plt Gubernur Nova Iriansyah senantiasa mengimbau masyarakat agar menggunakan produk-produk lokal.

Dan yang terpenting, pesannya, UMKM lokal perlu terus menyesuaikan diri dengan tuntutan industri. Apalagi di era industri 4.0 ini, setiap orang dituntut untuk mampu berinovasi dengan memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produknya. “Pemerintah hanya memfasilitasi,” tandasnya.[]

Komentar